Reminder : Cinta Perlu Bersabar diganti versi terbaru, jadi kalian tentu perlu membaca mulai chapter awal lagi karena bisa jadi tidak nyambung dengan yang lama. Bab baru yang ada tanda repost dan chapter tambahan ya.
---
Na, kalau kamu nggak bisa ditemuin begini, gimana Abang bisa mikir yang iya iya?
Aku pergi bukan tanpa alasan. Betapa kuat keinginan hati untuk menyatakan yang terpendam. Namun, terlampau takut akan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Yaitu melihat kecewa di matanya dan akhirnya kami akan menjadi canggung, karena salah satu dari kami tidak tahu harus bersikap bagaimana dan memilih menghindar.
Semalam dia datang ke rumah, tetapi lampu kamar sengaja kumatikan dan pagi-pagi sekali aku sudah pergi, walau tanpa tujuan karena hari ini mata kuliah pertama pukul dua siang.
Kamu nggak ada kelas pagi.
Dia mengirimiku pesan bertubi-tubi ketika tak satu pun panggilannya kujawab. Bang Ardan tentu tahu semua jadwalku bila masuk ke kamar dan melihat ke meja belajar. Dia sudah biasa mengecek jadwalku di sana.
Na, kalau ada apa-apa, sini bilang sama Abang. Kita kan udah pernah janji, buat saling ngasih tahu apa pun yang jadi ganjala hati.
Oh, dengan refleks aku mendengkus membacanya, bukan terhadap Bang Ardan, melainkan kepada diriku yang sudah tidak bisa lagi menjaga janji itu. Mau bagaimana? Mana mungkin dengan mudahnya aku berkata, Bang, aku mau cerita kalau lagi jatuh cinta sama seseorang yaitu Abang sendiri. Pasti lucu sekali.
Sekarang ini aku sedang duduk sendirian, di tengah banyaknya orang-orang yang datang berdua atau ramai-ramai. Di hutan kota, tidak jauh-jauh dari rumah memang, tetapi pakaianku cukup rapi untuk sekadar ke sini. Pikirku, mungkin saja nanti aku punya ide untuk pergi ke sebuah tempat sampai sebelum masuk kuliah.
Kar, kamu di kos?
Enggak, lagi di perpus kampus. Lo ke yayasan aja kalau lagi gabut, bantuin ngajar kek atau ketemu Yasmin.
Betul juga, kenapa aku tidak terpikir akan hal itu? Alih-alih mencari Sekar yang pasti tidak bisa dicari, mengapa aku tidak ke yayasan yang pasti akan menerimaku dengan senang hati? Bibirku mengembang senyum, buru-buru kubawa motor ke arah Depok, masuk ke gang-gang dan berhenti di sebuah rumah dengan papan nama Yayasan Anak Bangsa. Aku bawa motor hari ini.
Namun, begitu sampai aku baru ingat bahwa ternyata kemungkinan bertemu dengan Teh Laila di sini jauh lebih tinggi. Terbukti dengan wajah cantik yang mengembangkan senyum begitu matanya melihatku itu. Kenapa aku melupakan hal itu tadi?
"Yumna," sapanya dengan melambaikan tangan. Aku mendekat dan berusaha untuk baik-baik saja di depannya. Kuulang mantra dengan mengatakan kepada diriku bahwa Teh Laila tidak tahu apa-apa tentang perasaanku. Teh Laila tidak bersalah sama sekali dan tidak sepatutnya menjadi tempat melampiaskan perasaan sedih ini. Kendati tidak bisa membohongi diri bahwa melihatnya membuat hatiku nyeri.
"Ada apa ke sini?"
Aku nyengir, karena tidak punya tujuan untuk datang ke sini. Di benakku tadi hanya terbayang wajah Yasmin saja. "Mau ketemu Yasmin, Teh."
"Boleh-boleh, masuk aja ke dalam. Dia di gazebo kayak biasanya." Ah, keramahannya membuat hatiku tidak enak sendiri. Sebab tahu, walau sebentar, aku sempat kesal kepadanya karena menjadi perempuan yang dicintai Bang Ardan.
Aku mengangguk dan meminta izin untuk masuk ke dalam, tetapi baru genap dua langkah kuputar tubuh. "Teh?" panggilku padanya.
"Ya?" Dia menoleh, tetap dengan senyum yang seolah memang ditakdirkan di sana dan tidak akan beranjak pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Perlu Bersabar (Completed)
Spiritualperjuangan adalah kisah Yumna, mencintai akhirnya membuatnya menemukan begitu banyak cinta yang tak diketahui dunia. Cinta yang barangkali tak masuk kategori cinta oleh manusia. Info : Cerita yang di-publish di wattpad tanpa melalui proses editing d...
