(Chapter Tambahan) Rencana Lamaran

333 31 0
                                        

Reminder : Novel ini diperbarui, jadi kamu mungkin harus baca dari bab awal agar ceritanya nyambung. Bab yang sudah diperbarui memiliki tanda repost atau chapter tambahan ya.

___

Begitu Teh Laila membawa Yasmin pulang, aku, Papa, Mama, Sekar, dan tentunya Bang Ardan masih ada di ruang tamu. Ketika Papa dan Mama hendak beranjak tadi, Bang Ardan berkata bahwa ia ingin berbicara hal yang penting kepada keduanya. Tentu saja aku menebak-nebak, kalau-kalau Bang Ardan akan berkata bahwa ia sudah mantap hendak melamar Teh Laila. Seperti yang pernah ia bilang padaku.

"Pa, Ma," mulai Bang Ardan sembari mengusap-usap hidungnya.

Mama terkekeh. "Kamu ini, Dan. Kayak mau melamar anak gadis orang aja, ngomongnya pakek malu-malu."

"Rencananya gitu, Ma."

Mama yang masih tertawa tadi seketika terdiam dengan mata membola dan mulut yang membuka tutup tanpa satu patah kata. Sedangkan aku? Menegang dengan tiba-tiba. Jantungku berhenti berdetak untuk sedetik, lalu benar saja seperti yang sudah-sudah, tubuhku melemah seolah seluruh energi diserap habis. Aku harus bagaimana? Tak ingin mendengar, tetapi bila pergi dari sini sekarang pasti akan kentara sekali bahwa aku tak suka. Lalu sederet pertanyaan harus kujelaskan mulai dari kenapa aku tak suka. Bukankah semua akan bermuara pada pernyataan cinta?

"Bentar, ini kamu nggak bercanda, kan?" Mama tersenyum semringah setelahnya, sembari memukul-mukul lengan Papa pelan. "Pa, anak kita, Pa." Mama menutup mulutnya tak percaya, matanya berkaca-kaca.

"Kamu nggak pernah cerita-cerita kalau punya pacar, terus tiba-tiba bilang mau melamar anak orang?" tanya Papa heran.

Mama menimpali dengan mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, makanya Bundamu sampek was-was soalnya kamu nggak mau pacaran dan nggak ada tanda-tanda mau nikah padahal umurmu udah dua puluh enam jalan dua tujuh."

Bang Ardan tersenyum lalu menoleh kepadaku. Aku sendiri tak tahu bagaimana ekspresiku saat ini, tetapi Bang Ardan tersenyum kepadaku. "Ardan emang nggak punya pacar, Pa, Ma. Yumna tahu siapa orangnya. Menurut Yumna orangnya juga baik. Menurut Ardan sendiri juga gitu."

Papa dan Mama lantas menatapku dengan ekspresi seolah-olah merasa tercurangi.

"Papa sama Mama juga kenal orangnya kok." Bang Ardan buru-buru menjelaskan. Papa dan Mama makin-makin penasaran. "Laila."

"Laila, Laila yang tadi? Temennya Yumna?" Bang Ardan menimpali pertanyaan itu dengan mengangguk-angguk.

"Ardan juga nggak tahu gimana, kebetulan banget orang yang Ardan kenal ternyata kenal sama Yumna."

"Mungkin itu pertanda kalau kalian jodoh," celetuk Mama. Membuat jantungku berdenyut-denyut, mungkinkah bahwa itu pertanda mereka berdua betul-betul berjodoh? Benarkah?

"Ardan mau minta Papa buat jadi wali untuk melamar Laila. Rencananya besok mau tanya dulu ke orangnya alamat rumah dan kesediaannya."

Papa mengangguk-angguk. "Kalau buat melamarkan calon istri dari anak Papa ini, kapan aja Papa siap. Nanti bisa minta izin setengah hari atau sehari. Gampanglah nanti. Tinggal tentuin aja tanggal tepatnya. Masalahnya, apa kamu udah bener-bener pikirin mateng-mateng?"

"Udah, Pa," jawab Bang Ardan mantap.

"Papa sih setuju-setuju aja karena Laila juga perempuan baik. Kamu beruntung kalau kalian memang berjodoh. Dia juga beruntung karena dapetin laki-laki tanggung jawab dan penyayang kayak kamu. Terbukti gimana kamu selama ini ke tiga perempuan di hidup kamu."

Pada titik ini, aku benar-benar sudah tidak ingin mendengarkan lagi apa-apa kelanjutan percakapan mereka. Perih dan sesak rasanya. Ingin menangis. Ingin bilang jangan. Ingin bilang pada Bang Ardan bagaimana perasaanku. Apakah jika aku mengatakan perasaanku pada Bang Ardan akan membuatnya membatalkan niat melamar Teh Laila?

