(Repost) Kemarahan Tak Mampu Meleburkan Sayang

3.3K 168 2
                                        

Reminder: novel ini diperbarui, jadi kalian perlu membaca dari bab awal supaya nyambung, bab yang sudah diperbarui ada tanda repost atau chapter tambahan ya.

___

Aku naik ke atas, mengetuk kamar Pipit tiga kali, tetapi tak ada jawaban dan ternyata pintunya tak terkunci. Pipit tidur dengan memeluk dirinya sendiri, ada bekas air mata yang belum mengering di pipinya. Aku terenyuh. Orang yang sering membuatku kesal beberapa waktu lalu, kini tidur dan tinggal di rumahku. Bagaimana takdir mampu mempermainkan skenario secara tiba-tiba, seperti skenario Bang Ardan menyukai Teh Laila.

Dia menggeliat, matanya memicing dan bersitatap dengan mataku. Aku tersenyum padanya, lalu duduk di sisi ranjang.

"Gue ketiduran." Pipit berusaha bangun, kucegah.

"Nggak apa-apa." Dia berbaring lagi, bibirnya pucat dan badannya basah oleh keringat.

"Kurang dingin ya AC-nya?" Mataku mencari-cari remot AC tapi Pipit menggeleng.

"Sejak hamil gue emang sering banget gerah, dulu juga sih, tapi sekarang lebih." Aku membulatkan bibir dan mengangguk-angguk. Kuberikan buah apel yang tadi sudah dikupas Mama, buah apel terakhir karena Bang Ardan belum kembali. Pipit memakan beberapa potong setelah itu menggeleng.

"Aku salut karena kamu nggak berusaha gugurin kandunganmu," kataku lirih. Dia terkekeh, geli sekali, sampai memegangi perutnya seperti kesakitan. Aku panik tapi dia hanya mengibaskan tangannya.

"Gue tuh," dia mencoba mengatur napas, "udah nyoba berkali-kali tapi gagal." Aku terkejut, ia hanya tersenyum geli.

"Gue bukan orang baik, bisa dibilang gue ini orang yang penuh dosa, Na. Pertama kali sadar kalau hamil gue nggak terima, apalagi Galih kelihatan nggak mau denger waktu gue mau bilang soal kehamilan gue. Mana ada gue langsung terima gitu aja." Dia menggeleng-geleng. Aku menunduk lalu meremas tangannya yang basah karena keringat. Itulah yang membuat Pipit sampai pingsan. Dia lelah dan stres.

"Gue tahu lo penasaran tentang keluarga gue."

Aku mengangguk tak menyangkal hal itu. "Tapi aku nggak mau maksa kamu cerita kok. Yang penting sekarang kamu sama bayimu baik-baik aja."

Namun, sepertinya Pipit tetap mau bercerita "Lo tahu, Na." Pipit memulai ceritanya. "Gue lahir dari hasil hubungan di luar nikah. Mama gue diusir keluarganya dan hidup terlunta-lunta. Gue nggak tahu gimana sampai akhirnya gue sadar beliau bekerja sebagai pelacur. Bahkan kamar-kamar di rumah adalah tempatnya memuaskan laki-laki bajingan yang horni berlebihan." Aku semakin menggenggam tangannya erat, meski sudah bisa menduga apa yang terjadi, mendengarnya langsung dari bibir Pipit dengan suara parau mencubit hatiku keras-keras sampai kebas.

"Sejak kecil gue biasa diperintah sama beliau, harus mandiri, harus menurut, dan nggak boleh nangis. Gue disekolahin, dikasih makan, dikasih pakaian yang bagus. Tapi nggak sekalipun beliau meluk gue, bahkan ngobrol layaknya orang tua ke anak aja sampek gue sebesar ini kayaknya nggak pernah." Dia menunduk, aku mengelus pundaknya lembut.

"Itulah kenapa yang buat gue dulu terkucil. Di lingkungan sendiri gue diasingkan karena semua orang nggak suka sama Mama gue. Jadilah gue yang pemalu dan minderan, di sekolah pun juga begitu." Aku sama sekali tak tahu tentang hal ini, sama sekali tak tahu gosip apa-apa tentang Pipit di sekolah dulu.

"Kamu benci mamamu?" tanyaku penasaran.

