(Repost) Selalu ada titik balik

5.2K 168 11
                                        

Hari ini rumah begitu ramai dengan kehadiran banyak orang. Ruang tamu dihiasi pita dan balon aneka warna. Di tengah-tengah ruangan ada meja yang dihias. Di atasnya terdapat kue beraneka jenis. Aku yang baru saja menginjakkan kaki di rumah menatap semua orang di sana dengan mata berkaca-kaca. Entah sejak kapan aku jadi secengeng ini.

Bang Ardan menyentuh pundakku dan mengangguk, mengisyaratkan agar aku meneruskan langkah untuk mendekati semua orang yang telah menunggu kepulanganku. Semua, tak terkecuali Pipit dan anaknya yang saat ini sudah berusia dua tahun, bayi laki-laki yang menggemaskan. Walau wajahnya mirip pria yang tak ingin kusebutkan namanya. Teh Laila juga di sana, lengkap dengan suaminya. Sekar juga, lengkap dengan kesendiriannya. Yasmin diapit oleh Papa, Mama, dan Bunda.

Hari ini, aku pulang membawa anggota baru di tengah keluarga kami. Menambah ramainya rumah yang sepi karena hanya kutinggali berdua dengan Bang Ardan. Mata mereka ikut memancar kebahagiaan, tak kalah dengan bahagia yang ada di hatiku dan di hati Bang Ardan.

Seorang anggota keluarga yang baru berusia tiga hari, anakku dan Bang Ardan. Anak pertama yang dititipkan pada kami setelah satu tahun lamanya menunggu. Anak perempuan yang curangnya menjiplak seluruh fisik Bang Ardan. Tak ada satu pun yang mirip denganku, walau aku yang melahirkan. Hal pertama yang kukeluhkan usai melahirkan dan menyusuinya. Mengundang gelak tawa seluruh orang yang ikut membantu persalinan.

"Selamat datang, anggota keluarga baru." Yasmin menghambur lebih dulu, tak sabar ingin melihat keponakannya yang lucu. Kemudian Mama dan Bunda ikut mengerubungi kami. Kedua nenek itu, adalah orang yang paling lama menangis melihatku berhasil melahirkan seorang manusia ke dunia.

Mengecup seluruh inci wajahku walau berkeringat usai melahirkan saat itu. Menangis haru dan bersyukur, lebih-lebih bersyukur pada Allah karena aku selamat saat persalinan. Mereka tentu tahu bagaimana sakitnya, seluruh tubuh seolah remuk, dan tak ada seinci pun yang tidak sakit. Luar biasanya, aku mampu bertahan. Seajaib itu, karena tubuh ini Allah yang menciptakan. Kalau tidak, mungkin sudah hancur berkeping-keping.

"Selamat ya, Yumna, maaf waktu kamu persalinan Teteh ada undangan seminar di luar kota." Aku mengangguk-angguk. Perempuan itu sudah minta maaf berulang kali saat kami berdua chating-an. Bahkan kami berdua sempat video call saat aku sedang kontraksi. Dari semua orang, memang hanya Teh Laila dan suaminya yang tidak hadir menunggu persalinanku.

"Masih bisa dateng ke persalinan Yumna berikutnya kok," canda Bang Ardan membuat semua orang tertawa. Aku mencubit pinggangnya, tidak tahu saja dia rasanya kontraksi dan melahirkan. Seenaknya sendiri berkata begitu. Walau aku tidak menolak jika diberi rezeki itu. Namun, jauh di lubuk hati aku memohon agar jangan dalam waktu dekat jika harus hamil lagi. Setidaknya jika anak pertama sudah lima tahun, mungkin.

Anak Pipit berlari ke arahku, dia mendongak di sebelah kakiku seolah ingin melihat bayi yang ada di gendongan. Semua orang gemas melihat tingkahnya yang lucu.

"Jangan, Sayang. Tante belum bisa jongkok buat kasih lihat dedeknya, sini Mama gendong kamu." Pipit mendekat ke anaknya dan menggendong anak itu. Lalu menunjukkan wajah bayiku yang mungil. Anak kecil itu menggapa-gapai bayiku yang suka sekali terpejam.

Aku tersenyum dan kemudian muncul suatu ide yang membuat semua orang tersedak. "Kalau udah besar mungkin kita bisa besanan, Pit." Semua orang menatapku geli. Baru juga tiga hari, sudah main jodoh-jodohan.

Kemudian, mereka semua menyuruhku untuk duduk di depan meja yang sudah dihias. Lalu menyuapiku dengan kue-kue yang ada di atas meja. Mama dan Bunda membawa bayiku ke dalam kamar untuk menidurkannya. Papa ikut menyusul.

Tersisa aku, Bang Ardan, Sekar, Pipit, Yasmin, Teh Laila, dan Ustaz Izam.

"Selamat sekali lagi, karena lo udah jadi ibu sekarang," ucap Sekar, mengambil sebuah kotak di meja dan menyerahkannya padaku. Kubuka kotak itu dan ada sebuah buku panduan menjadi ibu.

"Terus lo kapan nyusul, Kar?" celetuk Teh Laila, membuat Sekar mengedikkan bahu.

"Mungkin masih lama, ada banyak yang belum gue capai soalnya, Teh," jawab Sekar seperti biasanya, tidak mudah dibujuk, prinsipnya adalah harga mati.

"Dia cuma belum ketemu orang yang bisa buat dia yakin dan mengesampingkan prinsipnya aja, Yang," kata Ustaz Izam pada istrinya. Teh Laila mengangguk dan membenarkan.

"Sendiri itu nggak enak, Kar," sambar Pipit ikut menyuarakan pendapatnya.

Sekar terpojok di tengah-tengah ramainya keinginan semua orang melihat dia lekas menemukan pasangan, terlihat wajahnya yang mengkerut ngeri. "Woa-woa, sabar bapak-bapak ibu-ibu. Jodoh ada di tangan Tuhan, bukan di tangan gue." Ia mengangkat tangannya tanda menyerah. Semua orang terkekeh.

"Tapi kalau ada, lo mau?" tanya Bang ardan pada Sekar. Aku jadi penasaran, selama ini Sekar tak pernah membicarakan tentang laki-laki kepadaku. Mentok-mentok, perempuan itu mencurahkan keinginannya agar bisa lekas menggapai impian. Itu-itu saja. Sebab Sekar memang tidak begitu terbuka walau itu denganku.

"Ada orang yang gue suka kok." Semua orang tiba-tiba memfokuskan atensi kepadanya, begitu pun aku. "Tapi rasa suka gue nggak sebesar ambisi gue buat gapai impian." Lalu semua orang mendesah kecewa.

"Dalam waktu yang singkat, semuanya bakal tiba-tiba berubah arah kalau udah waktunya," celetukku, membuat semua orang mengangguk-angguk. "Dari satu menjadi dua." Aku menatap Bang Ardan. "Yang awalnya bukan siapa-siapa menjadi keluarga." Kali ini aku menatap Yasmin yang semakin mengeratkan pelukannya pada tubuhku. Semakin hari rasa sayang kami semakin kuat saja.

"Dari yang mulanya mengira nggak akan dekat, akhirnya jadi temen." Aku menatap Pipit.

"Terus ada yang dipertemukan buat ngasih pelajaran yang berharga, terus sekarang jadi saudara." Aku melihat Teh Laila yang dipeluk Ustaz Izam dari samping.

"Semuanya punya titik balik masing-masing kok. Setiap masa selalu punya cerita."

Bang Ardan memelukku. Perasaan sayang kami semakin menguat setelah menjadi suami istri, dia semakin perhatian. Apalagi semenjak tahu aku hamil. Suami siaga yang tak pernah mengeluh, bahkan jika permintaanku aneh-aneh. Kemungkinan itu disebabkan karena sejak dulu aku memang merepotkan. Sejak kecil lebih tepatnya, karena Bang Ardan sudah terbiasa mengurusku juga sejak aku dan dia masih kecil.

Aku sedikit tidak enak hati, ketika dia harus mencuci darahku saat aku lupa mengganti pembalut nifas dan tembus. Bang Ardan berkata padaku untuk jangan merasa tidak enak hati, sebab itulah yang bisa dia lakukan sebagai suami. Dia tidak bisa mengurangi sedikit pun rasa sakit melahirkan, hanya perhatian dan menjadi suami siagalah yang bisa ia lakukan.

Setiap masa selalu ada cerita. Tak selalu kebahagiaan, tetapi dengan seseorang yang disayang, dengan dukungan, dan kekuatan dari mereka semuanya menjadi lebih baik. Yang terpenting, hanya jangan melihat semuanya dari sisi yang buruk saja. Bukalah kesempatan hati untuk melihat kebaikan.

Terima kasih untuk kalian yang sudah menemaniku, mewarnai hari, memberi pelajaran. Pun, terima kasih juga pada semua ujian, yang datangnya memberi jalan bagi kebaikan, menggerakkan hati-hati yang sudah waktunya bergerak di waktu yang tepat. Sama seperti hati Bang Ardan yang akhirnya bergerak ke hatiku, usai diketuk oleh ujian yang datang padaku kala itu, oleh lelaki yang tidak ingin kusebutkan namanya.

Sebab memang ada orang-orang tertentu yang ingin dihapuskan namanya dari hati maupun ingatan, walau itu mustahil. Namun, rasa syukur akan mengalahkan luka.

***

Diperbarui 31 Desember 2021

Cinta Perlu Bersabar (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang