Reminder : novel ini di-update versi terbaru, sehingga kalian tentu harus membaca sejak bab awal supaya nyambung.
---
Aku mematut diri di depan cermin. Gamis yang melekat di tubuhku selama satu minggu ini adalah gamis-gamis pilihan Bang Ardan. Sama ketika kami masih kecil dulu, bila Mama membelikanku baju pasti Bang Ardan yang akan memilihkan warna-warna apa yang pantas untuk kupakai. Herannya aku selalu suka pilihannya.
"Abang suka lihat kamu pakai baju warna-warni dulu, berasa lagi dandanin boneka."
"Kalau sekarang?"
"Bonekanya makin cantik."
Bang Ardan memang selalu bisa membuatku tersipu, tetapi paling tidak peka pada perasaanku. Miris ya. Menyebalkan sekali.
"Na, ayo berangkat. Udah siap belum?" Mama masuk ke kamarku, dengan dandanan yang sudah rapi. Gamis warna navy melekat di tubuhnya, katanya sesuai dengan warna kemeja Papa.
"Cantik banget sih anak Mama, warna-warna pastel gini emang cantik ya buat kamu, Na. Abangmu pinter banget kalau milihin baju. Heran Mama." Aku tersenyum. Lalu kembali menatap cermin di depanku. Menyapukan lip tint warna peach dan selesai.
"Gimana Ma? Aneh nggak sih? Tadi aku pakek eyeliner, kesannya mataku jadi panjang."
Mama mengulurkan jempol kanannya. "Cantik banget, coba tanya abangmu nanti. Pasti dia bilang kalau kamu cantik.'
Aku mendengkus, tetapi juga tak bisa menyembunyikan senyuman. "Abang selalu bilang kalau Yumna cantik. Nggak objektif dia mah."
"Karena baginya kamu emang cantik, Yumna." Aku mengangguk-angguk dan menunduk. Debar di dada semakin menggila, aku khawatir wajahku memanas dan Mama melihatnya.
Kami berangkat ke Kebayoran, memarkirkan mobil di depan kafe Bang Ardan yang dilihat dari luar saja sudah cantik dengan warna pastelnya yang menyejukkan mata. Raw architecture menjadi bahan paling dominan di dalamnya. Kami tersenyum begitu menginjakkan kaki di kafe ini, seolah ada air yang membasahi hati kami. Sejuk.
Dari kejauhan, kami bisa melihat Bang Ardan dan Bunda sedang berbincang dengan tamu lain. Sebab banyak yang datang hari ini, kenalan-kenalan Bang Ardan memang sebanyak itu. Bayangkan bila satunya membawa satu teman, bagaimana tidak banyak? Di dalam sampai penuh dan beberapa duduk di luar.
"Yumna cantik banget," puji Bunda begitu kami mendekat.
"Yumna dari lahir udah cantik, Bun," jawab Bang Ardan, aku tahu dia hanya menggodaku, tetapi aku tetap senang.
Aku mendekat dan memeluk lengannya. "Selamat karena satu mimpi Abang udah terwujud." Dia mengelus punggung dan mencium puncak kepalaku. Tak mudah bagi seorang Ardana Surya Saputra untuk berada di titik ini. Meski Papa ingin membantunya membuka usaha dengan meminjamkan modal, Bang Ardan kekeh menolak.
Baginya berusaha sendiri dengan kerja keras adalah hal yang membanggakan. Sebenarnya Bang Ardan tidak sepenuhnya menolak, kelak bila butuh dia akan datang sebagai pemilik usaha kepada investor. Bukan seorang anak kepada papanya. Namun, ternyata Bang Ardan menolak memang bukan tanpa pandangan akan masa depan, ia sudah lebih dulu melihat masa depannya.
"Ini lebih dari mimpi itu Yumna. Makasih karena menemani Abang sejauh ini."
Pelukan kami harus terlepas ketika Bang Ardan izin untuk mendekati seseorang, yang ketika kulihat siapa orang itu, lututku lemas bukan main, dada bergemuruh hebat. Perempuan yang disuguhi senyum dengan semburat malu-malu itu, adalah seorang perempuan yang menyentuh titik hatiku paling dalam. Perempuan yang kukagumi tak terkira.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Perlu Bersabar (Completed)
Spiritualperjuangan adalah kisah Yumna, mencintai akhirnya membuatnya menemukan begitu banyak cinta yang tak diketahui dunia. Cinta yang barangkali tak masuk kategori cinta oleh manusia. Info : Cerita yang di-publish di wattpad tanpa melalui proses editing d...
