Selama di Yogyakarta, Yasmin terlihat senang sekali main ke tempat-tempat wisata. Walau akan berakhir dengan kelelahan setelahnya, tetapi senyum di wajah manisnya tak pernah luntur. Nenek senang sekali dengan keceriaan Yasmin. Bahkan ketika diceritakan latar belakang Yasmin, beliau seolah tidak percaya. Sebab Yasmin tumbuh dengan sangat baik; pintar, ceria, dan salihah.
Sayang, kami harus segera pulang ke Jakarta karena aku dan Sekar harus masuk kuliah dan Yasmin harus segera mengikuti kelas lagi. Sedangkan Ustaz Izam sudah pergi di pagi hari setelah insiden memalukan di dapur itu. Paman Hendra dan Nenek mengantarkan kami ke bandara.
Yogyakarta mengajarkan banyak hal kepadaku, bahwa apa yang kuanggap kesedihan dan masalah adalah sesuatu yang pada dasarnya tidak ada. Mungkin aku bersedih, terluka, trauma, tertekan, bahkan banyak yang menghujat, dan membela Galih. Namun, apa yang lebih penting selain kebenaran yang aku dan orang-orang terdekat tahu?
Satu hal yang seharusnya kulakukan sebelum memperlihatkan kepada orang lain bahwa aku tidak salah adalah menyayangi, menyembuhkan, dan menerima diriku. Sekarang, aku siap kembali dengan hati yang baru. Hati yang tidak sesakit kemarin.
Semua orang terdekat menyayangiku, bahkan Yasmin saja tampak tegar dan terus berusaha mencari makna kehidupan. Aku juga pasti bisa melewati rasa sakit ini suatu hari nanti, dengan tanpa merasa sakit lagi. Meski rasa benci pada bajingan itu tidak akan pernah hilang.
"Kamu mikir apa sih?" Bang Ardan melambaikan tangannya di depan wajahku. Membuatku sadar telah melamun cukup lama, Yasmin dan Sekar ikut-ikutan menatapku. Kami saat ini sedang menunggu jemputan Papa dan Mama.
"Nggak sabar pengen tidur." Aku tersenyum absurd. Satu hal lain yang kusyukuri selama di Yogyakarta adalah kenyataan bahwa ternyata, aku bisa baik-baik saja berdekatan dengan Bang Ardan lagi. Mungkin karena kini dia pun tahu perasaanku, sensasi meletup-letup seperti dulu hampir tidak ada. Namun, aku masih yakin sekali bahwa perasaan cinta itu masih ada.
Memang hanya butuh melebarkan pandangan dan melepaskan ketergantungan, bahwa ternyata banyak hal yang bisa membuatku bahagia. Bahagiaku tidak bergantung pada Bang Ardan, hal yang tanpa sadar merasuki alam bawah sadarku karena sejak kecil selalu bersama-sama dengannya.
Sekar tidak pulang ke kos, Mama memintanya untuk istirahat di rumah, begitu juga Bang Ardan dan Yasmin. Sedangkan aku? Sejak tadi mengekor Papa karena ada suatu hal yang ingin kukatakan kepadanya.
Iya, aku punya sebuah keinginan yang tidak bisa ditahan sejak pertama melihatnya.
"Kenapa? Mau apa?" Papa berdiri dengan kedua tangan menyilang di depan dada.
Aku tersenyum, makin lama makin lebar. Membuatnya mengembuskan napas panjang dan mengusap-usap kepalaku. "Mau apa, Yumna Sayang?"
"Duduk dulu, Pa." Aku menarik Papa dan memintanya duduk.
"Kok Papa jadi takut gini ya?" Aku nyengir.
"Yumna panggil Mama dulu ya, Papa diem-diem ya. Okay?" Beliau mengangguk patuh, membuatku semakin tak sabar mengatakannya. Baru setelah Mama sama-sama duduk di sofa yang sama dengan Papa, aku duduk di hadapan meraka.
Kuembuskan napas, lalu menatap mata mereka serius. "Papa sama Mama harus tahu kalau Yumna mau ngomong serius." Keduanya saling pandang lalu mengangguk.
"Bismillah, Papa Mama, Yumna mau punya adik." Kuakhiri permintaan itu dengan senyuman lebar, mereka tidak meresponsku selama beberapa detik. Lalu Papa terbatuk-batuk dan Mama menggelengkan kepala sembari melihatku dengan tatapan aneh.
