Kunjungan pertama

4 1 0
                                        

Matahari sudah mulai tenggelam.
Para anak-anak terus bermain hingga sore hari.

"Bubar! Bubar! Sudah sore. " Ucap salah satu orang tua yang datang untuk menjemput anaknya.

"Yay! Kita menang telak. " Adam merayakan kemenangannya bersama dengan teman satu tim-nya.

"Siap... Kita kalah telak. " Tim lawan merasa sedikit kesal karena kalah. Ada juga beberapa anak yang tidak peduli dengan menang kalah dan langsung pulang.

"Ah sudahlah, ini hanya permainan. " Ada seorang anak yang sebenarnya peduli tapi berusaha mengabaikannya.

"Oi, besok main lagi ya... Akan ku menangkan permainan besok. " Salah seorang anak meminta tanding ulang besok.

"Boleh... Tapi kami tetaplah yang akan memenangkan pertandingan. " Adam berbicara dengan percaya diri. Dia melihat ke bola di tanah. Berlari ke bola itu dan menendangnya dengan sekuat tenaga.

*Buk. "

Bola meluncur ke arah pohon.

*Boing. *

Bola memantul begitu menghantam pohon. Meluncur langsung ke arah Safira yang sedang mengobrol dengan anak perempuan lain.

"Awas! " Adam berteriak untuk memperingati Safira. Tapi terlambat. Bola segera menghantam bagian belakang kepala Safira.

*Puk! *

Safira segera jatuh setelah terkena bola.

"Aw. " Safira segera memegangi kepalanya.

Adam segera berlari mendekati Safira.

"Salifa, apakah kau tidak apa-apa? " Ayaka menanyakan kondisi Safira.

"Safira. Nama ku Safira... Dan tidak... Aduhh. Kepala dan lutut ku sakit. " Safira ganti memegangi lututnya.

"Hei! Siapa tadi yang menendang bola? " Ayaka bertanya sambil melihat ke arah Adam.

Adam menoleh kebelakang. Berusaha mencari pertolongan dari anak-anak laki-laki lainnya. Tapi sia-sia. Sudah tidak ada siapapun di belangnya. Semua sudah pulang.

Dasar pengkhianat. Adam merasa telah di khianati meskipun memang dia yang salah. Dia mulai berjalan secara perlahan-lahan ke arah Safira.

Semoga orang tua-nya tidak galak, semoga orang tua-nya tidak galak,
Semoga orang tua-nya tidak galak, semoga orang tua-nya tidak galak. Adam mulai berdoa di dalam hati-nya. Dia mendekati Safira. Berjongkok di sebelahnya.

"Safira, orang tua mu tidak pemarah, kan? " Adalah kalimat yang di tanyakan oleh Adam.

"Huh... Kenapa memangnya? " Safira dengan polosnya memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Maaf, lupakan saja... Di mana rumah mu? " Adam segera mengalihkan pembicaraan.

"Rumah ku? Di sana, di pusat kota. " Safira menunjuk ke arah tengah kota.

"Tengah kota! Lalu kenapa justru kau main ke sini? " Adam terlihat sedikit terkejut. Kota Lodes adalah kota yang luas. Jarak antara pinggir kota dan tengah kota cukuplah jauh. Jadi dia terkejut dengan Safira yang bermain hingga kemari.

"Aish... Dasar merepotkan. Apakah kau bisa jalan? " Adam bertanya.

"Biar ku coba. "

Safira mencoba untuk berdiri. Tapi dia segera terjatuh. Di tahan oleh Adam.

"Sepertinya tidak bisa ya. " Adam terlihat berpikir sebentar.

"Ya sudah, lebih baik kita obati saja dulu luka mu di rumah ku. Nanti aku akan meminta orang tua ku untuk mengantar mu. " Adam telah memutuskan apa yang perlu di lakukan selanjutnya.

Adam, The Hero ChallengerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang