(Chapter Tambahan) Binar bahagia yang menyakitkan

335 36 0
                                        

Reminder : Novel ini diperbarui ya, sebaiknya kalian membaca dari bab awal supaya nyambung. Bab yang sudah diperbarui ada tanda repost dan chapter tambahan.

___

Aku terbangun begitu mendengar gemericik air. Kuedarkan mata ke sekeliling masih dengan mata yang mengerjap-ngerjap. Kulihat jam di dinding dan ini masih pukul dua pagi. Kulihat ke samping dan Yasmin tidak ada di sana, sedangkan Sekar masih tertidur dengan membelakangiku. Aku tidak ingat kapan kami jatuh tertidur atau siapa yang tidur lebih dulu.

Aku bangun dan mengusap mata agar perihnya hilang dan bisa membuka sempurna. Saat itu juga Yasmin sudah keluar dari kamar mandi dan sedikit terkejut, mungkin terkejut melihat sesosok manusia duduk dengan lesu di atas kasur sedangkan terakhir kali yang dia ingat aku dan Sekar masih tertidur.

"Kak Yumna mau tahajud juga?" tanyanya polos.

Aku tersenyum miris, Yasmin pasti tidak bisa melihat senyumku karena lampu belum dinyalakan. Aku mengangguk dan menyalakan lampu. Lalu menuju kamar mandi begitu Yasmin sudah bergelut dengan mukenanya. Kapan terakhir kali aku tahajud?

Aku terpaku di depan kamar mandi, saat melihat air mata mengalir di pipi Yasmin ketika bangun dari ruku, seolah segala kepedihan ia tumpahkan di dalam salatnya. Pada detik ini aku sadar, walau dia sudah terlihat bahagia tetap saja sakit itu tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Rasa sakit yang Yasmin rasakan pada saat itu; dibuang oleh orang tua dan dilecehkan sedemikian rupa, bukanlah hal yang bisa hilang begitu saja. Yasmin pasti memiliki trauma yang menyakitkan.

Tak bisa tubuh ini untuk tidak mendekat begitu Yasmin mengucap salam. Ketika kepalanya menoleh ke kiri, kupeluk tubuhnya, dapat kurasakan tubuhnya menegang. "Yasmin jangan pernah pendam apa pun sendirian, ada Kakak di sini. Kakak sayang Yasmin dan nggak mau Yasmin sakit sendirian."

Dia menangis di pundakku. Kendati tanpa suara aku tetap tahu, sebab pundakku menjadi basah dan pundaknya naik turun. Betapa ... sudah membusuk rasa sakit itu sampai ia bisa menangis tanpa suara, aku semakin memeluk erat tubuh kecil itu.

"Kak Yumna," lirihnya.

"Iya, Sayang?"

Namun, setelahnya tak ada kalimat yang keluar dan aku tak memaksa, kubiarkan ia menangis selama yang ia mau. Namun, belum genap sepuluh menit ia melepas pelukan kami dan mengusap pipinya yang basah. Yang membuatku semakin pedih adalah ... ia tersenyum.

"Kak Yumna solat dulu."

Aku mengangguk dan mulai mengambil mukena. Tak sengaja mataku melihat tubuh Sekar berbalik cepat, aku yakin betul tadi dia memperhatikan kami berdua.

Pagi hari ketika matahari mulai memunculkan dirinya, kami bertiga turun. Tadi aku melihat ada bayangan di bawah mata Sekar seperti sembap, satu hal yang tak pernah kulihat selama ini meski empat tahun bersama. Di bawah, Papa sedang membantu Mama memasak. Tampak tertawa ketika kami baru sampai, lalu mata mereka menangkap kami dan menjauh dengan canggung. Seperti sepasang kekasih yang ketahuan pacaran dan malu-malu. Hal yang selalu membuatku bahagia melihatnya, mereka memang pernah bertengkar suatu waktu. Namun, masing-masing dari mereka selalu berusaha untuk mengalah dan hebatnya itu dilakukan secara bergantian tanpa protes.

"Pagi Papa Mama." Aku mendekat dan mencium pipi mereka masing-masing, seperti biasa. Mereka juga membalas kecupan di pipi kanan dan kiriku. Tak lama kemudian masakan sudah matang dan aku membantu Mama menyiapkan makanan. Kami sarapan bersama-sama dalam kehangatan, karena diselingi perbincangan ringan yang sesekali membuat kami tertawa. Apalagi ketika Papa merasa paling tampan sendiri, kami baru sadar kalau hanya Papa di sini yang laki-laki.

Usai sarapan kami berbincang di ruang tamu. Mama bertanya-tanya pada Yasmin bagaimana cara merangkai bunga. Mama senang sekali ketika akhirnya memiliki keahlian baru dan taman bunganya bisa dimanfaatkan untuk menghias rumah agar lebih segar. Mama dan Yasmin cocok dalam urusan menanam, aku senang ketika melihat Yasmin bahagia menjelaskan. Tanpa sadar ia sudah merasa nyaman dengan Mama.

Sedangkan Papa sedang mengajak Sekar berbincang, mereka berdua juga cocok sekali bila membicarakan perihal kemajuan zaman dan hal-hal yang bisa anak muda lakukan untuk bangsa. Sekar suka sekali bila perbincangan mereka sudah sampai tentang ekonomi. Tentang anak-anak muda yang seharusnya mulai menabung sejak muda dan menyiapkan dana pensiunan. Atau anak muda yang harus menabung untuk hal-hal urgent yang terkadang tidak bisa ditebak, apalagi bila sudah menikah nanti.

"Tapi harus tetap sedekah ya, dirutinin juga selain rutin nabungnya," kata Papa pada Sekar.

"Iya, Om."

Lalu kami semua menoleh ketika mendengar suara salam, itu suara Bang Ardan. Senyumku merekah ketika mendengarnya, tetapi senyum itu harus lenyap seketika. Jantung rasanya seperti direnggut paksa dari tempatnya saat melihat siapa yang datang bersama Bang Ardan.

"Waalaikumussalam, eh Laila ya yang waktu itu dikenalin Ardan di kafe?"

"Iya, Tante." Iya, orang itu Teh Laila yang saat ini sedang menyalami Mama dan menangkupkan tangannya di depan dada ketika bersalaman dengan Papa. Dia menatapku dan melempar senyum, aku dengan bodohnya hanya bisa termenung.

Ketika aku mengalihkan tatapan pada Bang Ardan, ia sedang memperhatikan Teh Laila dengan mata berbinar. Tak sanggup melihat cinta di matanya untuk orang lain. Senyum yang biasanya hanya untukku, kasih sayang yang selalu ia perlihatkan padaku, aku merasa tiba-tiba tidak ikhlas dan ingin serakah saja.

"Kok bisa barengan datengnya, Bang?" tanya Sekar.

"Tadi ketemu di depan." Dia mengusap hidungnya, pertanda malu. Mungkin kali ini malu karena mendapati dirinya bahagia hanya karena hal sesepele itu.

Teh Laila memang sudah bilang akan menjemput Yasmin sekalian main ke rumah dan silaturahmi secara resmi. Namun, tak kusangka semesta mempermainkan takdir sebegininya. Dalam jumlah waktu yang ada dua puluh empat jam selama sehari, mengapa di jam, menit, dan detik yang sama mereka harus berada di satu tempat secara bersamaan dan membuat hatiku lebur.

Aku belum biasa melihat binar bahagia di mata Bang Ardan, masih menyakitkan. Pasalnya binar itu untuk perempuan lain dan bukan untukku. Padahal aku inginnya merasa biasa saja. Bila saja perempuan itu bukan Teh Laila seseorang yang kukagumi, mungkin aku tidak akan merasa bersalah dengan diam-diam berdoa agar mereka tidak berjodoh

***

Diperbarui tanggal 11 Desember 2021

Cinta Perlu Bersabar (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang