Warning: Khusus 18+ bijaklah dalam memilih bacaan yang sesuai usia ya.
Blaire dikhianati oleh kekasihnya, lalu menerima bantuan Jevan untuk balas dendam dengan cara yang berkelas. Tapi Blaire lupa kalau Jevan justru lebih brengsek. Ibaratnya, keluar...
Berhubung ini malam Minggu, Momi cari-cari alasan biar bisa update. Padahal harusnya bulan februari ya baru update.
Bilang apa ke Momi?
***
"Je, bisa bantu?"
Jevan menoleh ke kamar pas, di mana Blaire sedang berdiri membelakangi sambil menunjuk ke bagian belakang gaun yang harus dia bantu. Gaun itu adalah pilihannya, tapi seketika jadi menyesal meminta Blaire mencoba.
"Buruan kali Je," desak Blaire.
Jevan mendekat dan menaikkan rel penutup gaun itu ke atas. Kulit mulus Blaire masih terbuka di punggung.
Blaire sedikit masuk ke dalam untuk melihat cermin dan berputar. "Bagus nggak?" tanyanya.
"Emangnya ada yang jelek kalau Lo pake?" tanya Jevan balik.
Blaire mencebik, dipuji oleh Buaya kenapa rasanya biasa saja ya? Haha. Dia kembali menatap cermin, melihat ke samping dan belakang. Gaun itu sangat pas membungkus tubuhnya, untung saja bahannya nyaman.
"Langsung dipake aja," suruh Jevan. Meski dia tidak suka Blaire memakai gaun itu, karena terlalu terbuka, tapi memang ini yang dibutuhkan hari ini untuk menjalankan misi mereka. Dia suka Blaire yang sederhana, tapi pria bajingan seperti Arjuna?
"Bayar dulu kali."
"Udah."
"Hah?" Mata Blaire melotot. "Apaan sih Je, kok dibayarin lagi?" protesnya.
"Biar cepet." Jevan menggandeng tangan Blaire agar bergegas keluar dari kamar ganti yang berpotensi membuatnya menarik wanita itu masuk dan melakukan apa-apa di dalam sana.
Setelah dari toko pakaian, Jevan membawa Blaire ke salon. Pria itu berbicara dengan serius pada seorang pegawai di sana, dan Blaire hanya diam menunggu.
Sementara Blaire "direnovasi" oleh pegawai salon tadi, Jevan menunggu sambil mabar bersama Onyx.
Tiga puluh menit kemudian ...
"Je," panggil Blaire.
Jevan mengangkat kepalanya, dalam hitungan detik terpana. Blaire telah menjelma menjadi angsa yang sangat cantik.
"Kedip kali." Blaire menjentikkan jari di depan mata Jevan, lalu tertawa geli mengejeknya. "Iya tau kok gue cantik, tapi ngeliatnya biasa aja."
Jevan berdiri, mendekati Blaire. "Lo cantik banget," pujinya. Tatapannya lekat, tak mampu berkedip.
Blaire tersipu, meski menyangkalnya. "Menurut Lo ini nggak berlebihan?" tanyanya.
Jevan menggeleng.
"Emangnya cowok lebih suka sama cewek yang total kayak gini ya?" tanya Blaire.
"Nggak sih. Gue suka semua hal dari Lo. Mau Lo cuma pake kaus gembel, sendal jepit dan nggak mandi pun gue suka," jawabnya.
Blaire mencebik. "Jurus nomor berapa tuh?" ledeknya.
"Nomor tiga puluh enam," jawab Jevan asal, disertai kekehan.
"Banyak ya," sengit Blaire.
"Hehehe." Jevan menggenggam tangan Blaire. "Jalan sekarang aja yuk, sebelum gue keluarin jurus lain."
Blaire menurut.
Tangan Blaire masih berada dalam genggaman Jevan meski kini sudah di parkiran. Sampai Jevan membukakan pintu dan Blaire masuk tanpa ucapan terima kasih.
"Emangnya kita mau ke mana sih, Je? Kenapa gue harus berdandan kayak gini?" tanya Blaire penasaran.
"Nanti juga Lo tau."
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Blaire bersandar di depan kaca besar, bergaya seakan-akan sedang mencari perhatian pada siapa saja yang sedang melihatnya. Beberapa kali dia memainkan rambut panjangnya yang menutupi wajah, sangat cool. Sedikit informasi, ini ajaran Jevan. Sekarang, pria itu sedang bersembunyi di balik layar.
"Blaire?"
Tepat sasaran. Pancingan Blaire telah dimakan ikan yang tepat, umpannya sangat bagus. Arjuna tampak sangat kaget melihatnya, bagai baru kali ini melihat wanita cantik. Seperti kata Jevan, abaikan.
"Blaire, ini aku Arjuna." Arjuna pikir Blaire bisa melupakannya semudah itu, mana mungkin!
Blaire akhirnya menoleh, tapi tidak menunjukkan ketertarikan. Dia lalu melengos, tapi hanya sekian detik wajah Arjuna sudah terlihat lagi karena pria itu bergeser. "Bisa pergi nggak? Lo ngerusak pemandangan," usirnya.
"Blaire, astaga aku hampir aja nggak ngenalin kamu. Kamu cantik banget," puji Arjuna.
Blaire tersenyum sinis. Kenapa dia baru menyadari kalau mantan pacar brengseknya ini tidak setampan yang dipikirnya selama ini. Malah sekarang wajahnya seperti tukang gorengan, berminyak.
"Blaire, kok kamu nyuekin aku sih? Kamu masih marah ya sama aku?" Arjuna tampak sangat putus asa. "Aku minta maaf ya. Sumpah aku nyesel banget udah nyakitin kamu."
"Nyesel?" Blaire rasanya ingin tertawa, tapi nanti malah merusak formula menjadi wanita cool seperti yang Jevan ajarkan. Jadi dia hanya memasang ekspresi jijik.
"Iya, aku nyesel banget. Makanya aku putusin dia, karena ternyata kamu jauh lebih baik. Kamu mau, kan, jadi pacar aku lagi?"
Je, gue boleh gampar mukanya nggak sih? Sumpah tangan gue udah gatel banget.
Saat Blaire nyaris kehilangan kendali, Jevan datang di waktu yang tepat. Di depan Arjuna, pria itu merangkulnya. "Baru ditinggal bentar, udah ada aja yang ganggu kamu," ucapnya sengaja.
"Lo ngapain di sini?" tanya Arjuna tak suka. Terutama melihat tangan Jevan yang bertengger manis di pundak Blaire, membuat darahnya mendidih.
"Dia belum tau ya sayang?" tanya Jevan pada Blaire.
"Emang penting dia harus tau?" tanya Blaire balik.
"Sayang?" Arjuna sangat terkejut. Dia menggeleng cepat, "nggak mungkin."
"Bagian mana yang nggak mungkin?" tanya Jevan dengan wajah mengeras.
"Blaire pernah bilang, dia nggak akan pernah jatuh ke tangan Lo lagi. Pasti kalian lagi manasin gue doang, kan?" tanya Arjuna dengan kekehan meremehkan.
Jevan tersenyum sinis. Tiba-tiba dia menarik pinggang Blaire, dan mencium bibirnya. Di depan mata Arjuna, juga tamu-tamu lainnya.
Blaire terkejut, tapi tidak mungkin mendorong Jevan. Bisa-bisa Arjuna akan menyadari akting mereka. Maka demi kelancaran pembalasan dendam ini, dia rangkul leher Jevan dan membalas ciumannya.
"What the fuck!" teriak Arjuna.
***
Uhuy!
Satu kata buat Arjuna dong!
Mau part tambahan? Langsung aja ke Karyakarsa, dijamin panas dingin 😂