"Enggak."

"Kupikir kamu benci."

"Mungkin buat gue, semua perlakuannya selama ini nggak adil, tapi buat beliau ini semua lebih nggak adil. Mungkin ini semua terjadi karena kesalahannya, tapi tetap saja buat beliau keadaan ini nggak adil. Gue memaklumi itu selama ini, menahan semuanya." Air mata jatuh di pipinya.

"Tapi gue tetep aja marah sih sama beliau. Gue tunjukkan kemarahan itu lewat pemberontakan-pemberontakan selama ini, awalnya Mama gue marah waktu tahu gue udah tidur sama Galih. Cowok pertama yang dapet hal berharga satu-satunya punya gue. Yah, itu juga karena kebodohan gue yang ngerasa tersaingi sama lo, gue iri sama lo." Aku mendengarkan Pipit saksama.

"Gue tahu beliau nggak mau ada satu pun laki-laki yang masuk ke kamarnya sampek masuk ke kamar gue. Bahkan beliau rela ditampar sampek berdarah karena nyegah laki-laki brengsek yang nggak puas sama beliau dan minta gue muasin dia. Mama emang menyayangi gue dengan caranya, tapi gue mau dia mencintai dengan cara gue, tapi cara yang gue mau bertentangan dengan maunya." Dia tergugu, aku bangun dan memeluknya. Getaran tangisnya sampai ke hati, menyentuh dan mengetuk keras-keras hatiku. Memorakporandakan segala ingatan tentang sebuah keluarga yang luar biasa. Yang bagiku adalah hal normal ternyata tak mampu dirasakan semua orang, termasuk Yasmin dan Pipit.

"Cinta gue bertepuk sebelah tangan, bahkan ke nyokap sendiri."

"Dia sayang sama kamu, Pit. Dia sayang sama kamu." Aku tak tahu harus bagaimana, kuulang kata-kata itu untuk menenangkannya. Namun, dia menggeleng kuat-kuat dalam dekapanku.

"Tapi itu nggak cukup, Na. Gue mau merasakan kasih sayangnya, gue nggak mau menerka-nerka dan meyakinkan diri kuat-kuat kalau Mama sayang gue. Gue mau tanpa meyakinkan diri sendiri, gue tahu kalau Mama sayang gue." Aku ikut menangis, sungguh ini menyesakkan. Betapa Pipit amat sangat rapuh selama ini.

"Cinta gue selalu bertepuk sebelah tangan." Ia menggeleng.

"Galih nolak gue dan lebih suka lo. Semua orang sejak dulu bisa suka sama lo tanpa lo berusaha sedikit pun. Sedangkan gue harus berusaha keras buat disukai. Apa salah gue, Na? Kenapa semua orang nggak mau melihat gue? Kenapa gue harus berusaha keras buat disukai? Semua ini nggak adil buat gue."

Aku membiarkannya menceracau dan hanya mengelus punggungnya agar ia lekas tenang. Masalahnya aku terlalu takut bahwa ini akan berdampak buruk bagi janin Pipit. Sampai akhirnya Pipit berangsur-angsur tenang. Dia melepas pelukan kami, mengambil air putih yang ada di atas nakas, lalu meminumnya sampai habis. Aku duduk kembali dan memperhatikannya.

"Maaf."

Aku menggeleng. "Nggak apa-apa."

"Makasih karena lo udah ngingetin gue."

"Tentang apa?" tanyaku tak mengerti.

"Bahwa apa yang gue pikir buruk itu belum tentu buruk. Gue hanya belum tahu aja. Kayak lo. Lo sebaik ini sama gue padahal gue pikir lo itu jahat." Aku mengangguk, tak mampu berkata apa-apa padanya.

"Kira-kira mamamu akan marah berapa lama ya?" tanyaku lirih, lebih pada menerka-nerka daripada bertanya.

"Sebentar. Gue yakin cuma sebentar, Mama gue nggak pernah marah lama-lama kok. Walau sebenarnya marah atau enggak juga nggak ada bedanya." Dia nyengir. Mengapa di saat seperti ini ia masih bisa bercanda sih? Dia sudah meluluhlantakkan hatiku.

***

Diperbarui 23 Desember 2021

Cinta Perlu Bersabar (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang