Aku berjalan secepat yang kubisa, sesekali berlari. Bang Ardan pasti sudah sampai rumah, hatinya barangkali sudah patah berkeping-keping. Aku jahat sekali padanya, dia yang sudah mengkhawatirkanku sebegitunya. Ya Allah, seandainya memang kami berjodoh maka mudahkanlah, kuatkan, dan yakinkan hati kami untuk saling bersama.
Ketika mataku melihat rumah yang sudah kuhapal luar dalam itu, langkahku memelan. Dia ada di depan rumah, duduk, menunduk. Begitu mendengar langkah kakiku ia mendongak, terkejut dan berdiri. Ia menghampiriku, senyumnya terbit, tetapi bingung harus apa sehingga hanya bisa berdiri dan menatapku. Aku pun bingung harus apa setelah ada di depannya.
"Kenapa Abang nggak bilang kemarin-kemarin?"
Dia tersenyum padaku, sungguh, jika saat ini masih aku yang dulu, aku akan menghambur ke pelukannya. "Abang tahu kalau bilang pun kamu nggak akan percaya, Na. Kayak Abang nggak tahu sifatmu."
Ya, dia benar. Aku mungkin tak akan percaya begitu saja padanya. Namun, begitu maksud hati dikatakan di saat yang tepat maka tanpa diminta pun hati akan dengan mudah percaya. Begitu pula yang terjadi saat ini, Bang Ardan tidak ingin hanya mengatakan apa yang ada di hatinya, tetapi juga ingin membuktikannya. Aku sebetulnya sudah bisa melihat itu ketika di Yogyakarta. Namun, masih ingin menyimpan perasaan itu dulu. Tak disangka justru datang Ustaz Izam yang membuatku mau tak mau harus mengatakannya secepat ini.
"Aku tahu, Bang."
Dia tersenyum senang, bahkan berusaha agar senyumnya tidak mengembang terlalu lebar. "Jadi?" Dia meminta afirmasi, aku mengangguk sebagai jawaban.
Dia menjerit senang, hampir saja memelukku, tetapi mundur lagi. Hanya pandangannya yang mendekapku hangat saat ini. "Kita harus kasih tahu yang lain, kan?" Dia masuk ke dalam rumah, aku duduk di beranda. Kakiku seperti jelly, dia mungkin tidak sadar. Namun, aku sangat gugup, apakah perlu kutambahkan kata sekali setelah kata sangat gugup supaya mampu mendeskripsikan debaran jantungku saat ini? Iya kata berlebihan.
"Bun, Yumna nerima lamaran Abang!" Dia tidak sadar apa bagaimana? Yang dibicarakan sedang ada di depan, suaranya terdengar ke mana-mana.
"Apa sih, Abang! Ya Allah, berisik banget."
"Bunda punya mantu sebentar lagi."
"Siapa?" tanya Bunda terdengar tidak yakin.
"Yumna, Bun."
"Ngaco ya?" Bunda makin terdengar tidak percaya.
"Bunda bisa tanya sendiri, orangnya ada di depan tuh."
Tak lama, Bunda sudah ada di depanku dan bertanya, "Bener apa yang dibilang abangmu, Na?"
Aku tersenyum dan mengangguk, Bunda memelukku. Mengucap terima kasih berkali-kali dan mengecup puncak kepalaku. "Ya Allah, Yumna. Makasih, Sayangnya Bunda. Bunda seneng banget, akhirnya kamu bener-bener akan jadi anak Bunda." Aku memeluk pinggangnya, menyandarkan kepalaku ke perutnya. Tempat Bang Ardan dulu tumbuh selama sembilan bulan.
**
"Bang, Yumna pakai gamis mana ya bagusnya?" Entah sudah sejak jam berapa aku bertanya, sepertinya malah dari kemarin. Bang Ardan duduk di atas kasur sambil senyum-senyum.
"Ih, Abang! Ditanyain malah senyum-senyum," protesku.
Bang Ardan malah menarik pinggangku sampai jatuh ke pangkuannya dan mencium keningku berkali-kali. "Dari kemarin udah Abang jawab, Sayang. Sekarang tanya lagi." Aku cemberut, berdiri dari pangkuannya.
"Ya gimana dong, ini, kan, hari spesial. Yumna mau pakai pakaian terbaik." Dia mengangguk-angguk.
"Abang suka Yumna pakai gamis yang moka." Dahiku berkerut-kerut, menimbang-nimbang kedua gamis di tanganku. Meski sudah mendapat jawaban, tetapi itu belum menghapus kegalauanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Perlu Bersabar (Completed)
Spiritualperjuangan adalah kisah Yumna, mencintai akhirnya membuatnya menemukan begitu banyak cinta yang tak diketahui dunia. Cinta yang barangkali tak masuk kategori cinta oleh manusia. Info : Cerita yang di-publish di wattpad tanpa melalui proses editing d...