Ah, kurasa penjelasanku salah. "Maksudku, aku mau Yasmin jadi adikku, jadi keluarga kita secara resmi. Tinggal di sini, jadi adik Yumna yang sesungguhnya. Kita punya banyak kelebihan yang dikasih Allah, kita lebih dari cukup. Ada Yasmin, orang yang ada di sekitar kita yang butuh dibagi kebahagiaan dari Allah itu. Kenapa enggak, Ma, Pa?"
Mereka terdiam lama sekarang. Aku masih belum menyerah untuk merengek. "Yumna mohon, Pa, Ma? Yasmin secara nggak langsung menjadi orang yang udah menguatkan aku. Kita semua tahu Yasmin anak baik-baik, kan?"
Papa menatap Mama, ketika Mama mengangguk ia menghela napas. "Papa cari tahu caranya dulu ya, Yumna?" Aku tak bisa menyembunyikan rasa senang itu dan memeluk mereka erat-erat.
"Makasih Papa Mama, insyaallah kebaikan Papa dan Mama akan menjadi pahala yang besar di akhirat." Aku mencium pipi dan mengecup punggung tangan mereka.
"Sok tahu, emang kamu asistennya Allah yang nyatet pahala?" seloroh Papa membuat aku dan Mama terkekeh. Semoga saja prosesnya mudah dan dimudahkan. Tak sabar rasanya menjadikan Yasmin adik resmi.
"Sebelum itu kita tanya Yasminnya dulu oke?" Mama mengingatkan padaku bagian pentingnya, membuat jantungku bertalu-talu. Gugup, takut kalau-kalau Yasmin ternyata tidak mau atau keberatan dan menolak keinginan ini. Mama menepuk punggungku, seolah menyadari apa yang sedang kurisaukan.
Aku ke atas, masuk ke kamar untuk bertanya pada Yasmin. Namun, ternyata dia sudah tidur di sebelah Sekar.
Aku duduk di pinggir kasur dan memperhatikan mereka. Sebetulnya banyak sekali yang mau berteman denganku sejak dahulu, hal yang membuat Pipit iri sekaligus mendekatkan kami. Namun, aku tahu betul bahwa yang setulus Sekar sangat jarang.
Aku baru saja akan beranjak dari kasur, tetapi erangan Yasmin membuat niatku berhenti. Wajah Yasmin berkerut-kerut dengan ekspresi menahan sakit, berapa malam bersama baru kali ini aku melihatnya bermimpi buruk. Mimpi yang mungkin tentang masa lalu kejam itu. Aku mengelus tangan dan wajahnya.
"Yasmin bangun Yasmin." Sekar bahkan ikut terbangun dan wajahnya menyiratkan kecemasan begitu melihat Yasmin tidur sembari kesakitan. Yasmin terbangun dan menatap kami berdua penuh tanya. Dia berusaha duduk.
"Kenapa, Kak?" Aku dan Sekar hanya bisa saling berpandangan, kemudian memutuskan untuk menggeleng.
Aku menyentuh tangannya dan meletakkannya ke atas tanganku. "Yasmin, Kakak mau tanya." Dia mengangguk-anggguk. "Yasmin pernah nggak kepikiran buat punya keluarga?"
Dia menatapku beberapa detik lalu menggeleng. "Tapi mau punya?" Kali ini dia tidak menjawab, aku semakin gugup.
"Kak Yumna tadi bilang ke Om sama Tante, kalau Kakak pengen banget punya adek. Yasmin mau nggak?"
"Maksudnya, Kak?"
"Yasmin mau nggak jadi adik Kak Yumna? Jadi anak Om dan Tante? Yasmin mau nggak diadopsi dan jadi keluarga resmi Kakak?" Yasmin membelalakkan mata sambil menatapku tak percaya, kegugupanku sudah tak terkira.
"Gimana? Yasmin mau nggak?"
"Nggak apa-apa?" Pertanyaan itulah yang justru keluar dari mulut anak perempuan itu.
"Semuanya insyaallah akan jauh lebih baik."
Yasmin mengangguk ragu-ragu, dia menunduk dan menyeka matanya. Yasmin menangis, Ya Allah Yasmin menangis. Tanpa sadar aku juga ikut menangis melihat rasa harunya. Sungguh aku sangat bahagia melihatnya menangis bahagia.
***
Diperbarui 31 Desember 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Perlu Bersabar (Completed)
Spiritualperjuangan adalah kisah Yumna, mencintai akhirnya membuatnya menemukan begitu banyak cinta yang tak diketahui dunia. Cinta yang barangkali tak masuk kategori cinta oleh manusia. Info : Cerita yang di-publish di wattpad tanpa melalui proses editing d...