Apakah memang seharusnya kulakukan itu untuk mencegah apa yang belum terjadi? Aku punya kuasa saat ini untuk membuat setidak-tidaknya, takdir berbelok arah. Namun, benarkah takdir bisa berbelok arah? Bukankah ia mengalir sebagaimana mestinya?

Ya Allah, apakah memang kami tidak berjodoh? Apakah memang aku harus membiarkan takdir berjalan dengan arah yang sudah ditentukan? Apa sudah benar bila saat ini aku diam saja dan memendam perasaan?

Aku menutup mata, sampai kurasakan remasan di bahu dan kubuka mata, Sekar memandangku dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca seperti biasa. Ia berdiri. "Maaf, Om, Tante, Bang Ardan. Aku harus pulang, soalnya ada tugas yang mesti dikerjain dan dikumpulin besok. Oh ya selamat ya, Bang." Bang Ardan berkata terima kasih pada Sekar.

"Ah iya, Sekar. Sebentar, Tante bawain makanan buat di kos, sama ada bolu juga tadi." Mama berjalan ke dapur. Sekar naik ke atas untuk mengambil tasnya kemudian turun ke bawah dan menarik tanganku. Aku menerima sinyal dari Sekar dengan baik untuk segera pergi dari situasi mencekik ini.

"Aku anter Sekar ke depan dulu." Semua orang mengangguk dan kami berdua keluar. Aku mengembuskan napas keras-keras saat sudah ada di luar rumah.

"Apa yang lo pikir saat ini, Na?" tanyanya sembari memasang helm ke kepala.

Aku menunduk lalu berkata lirih, "Aku tadi sempat mikir buat ngasih tahu Bang Ardan soal perasaanku." Aku terkekeh miris. "Mungkin dengan itu Bang Ardan jadi batalin rencananya. Mungkin takdir bakal berbelok arah."

Sekar menatapku miris dan aku tidak suka. Itu pertanda bahwa ia tidak menyukai pikiranku, tidak setuju, dan tidak sependapat. "Gue ngerti kalau hati lo sakit, patah hati. Tapi sebagai temen, gue cuma bisa bilang mungkin lo bisa gagalin rencana Bang Ardan buat ngelamar Teh Laila pada momen ini. Mungkin lo pikir takdir berbelok arah. Tapi kalau memang mereka jodoh, pada momen selanjutnya yang entah terjadi kapan, Bang Ardan bakal tetep ngelamar atau bahkan nikah sama Teh Laila. Takdir bakal nyari jalan lain, karena yang jadi dalangnya itu Allah. Yang Mahahebat."

"Jadi apa aku harus diem aja?"

"Gue nggak nyuruh lo buat diem atau ngungkapin perasaan. Tapi gue nyuruh lo buat memahami takdir ini udah ada yang ngatur. Ada takdir yang nggak bisa diubah, termasuk jodoh. Terlebih pada kasus lo, orang yang lo sukai adalah orang terdekat lo sendiri. Ibaratnya kalian satu rumah.

"Bayangin kalau dia tahu dan kalian jadi canggung, apakah lo siap dengan kemungkinan-kemungkinan ini? Satu pernyataan dari lo akan jadi ledakan selamanya. Lo nggak bisa main-main. Termasuk, apakah lo udah cukup berani buat menikah seandainya Bang Ardan memutuskan buat memilih lo? Apakah lo terima seandainya Bang Ardan menerima lo karena rasa kasihan?"

Aku terdiam, karena memang tidak bisa menjawab. Ingin berkata sanggup, tetapi sebagai perempuan tentu aku ingin menikah karena mencintai dan dicintai.

"Kalau lo enggak cukup tangguh buat menghidupi hati kalian berdua dengan cinta lo sendiri. Gue harap, lo cukup terima beres aja gimana takdir bekerja. Karena mau gimana juga, pada akhirnya yang jodoh akan tetap mendekat, Na."

Setetes air mata menetes di pipiku. Kuseka, aku menunduk, dengan perasaan yang jauh lebih dalam dan pekat. Pekat karena keragu-raguan. "Makasih," lirihku pada Sekar. Ia memang selalu menjadi pendengar dan pemberi saran paling memahamiku.

"Makasih juga karena lo selalu ngebuat gue mikir makna-makna kehidupan. Yang bikin gue jadi lebih aware sama hidup gue sendiri." Dia pamit pergi setelah berkata begitu, karena benar-benar ada tugas yang harus diselesaikan sesegera mungkin. Agar nanti malam bisa melanjutkan jadwalnya menamatkan buku karya Austin Kleon, begitu katanya.

***

Diperbarui 13 Desember 2021.

Cinta Perlu Bersabar (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang