Chapter #13 - Semakin Rumit

10 5 0
                                    

Entah kenapa dewi kesialan sering hadir di kala gue mengharapkan agar hal buruk tidak terjadi. Baru saja gue memikirkan bagaimana yuki bisa menghandle seorang wibu.

Kini, muncul seorang pria paruh baya berbadan tambun dengan menggunakan kaos bergambar salah satu karakter cewe yg gue gak tau asal dari animenya, berjalan ke arah toko ini.

Wajahnya yg tampak tersenyum ketika melihat para pelayan toko ini yg sedang bercosplay, memberikan gue sinyal kalau dia adalah seorang wibu akut.

Gue pun melanjutkan pencarian blu-ray oregairu, sambil sesekali melirik ke arah si Yuki dan wibu itu bergantian. Akhirnya menemukannya di deretan rak new arrival di bagian anime jepang.

Gue mengambil blu-ray tersebut dari raknya, dan ketika gue hendak pergi ke kasir untuk membayarnya gue mendengar si wibu itu berteriak.

"Yuiii chann..." Seru si wibu dengan nada manja, sambil setengah berlari menghampiri si Yuki.

Yuki kemudian menoleh, entah karena kaget karena ada yg berteriak atau dia ingat tentang nama karakter yg di perankan nya.

Kenapa dari sekian banyak pegawai yg bercosplay, si om-om wibu itu memilih si yuki?. Gue hanya bisa menghela nafas melihat kebetulan yg misterius ini.

"Yu... Yuii chann, boleh salaman." Kata si wibu tergagap, sambil meraih tangan Yuki dan menjabatnya dengan kedua tangan.

"Eh... Anu... Om mau beli apa ya?" Tanya yuki yg tampak kaget dengan aksi si wibu barusan.

"Kamu di jual gak, aku mau beli dong. Hehehe... becanda deng." ucap si wibu dengan nafas terengah-engah.

"Maaf ya om saya lagi kerja, jadi tolong jangan bercanda yg aneh-aneh." Ujar Yuki yg tampak mulai tidak nyaman.

"Kalau gitu aku mau minta foto aja deh." Pinta si wibu seraya mengeluarkan HPnya dan hendak merangkul yuki.

Yuki yg kelihatannya sudah jengah dengan kelakuan wibu paruh baya ini mulai kehilangan kesabarannya.

Dia mendorongnya dan membuat si wibu itu mundur beberapa langkah.

"Kenapa?... Aku kan cuma mau foto bareng aja." Ucap si wibu, sepertinya dia belum menyerah dan mencoba mendekati yuki lagi.

Rasanya akan ada malapetaka besar kalau gue membiarkannya. Jadi, gue terpaksa masuk ke tengah medan pertempuran itu untuk bisa mengendalikan situasi yg sudah genting ini.

Gue segera masuk ke celah diantara mereka sambil merentangkan tangan, untuk menghentikan langkah si wibu agar tidak mendekat ke arah Yuki, dan kemudian berkata,

"Chottomatte kudasai...!!!"
(yg dalam bahasa indonesia berarti 'Tunggu dulu')

Gue punya sedikit teori untuk bisa berhadapan dengan wibu akut seperti dia. Kita perlu sedikit memakai bahasa jepang dan berlagak ala karakter anime.

Agar dia mengira kalau kita juga pencinta anime dan membuat kita dalam posisi yg setara. Sehingga dia mau untuk mendengarkan omongan kita.

Ini hanya sekedar teori gue aja sih, entah benar atau tidak, gue juga gak tau. Tetapi dalam posisi genting kaya gini, gue hanya bisa mencobanya dan berharap ini akan berhasil.

Si wibu yg terkejut itu pun menghentikan langkahnya untuk mendekati yuki.

"Mohon maaf tuan pelanggan, sepertinya Yui-chan sedang sibuk jadi tidak bisa menemani tuan berfoto. Saya lebih menyarankan tuan untuk berfoto dengan one-chan (kakak perempuan) yg kawaii (imut) disana." Ujar gue sambil bergaya ala pelayan yg pernah gue lihat di anime.

"Lagi pula..." Kini mendekatkan mulut gue ke telinga si wibu, "cosplayer KW ini payah dan juga kurang BOOM."

Setelah mendengarkan bisikan gue barusan, si wibu itu memperhatikan yuki dari atas kepala hingga kakinya.

"Kau benar haciman, onesan di sana lebih BOOM, hahaha." ucapnya sembari menepuk-nepuk bahu gue dan kemudian pergi ke arah cosplayer lainnya.

Kenapa dia mengira gue sedang cosplay jadi hikigaya haciman?

Biarlah, setidaknya masalah ini sudah mereda. Gue pun melirik ke arah yuki, tatapannya yg tajam menusuk ke dalam mata gue.

Yuki hendak mengatakan sesuatu ke gue. Tapi aksinya di hentikan oleh tangan yg menggengam bahu kami berdua.

Tangan itu adalah milik seorang wanita berkacamata yg menatap tajam ke arah kami berdua. Entah kenapa, wanita ini mengingatkan gue kepada wali kelas gue Bu Lativa.

"Kalian berdua masuk ke staff room." Perintah si wanita itu, yg ternyata manager toko ini. Gue bisa mengenalinya dari badge bertuliskan 'manager' yg terpasang di kemejanya.

Kami pun menurutinya dan pergi keruangan yg di maksud bu manager tadi.

***

Sekarang kami tengah duduk di dalam sebuah ruangan berukuran 4x4 meter. Ruangan yg tertata cukup rapih layaknya ruangan kerja pada umumnya.

Terdapat meja kerja besar dengan laptop di bagian tengah dan sebuah monitor disebelahnya yg menampilkan hasil tangkapan dari CCTV. Tak lupa juga beberapa figure anime berukuran kecil yg menghiasi di sudut mejanya.

Gue hanya berduaan dengan Yuki, membuat suasana menjadi terasa canggung. Sedangkan si ibu manager itu belum kembali juga ke ruangannya, entah apa yg sedang dilakukannya di luar sana.

"Tadi bahaya banget ya ki." Ucap gue mencoba mencairkan suasana.

"Seharusnya lu gak usah berlaga sok pahlawan tadi. Orang kaya gitu bisa gue bikin pingsan dengan sekali pukul." Kata Yuki datar.

"Justru itu yg gue takutin. Gue ngelakuin hal tadi bukan buat nolong lu, tapi buat menghentikan lu agar gak menghajar si om-om aneh tadi." jelas gue.

"Oh, jadi lu lebih milih melindungi orang brengsek macem itu?" Tanyanya dengan tatapan tajam.

Seketika saja bulu kuduk gue berdiri di pandang seperti itu.

"Masalahnya gini ki. Orang yg lu sebut brengsek itu adalah pelanggan utama di bisnis kaya gini. Kalau lu hajar dia tadi, akan ada masalah besar nantinya." Jelas gue.

"Asal bisa mengahajarnya, gue gak perduli meski harus di pecat." Ujar yuki yg dibarengi suara pintu yg terbuka.

"Hhmm... Jadi kamu gak takut dipecat?" Tanya bu manager yg seketika masuk sembari membawa dua gelas teh hangat.

Ucapan itu, membuat ruangan menjadi sunyi seketika.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Buat yg sudah mampir, semoga terhibur dengan ceritanya.

Dibantu vote, share dan komennya juga ya.

Terima kasih :)

My Highschool Story : First Step  (TAMAT) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang