(Chapter Tambahan) Teramat Dekat

3.2K 177 4
                                        

Reminder: novel ini diperbarui, jadi kalian perlu membaca dari awal supaya nyambung. Bab yang sudah diperbarui yang ada tanda repost atau chapter tambahan ya.

___

Teh Laila mengajak ke taman, selama sepuluh menit kami saling terdiam dan membuang pandangan. Aku tak berani mengambil langkah untuk bersuara terlebih dahulu. Kalau dihitung-hitung seharusnya besok adalah hari bahagia Bang Ardan dan Teh Laila. Namun, belum lagi ada perbincangan tentang itu.

Kemudian di detik ke lima setelah sepuluh menit berlalu, ia mengembuskan napas dan menatap lurus ke arahku. "Maaf, Yumna." Itu kalimat pertama yang meluncur dari bibirnya. "Maaf karena gue nggak tahu lo cinta sama Bang Ardan. Gue nggak tahu kalau selama ini lo memendam perasaan ke Abang lo itu."

Aku terdiam, merasa ganjil dengan situasi ini. Seharusnya Teh Laila marah, atau paling tidak mengungkapkan rasa kecewanya padaku alih-alih meminta maaf. Seharusnya kemudian hubungan kami menjadi canggung dan renggang. Namun, mata tulus itu murni memantulkan penyesalan.

"Lo udah baik-baik aja, kan?" Aku mengangguk terpatah-patah.

"Teh, maafin aku. Aku nggak bermaksud begitu." Dia menggeleng sambil tersenyum.

"Lo nggak salah. Emang beginilah yang harus kita lalui. Semua ini udah ada bahkan sejak semuanya belum ada. Gue, lo, Bang Ardan, emang digarisin buat ada di skenario ini. Tinggal kitanya aja yang gimana menyikapinya."

Aku terdiam karena rasa bersalah. "Kemarin gue udah ngobrol sama Bang Ardan, dia ke rumah, ketemu adek gue juga. Dia minta maaf karena nggak bisa memenuhi janji buat nggak kayak yang sebelumnya, ngebatalin lamaran. Karenanya dia memohon maaf banget, dia ngaku salah. Tapi, Na. Tahu nggak?"

Aku memperhatikan Teh Laila saksama. "Dia ada benernya loh." Ia menjeda kalimatnya. "Seandainya kami udah nikah, lalu dia deket sama lo yang notabenenya bukan siapa-siapanya dia. Bahkan sampek peluk lo, pasti gue agak nggak terima. Bahkan walau dengan segenap pengertian kalau kalian udah tumbuh besar bersama, nyatanya gue tetep nggak akan bisa terima. Karena kalian bukan saudara kandung."

Teh Laila mengembuskan napas. "Mungkin ada sebuah pelajaran dari skenario ini yang sama-sama belum bisa kita petik selain sekelumit rasa kecewa dan perasaan enggan menyakiti. Gue akui, gue cukup kecewa. Maaf gue manusia, Na."

Aku menggeleng, entah sejak kapan air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Lalu menetes saat tersapu bulu mata.

"Bang Ardan sayang sama lo, Na. Perasaan sukanya ke gue, kagumnya ke gue, dan mungkin aja ada rasa cinta sedikit. Itu nggak lebih kuat daripada perasaan sayangnya ke lo dan ingin melindungi lo segenap hati."

"Bang Ardan cuma lagi labil dan ngerasa bersalah aja karena merasa nggak bisa jaga aku, Teh. Dia nggak serius sama keputusannya." Aku tak tahu lagi harus berkata apa.

"Gue mau hubungan kita tetap sebaik ini, Na. Nyatanya gimana lagi, kita emang nggak pernah bisa tahu ke depan kayak apa. Masalah lo sama Ardan mau gimana, itu seratus persen ada di tangan lo. Gue nggak akan ikut campur. Karena meski semua orang bilang iya atau enggak, meski takdir seolah berkata iya atau enggak di keadaan sekarang, tapi cuma Allah satu-satunya penentu jalan. Semoga lo bisa ngelalui ini." Teh Laila hampir saja bangkit dari duduknya, mungkin ingin meninggalkan aku sendirian untuk merenungi ini semua. Namun, aku menarik lengannya pelan.

"Seandainya aku sama Bang Ardan memang nggak berjodoh. Demi Allah aku nggak akan gimana-gimana kalau Abang sama Teh Laila. Aku juga tahu batas-batas yang harus kami jaga. Aku nggak akan bilang ikhlas, karena Bang Ardan sejak awal bukan punya siapa-siapa. Kalau saat itu tiba, Teh Laila jangan sungkan nerima Abang."

Aku berusaha mati-matian tersenyum padanya. Ia mendekat lalu memelukku, badannya menunduk untuk mempermudah lengannya melingkari pundakku. "Nggak ada yang tahu Yumna. Buat apa kita bicara nanti, masa depan emang pasti ada, tapi kita belum tentu sampek sana. Justru yang perlu gue syukuri adalah hari ini, gue ketemu sama orang kayak lo, ini, kan, yang harusnya kita syukuri?"

Aku mengangguk-angguk dalam pelukan kami. Air mata lebih deras dari tadi. Kini ada perasaan lega yang tadinya diselimuti keraguan. Tidak ada yang salah di sini. Allah memang menguji lewat satu sama lain. Namun, Allah juga telah mempersiapkan hikmah dari satu sama lain. Semuanya tinggal bagaimana hati kita saja, saat berbaik sangka, maka segalanya baik-baik saja. Namun, saat berburuk sangka maka semuanya tampak tak adil.

Sesampainya di rumah, aku berjalan dengan perasaan yang damai. Tidak seperti tadi pagi. Meski tadi diperlakukan tidak baik di kampus.

Sesampainya di depan rumah yang pintunya terbuka. Aku melihat Papa, Mama, Bunda, serta Bang Ardan sedang berbincang. Kuketuk pintu tiga kali untuk membuat mereka sadar akan kehadiranku. Aku tersenyum ketika berhasil membuat mereka semua menoleh. "Assalamualaimum."

"Waalaikumussalam." Mereka kompak menjawab. Aku mengecup tangan para orang tua. Lalu duduk di samping Papa.

"Yumna mau ngomong sekalian izin." Aku nyengir begitu duduk di samping Papa.

"Mau izin?" tanya Mama.

Aku mengangguk-angguk. "Izinin Yumna nemenin Yasmin ke Magelang ya, Pa, Ma? Yasmin lomba hafiz di sana. Lagian Yumna belum bisa kuliah karena ... ," kuhela napas panjang. "Yumna mau nemenin Yasmin, boleh, kan?" Papa menatap Mama sedangkan Mama menatap Bunda. Aku menaikkan kedua alis menunggu jawaban mereka.

"Yumna." Aku menoleh pada Bunda.

"Abangmu. Bukan ... ," Bunda menggeleng sambil menoleh ke arah Bang Ardan, "Ardan membatalkan pernikahannya dengan Laila dan ingin melamar kamu." Aku terkejut Bang Ardan secepat ini memberitahu keluarga kami.

"Nggak Bun, Bang Ardan nggak serius!" Tanpa sadar aku berteriak, Bunda terkejut, terlebih Papa dan Mama. Aku merasa bersalah, kudekati wanita itu lalu mencium tangannya.

"Maaf, Bunda. Bukan maksud Yumna membentak Bunda. Tapi Yumna nggak butuh dikasihani, Bang Ardan cuma kasihan sama Yumna aja." Aku mencoba meyakinkan mereka semua.

"Bukan begitu, Nak."

Aku menggeleng, memotong ucapan Bunda. "Yumna mohon, Bun. Gimana perasaan Bunda kalau menikah hanya karena dikasihani? Yumna punya harga diri, Bun. Yumna anak Papa dan Mama yang dibanggakan kenapa harus menerima belas kasihan dari orang?"

"Yumna." Papa memanggilku, meminta untuk mendengarkan mereka. Namun, aku kekeh untuk tidak mendengar apa-apa lagi. Sedangkan Bang Ardan hanya menunduk diam.

"Nggak, Pa. Yumna nggak bisa, Bang Ardan juga tahu kalau Yumna nggak bisa." Aku berdiri, mereka semua menatapku sedih.

"Bang Ardan bisa jagain kamu, Yumna. Kita semua, kan, tahu kalian bukan mahram, jadi supaya Bang Ardan leluasa untuk jaga kamu cuma itu satu-satunya jalan." Aku keras kepala menggeleng.

"Yumna bisa jaga diri, Pa. Inysaallah Yumna cukup menjauh dari apa yang sekiranya bahaya. Menikah sama Bang Ardan bukan satu-satunya jalan. Apalagi kalau alasannya menikah karena itu, Yumna nggak mau, Pa." Air mata jatuh ke pipi. Bayangan menikah karena perasaan kasihan tentu bukan sesuatu yang kuingin. Aku ingin melihat cinta di matanya bukan perasaan tanggung jawab. Aku ingin hatinya mendebarkan cinta atas namaku, bukan mendebarkan rasa kasihan dan mati-matian bertahan walau tak nyaman.

"Yumna." Kali ini Mama yang mencoba berbicara. Aku tetap menggeleng.

"Yumna memang sayang sama Bang Ardan, tapi bukan ini yang Yumna mau."

"Seandainya." Suaraku bergetar. "Seandainya Bang Ardan melamarku sebelum melamar Teh Laila. Aku akan dengan senang hati menerima. Maafin aku, Bang." Aku keluar dari rumah, berlari menuju jalan besar. Tak menghiraukan tatapan orang-orang yang berlalu-lalang melihat wajah berantakanku.

"Yumna dengerin Abang dulu." Bang Ardan berteriak mengejarku, tetapi tak kuhiraukan.

Ya Allah, begitu dekat cinta yang kuingin setelah melalui pengharapan yang tak masuk akal. Sedekat bibir berkata iya, lalu aku akan memiliki seseorang yang kucinta. Namun, kenapa sedekat ini justru terasa berat?

***

Diperbaru 31 Desember 2021

Cinta Perlu Bersabar (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang