Aku menghubungi Teh Laila tentang niat kami untuk mengadopsi Yasmin, tentu pihak yayasan harus dikabari bukan? Rencananya kami akan sama-sama ke yayasan untuk mengemasi barang-barang Yasmin, dan sekalian bertemu dengan Teh Laila saja di sana. Namun, ternyata Teh Laila juga mau berkunjung ke rumah. Jadi sembari menunggu, aku, Sekar, dan Yasmin membereskan kamar di sebelahku khusus untuk Yasmin.
Kamar yang dulu disiapkan untuk anak Papa dan Mama yang lain karena mereka memang mau punya dua anak. Sayangnya Allah ternyata hanya memberikan aku di tengah mereka, sampai keinginanku untuk memiliki adik tadi. Sebab setelah ini, anak yang lain itu akan hadir di antara kami. Yaitu Yasmin. Mungkinkah ini alasan mengapa Allah tak mengabulkan doa Papa dan Mama untuk memiliki dua anak?
Bang Ardan menyembulkan kepala, membuat kami bertiga yang sedang duduk untuk istirahat jadi terkejut. Ia nyengir. "Ada yang mau es?" Dia membawakan teko dan tiga gelas. Sekar lebih dulu berdiri dan mengambilkan masing-masing dari kami.
"Makasih lho, Bang," kata Sekar sembari mengangkat gelasnya.
"Oke, santai, ini Mama yang buatin kok. Kalian udah selesai?" Dia menatapku, seolah meminta jawaban dariku kendati objek pertanyaannya adalah kalian. Aku memalingkan wajah dan berpura-pura mengelap sesuatu di celana olahragaku.
"Udah kok, Bang. Biasanya, kan, kamarnya gue atau lo yang nempatin, Bang. Terakhir dipakek Pipit. Jadi nggak gitu kotor." Ah, aku harus berterima kasih kepada Sekar atas kadar kepekaannya.
Kami berempat turun begitu mendengar teriakan Mama memanggil kami. Aku terkejut begitu di ruang tamu sudah ada seseorang yang kehadirannya tak pernah diduga. Kuyakin Sekar dan Bang Ardan pasti juga sama terkejutnya denganku, bahkan dia juga terkejut melihat Bang Ardan turun dari atas bersama kami. Walaupun dia tahu seberapa dekat Bang Ardan dengan keluargaku.
"Mas Izam?" Itu bukan suaraku, Bang Ardan yang menghampiri Ustaz Izam lebih dulu. Kedua lelaki itu saling menjabat tangan masing-masing. Mama masuk memanggil Papa tadi. Bang Ardan mempersilakan Ustaz Izam untuk duduk.
"Ngomong-ngomong ada apa ke sini, Ustaz? Karena diminta Teh Laila ya?" tebakku.
"Oh bukan, saya ke sini karena niat pribadi. Mau bertemu orang tua Yumna."
"Kalau boleh tahu untuk apa ya?" Bang Ardan bertanya lebih dulu sebelum aku sempat bertanya hal yang sama. Ustaz Izam hanya tersenyum.
"Maaf, saya mau bicara langsung kepada orang tua Yumna."
Bang Ardan terdiam, tangannya tampak mengepal dan wajahnya terlihat tidak menyenangkan. Tak lama setelah itu Mama keluar bersama Papa. Ustaz Izam berdiri dan menyalami Papa.
"Siapa ini?" Papa bertanya ramah. "Ayo duduk dulu. Ini mau ngomong sama saya? Kalau gitu yang lain bisa pergi dulu."
Bang Ardan berdiri lebih dulu, kemudian pamit kepada kami untuk pulang. Tatapannya jatuh padaku sebelum pergi. Aku? Merasa ada yang meremas jantung, masih tidak paham apa yang sedang terjadi. Berharap Ustaz Izam tidak datang dengan niat yang sedang bersarang di kepalaku ini.
"Bisa aku di sini aja?" Aku meminta pada Papa dan Mama untuk diperbolehkan mendengar maksud kedatangan Ustaz Izam, sedangkan Sekar dan Yasmin naik lagi ke atas. Papa hanya mengangguk.
"Jadi ada apa, Nak?" tanya Papa gamblang.
"Saya Izam, Om. Sebelumnya saya minta maaf karena datang tanpa pemberitahuan. Setelah istikarah, saya diberi kemantapan hati datang kemari, yaitu untuk menyampaiakan niat melamar putri Om, Yumna." Walau sudah menduga, sebetulnya aku tetap terkejut mendengarnya langsung. Kulihat Papa juga terkejut dan bingung.
"Kamu kenal anak saya?"
"Saya hanya mengenal Yumna selama di Yogya, kebetulan saya penanggungjawab Yasmin dan guru Yasmin di yayasan." Papa mengangguk-angguk, tetapi tak urung juga rasa bingung hilang di wajahnya.
Ponselku bergetar saat aku sedang bingung-bingungnya.
Yumna tahu kenapa Abang mau menikahi Yumna? Itu bukan rasa kasihan, lebih karena Abang merasa tidak rela ada yang menyakiti kamu. Abang nggak janji bisa bahagiain kamu terlebih ternyata selama ini tanpa sadar udah jadi penyebab sakitnya hati kamu. Tapi ketika kamu ada di samping Abang, setidaknya Abang bisa menjagamu. Itu yang Abang pikirkan.
Perihal cinta, bukannya kita bisa menumbuhkan perasaan yang baru di atas perasaan yang sudah ada kalau sudah menikah?
Tapi Yumna, Abang tahau Izam pria yang baik. Maka Abang yang akan mundur bila kamu memilih dia, karena dia toh jauh lebih baik dari Abang dalam urusan ilmu agama.
Jangan terbebani karena Abang oke?
Aku tidak tahu sejak kapan air mata jatuh ke pipi, tahu-tahu Papa dan Mama sudah menyentuh pundakku. "Yumna kamu kenapa?"
Aku menggeleng-geleng, kepalaku penuh dengan serangkaian kebersamaan dengan Bang Ardan sejak kecil sampai hari ini. Dadaku kian sesak dan air mata benar-benar kurang ajar, tidak mau kompromi. Papa dan Mama cemas, bahkan Ustaz Izam. Aku berusaha mengatur napas dan mencoba bicara.
"Ustaz Izam," mulaiku lirih, dia menantikan kalimat selanjutnya.
"Terima kasih Ustaz sudah mau menyampaikan niat baik itu, tapi maaf Ustaz sebelum ini ada yang melamar saya dan sedang menunggu jawaban. Justru kehadiran Ustaz ke sini membuat saya tahu harus menjawab apa kepadanya dan dengan begitu berarti harus menolak niat baik Ustaz. Maaf Ustaz."
Aku berdiri, Papa dan Mama melihatku. "Maaf sekali lagi, Ustaz. Saya harus pergi. Pa, Ma." Aku menatap mereka dan mereka mengangguk seolah tahu apa yang akan kulakukan. Aku berlari keluar.
Namun, belum genap sampai gerbang rumah, sebuah motor yang kukenali datang. Itu Teh Laila. Dia turun dari motor dan menatapku penuh tanya karena keluar dengan wajah penuh air mata.
"Lo kenapa, Na?"
"Teh." Aku menggenggam tangannya, menatap mata itu lekat-lekat. "Aku minta maaf, aku mencintai Bang Ardan." Aku menunduk setelah mengatakan itu.
"Kalau gitu selamat karena hati lo udah memutuskan, gue cuma bisa berdoa yang baik-baik buat kalian. Jangan pernah merasa bersalah, Yumna."
"Aku minta maaf buat terakhir kali, Teteh mau maafin aku?"
Dia tersenyum dan mengangguk. "Gue bakal maafin lo, Na." Dia memelukku erat, hangat sekali. Kudoakan semoga Teh Laila didekatkan dengan jodohnya. Aku meminta kepada Allah agar Teh Laila juga dipersatukan dengan takdirnya. Sebagaimana aku yang kini telah menemukan kepingan takdirku.
***
Diperbarui 31 Desember 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Perlu Bersabar (Completed)
Spiritualperjuangan adalah kisah Yumna, mencintai akhirnya membuatnya menemukan begitu banyak cinta yang tak diketahui dunia. Cinta yang barangkali tak masuk kategori cinta oleh manusia. Info : Cerita yang di-publish di wattpad tanpa melalui proses editing d...
