(Repost) Pesan dari Galih

3.4K 168 6
                                        

Reminder: novel ini diperbarui, jadi kalian perlu membaca dari awal supaya nyambung, bab yang sudah diperbarui ada tanda repost dan chapter tambahan ya.

___

Berhari-hari kemudian, sesekali aku masih melihat Pipit termenung di kamar sambil melihat layar ponselnya. Entah siapa yang ditunggu, mamanya atau Galih. Yang pasti mata itu kembali berkaca-kaca. Aku memperhatikannya dari balik pintu yang terbuka, kubuka lebih lebar perlahan dan dia belum menyadari kehadiranku. Sesaat setelah aku tak sengaja menghela napas Pipit menoleh dan menaikkan sebelah alisnya.

"Ngapain?" tanyanya. Aku menggeleng lalu mendekat ke arahnya, menyeret kursi, membawanya tepat ke samping Pipit.

"Kamu bosen? Mau keluar?" tawarku, dia menggeleng.

Aku memikirkan sebuah kemungkinan, seandainya Galih mau bertanggung jawab akankah kehidupan Pipit akan jauh lebih baik? Sejujurnya sejak beberapa hari lalu, Galih terus mengirimiku pesan dan itu membuatku kesal. Namun, hari ini Galih berkata ingin bertemu denganku. Kalau aku mau bertemu dengannya, maka ia akan bertanggung jawab pada bayi Pipit.

"Kamu cinta sama Galih?" tanyaku takut-takut. Aku melihat binar di matanya, tak perlu jawaban, aku cukup tahu bagaimana mata yang mencintai, seperti mata Bang Ardan.

"Bisa dibilang begitu." Ia mengangguk-angguk. "Tapi itu nggak lebih penting dari bayi gue sekarang."

Manusia memang lucu. Pada apa-apa yang menggantungkan hidup padanya dan ia merasa dibutuhkan, maka segala upaya dikerahkan untuk membahagiakan. Jadi, seandainya ada manusia yang menyakiti setelah menjadi bagian alasan seseorang berupaya, sejujurnya manusia itu telah mati rasa, keterlaluan sekali. Dulu Pipit begitu berupaya untuk membuat Galih jatuh hati padanya, karena lelaki itu menyentuh titik pertahanan Pipit yang kesepian dan membutuhkan uluran tangan.

Kini calon bayinya menyentuh hati Pipit, ia merasa dibutuhkan. Maka ia bertahan dan berusaha kuat. "Kamu mau Galih bertanggung jawab?"

Pipit mengangguk sekali lagi. "Iya, siapa yang nggak mau anak di kandungannya punya orang tua yang jelas?"

Maka, aku memutuskan untuk menemui Galih. Mendengarkan apa-apa yang ingin lelaki itu lakukan untuk bertanggung jawab. Aku pamit pada Pipit untuk sebuah urusan dan dia hanya mengangguk. Aku menelepon Sekar, tetapi dia tak kunjung mengangkatnya. Kuputuskan mengirim sebuah pesan pada Sekar untuk menyusul ke kafe dekat kampus yang ditunjuk Galih sebagai tempat bertemu.

Sesampainya di sana, tak ada pengunjung lain selain Galih. Lelaki itu duduk sambil merokok, lalu saat melihatku ia buru-buru mematikan rokoknya dan tersenyum. Ia berdiri dan meyambutku dengan menarik sebuah kursi yang berada tepat di depannya.

Dengan tak enak hati aku duduk, ingin segera sampai pada pokok pembahasan dan segera pergi dari sini. Karena sejujurnya aku tak mau berlama-lama, ada perasaan aneh yang sedari tadi mengganjal ulu hati. Serupa bisikan-bisikan yang menyuruhku segera pergi. Terlebih ketika tak sengaja aku melihat kilat aneh di mata Galih.

"Jadi, apa yang mau kamu bicarain?" Dia masih tersenyum, kini menopang dagunya dengan kedua tangan menatapku penuh minat.

"Lo kenapa manis banget, Yumna?" Dia menyeringai, aku gusar. Berkali-kali melihat ponsel yang kuremas-remas. Tak ada balasan dari Sekar, padahal pesannya sudah masuk dan centang dua biru, tanda bahwa sudah dibaca.

"Kamu nggak lupa kenapa aku ke sini, kan?" Dia menggeleng. Lalu pelayan datang membawakan makanan, padahal aku belum memesan apa-apa. Sedikit lega karena ada manusia juga selain kami berdua.

Di depanku, tersaji pasta. Makanan kesukaanku yang kini tak menggugah selera sama sekali. Pelayan itu pergi dan aku seperti tak rela ditinggal berdua saja.

Cinta Perlu Bersabar (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang