Reminder : karena ini versi terbaru dari Cinta Perlu Bersabar, kalian harus tetap membaca dari awal supaya nyambung.
---
Siang ini, selesai kelas aku bergegas ke fakultas ekonomi untuk menemui Sekar. Untuk menceritakan keinginanku bertemu Teh Laila dan mengobrol seputar jilbab. Tentu ini hanya permintaan saja, bila Sekar atau Teh Laila tidak mau, maka aku akan mencoba mencari orang lain untuk berdiskusi.
Udara di kantin fakultas Sekar cukup panas menyengat, keringat membanjiri dahi, sesekali kuseka agar tidak menetes ke mana-mana. Menyeruput es jeruk bisa membuat tubuh segar, tetapi tak lama kemudian panas lagi. Padahal Sekar berkali-kali bilang padaku bahwa kantin fakultasnya lumayan sejuk daripada kantin yang lain. Karena banyak pohon yang mengelilingi kantin ini.
"Emang dasarnya lo tu habitatnya di kutub. Balik sono ke fakultas lo."
"Nanti," kataku tak acuh pada keengganannya menemaniku di kantin. "Kamu masih bakal ketemu sama Teh Laila nggak, Kar?"
Dia menatapku dengan mata memicing. "Kenapa emangnya?"
"Aku butuh temen diskusi buat ngomongin masalah berjilbab. Tiba-tiba aja keinget Teh Laila."
"Kenapa keinget Teh Laila? Kan, ada banyak orang yang bisa diajak diskusi soal jilbab. Kenapa lo pilih dia dari sekian banyak manusia?"
"Karena pas baru lihat wajahnya aja, salihahnya terpancar ke mana-mana, itu sih alasannya."
Sekar mengangguk-angguk. "Agak aneh sih, dari sekian banyak prestasi dia. Kenapa lo cuma lihat wajahnya aja." Sekar menarik sudut kanan bibirnya, membentuk senyum menyebalkan. "Jangan bilang lo belum nyari tahu tentang dia?" telak, aku meringis.
"Di Google udah banyak, Teh Laila itu hafizah delapan belas juz, beliau juga jadi guru mengaji sekaligus guru kajian. Kalau itu gue nggak tahu tepatnya di mana, asing nama tempatnya."
Saat mendengar Sekar menceritakan Teh Laila, aku benar-benar tidak sadar mulutku terbuka. Sungguh, itu adalah prestasi yang tak pernah kupikirkan atau tak pernah akan kubanggakan karena tidak tahu bahwa hal itu membanggakan. Pernah ingat Al-Qur'an saja tidak. Namun, menyandingkan prestasi hafizah dengan kesantunan Teh Laila yang terpancar tanpa filter itu, aku jadi yakin bahwa hafizah adalah gelar yang mengagumkan.
"Masih muda, udah punya bisnis, hafizah, mau menyedekahkan waktu buat ngajar ngaji. Idaman banget nggak sih?" Aku menggoyang-goyang lengan Sekar. Yang sekarang kurasakan adalah gemas, bangga, dan segudang perasaan luar biasa lainnya.
"Teh Laila belum nikah?" tanyaku lagi, Sekar menggeleng.
"Ada rumor kalau dia pernah nolak salah satu dosen FE. Padahal dosen ini lulusan luar negeri, latar belakangnya oke, mukanya juga lumayan lah, tapi Teh Laila nolak hanya karena dosen ini nggak pernah solat subuh dan solatnya nunda-nunda. Ya, beliau, kan, sejak kuliah juga deket sama beberapa dosen, jadi pasti udah kenal sama dosen yang ngelamar dia. Padahal dosen ini baik sih secara attitude."
"Apa nggak bisa dikasih kesempatan ya?" lirihku, tak mengerti sungguh.
"Menurut gue sih, Na. Kalau orang emang mau berubah, ya dia bakal berubah, nggak perlu karena sesuatu. Kalau toh nyatanya mereka berjodoh, toh mereka bakal ketemu lagi pada akhirnya. Cuma berapa bulan kemudian dosen ini nikah dan nggak lama cerai. Istrinya itu artis."
Aku mengernyit. "Kenapa cerai, kamu tahu?"
"Gara-gara dosen ini lebih mentingin segala ambisinya, ketimbang waktu bareng keluarga. Gitu kata si artis, gue sih nggak tahu bener apa enggaknya. Cuma kalau menilik dari penolakan Teh Laila. Gue jadi yakin banget kalau solat itu emang tiang atau pondasi dari segala hal sih. Jadi kalau solatnya nggak bener, ya wajar Teh Laila nolak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Perlu Bersabar (Completed)
Spiritualperjuangan adalah kisah Yumna, mencintai akhirnya membuatnya menemukan begitu banyak cinta yang tak diketahui dunia. Cinta yang barangkali tak masuk kategori cinta oleh manusia. Info : Cerita yang di-publish di wattpad tanpa melalui proses editing d...
