Bab 32. Penyesalan

18.2K 1.5K 659
                                        

"Gue yakin tim ini akan makin sukses, dengan atau tanpa gue. Kalian semua yang membentuk tim ini, bukan gue."

Hari ini, Jevan resmi mengundurkan diri dari jabatannya dan digantikan sementara oleh Onyx. Semua anggota tim yang begitu menyayanginya, hanya bisa pasrah dengan kesedihan yang tak terkira. Keputusan yang dia ambil ini sudah bulat, bagaimanapun semua orang tidak ingin dia pergi, dia tetap akan pergi.

"Bos, emang nggak bisa dipikirin lagi nih? Kita baru aja selesai liburan loh, masa udah ditinggal aja," keluh Gusti.

"Tau gini gue ikut deh kemaren, biar bisa terakhir liburan bareng pak bos." Lunar yang tidak ikut karena memilih liburan bersama pacar, kini menyesal karena menyia-nyiakan kebersamaan terakhir dengan atasan kesayangannya itu.

"Iya Je, batalin aja deh. Anggap aja Lo lagi nge-prank kita-kita sekarang, dan kita nggak bakalan marah," ujar Serly dengan wajah lesu.

Jevan memamerkan sebuah surat yang sudah ditandatangani, artinya dia sudah tidak bisa kembali ke sana. "Gue udah resmi ditendang dari sini," kekehnya.

"Ini sebenernya ada masalah apa sih di tim kita? Kemaren Ceysa yang tiba-tiba resign. Sekarang pak bos kita juga ikutan resign. Terus next siapa lagi yang mau ngasih kejutan?" tanya Lucky kesal. Dia yang paling sial di sini, karena baru saja kepindahannya ke tim Jevan disetujui, tapi si Bos kesayangan satu kantor itu malah resign.

Jevan melirik Blaire yang sejak tadi hanya diam memainkan kuku, tidak berusaha mencegah seperti yang lain. Dia makin yakin ingin pergi, karena satu-satu alasannya ingin bertahan tidak ingin dia tetap di sana. "Kalian masih inget omongan gue yang selalu gue sampaikan di meeting pagi nggak?" tanyanya.

"Mau sesukses apapun karir kita, Lo tetap kacung selagi masih kerja sama orang lain," jawab Andin.

Jevan menjentikkan jari. "Kalau mau jadi bos, jangan kerja sama orang. Ya, walau cuma bos tahu goreng, tapi Lo tetap diakui sebagai pengusaha," kekehnya.

Semua orang tertawa.

Perpisahan Jevan diwarnai dengan banyak candaan, karena pria itu tidak mau ada yang sedih atas kepergiannya. Seharian ini, mereka bagai sedang piknik di ruang meeting, ditraktir oleh Jevan makan sepuasnya dengan berbagai menu andalan.

"Bi, Lo nggak makan?" tanya Allura menyenggol lengan Blaire.

"Gue nggak laper," jawab Blaire tanpa minat sedikit pun.

"Gue traktir makan bukan karena kita semua laper, tapi buat ngerayain sesuatu." Jevan datang dan memberi piring berisi potongan pizza dengan keju berlimpah.

Allura sengaja menyingkir untuk memberikan privasi pada keduanya. Dia mendekati sang pacar yang kini tengah menduduki kursi kebesaran peninggalan Jevan, berlagak seperti sang mantan bos yang sedang memberikan wejangan, diiringi tawa karyawan lainnya.

"Sampai aku mau pergi pun, kamu tetap keras kepala," ujar Jevan dengan senyum miris.

"Emangnya aku harus ngomong apa?" tanya Blaire berlagak tenang. "Semua yang mau aku sampaikan udah diwakilkan sama mereka semua tadi."

"Nggak ada yang lebih personal gitu?" Jevan mengambil potongan pizza di piring yang diberikannya pada Blaire tadi dan memakannya.

"Thanks," ucap Blaire terlalu singkat.

Padahal, Blaire menyiapkan begitu banyak kata-kata tadi malam. Bahkan salah satu yang paling ingin Jevan dengar pun ingin dikatakannya hari ini. Tapi ternyata, semua tidak terucap dan hanya bertahan di kepala saja. Dia terlalu gengsi.

"Thanks?" Jevan mengerutkan kening. "Oh, karena aku udah kembalikan Ceysa?" sindirnya.

Blaire menghela napas, "Apapun itu, pokoknya terima kasih. Juga maaf." Dia kemudian berdiri, keluar dari ruangan meeting yang terasa pengap itu.

Pengap, karena rasanya ingin menangis.

***

Nyatanya, penyesalan memang selalu datang terlambat. Blaire merasakan itu sekarang. Saat Jevan sudah pergi, kekosongan mendadak membuatnya hilang akal. Dia yang semula bertekad tidak ingin mengantar pria itu ke Bandara, kini harus berlari sepanjang kemacetan agar bisa cepat sampai.

Tapi sekali lagi, sudah terlambat.

"Pesawatnya udah take off dari satu jam yang lalu," beritahu Ceysa.

Blaire yang tidak percaya, langsung mengeluarkan ponselnya menelepon Jevan, namun sudah tidak aktif. Dia mencoba berkali-kali lagi, dan hasilnya tetap sama.

"Percuma Bi, orangnya udah terbang jauh. Ngapain Lo cari lagi," desah Allura.

Blaire terduduk lesu dengan telapak kaki yang dipenuhi lecet akibat tidak memakai alas kaki saat berlari tadi. Dia menunduk, berjongkok menenggelamkan kepalanya di antara lutut. Menangis sesenggukan.

"Cewek tuh semua sama ya. Giliran cowoknya udah pergi, baru deh dicari." Onyx melenggang pergi lebih dulu. Dia tidak merasa simpati pada Blaire, karena salah wanita itu sendiri yang menyia-nyiakan kesempatan.

"Jevan titip ini buat Lo." Ceysa mengulurkan sebuah kotak persegi empat berukuran kecil.

Blaire mengangkat wajahnya dan mengambil kotak itu, lalu membuka penutupnya. Sebuah cincin. Matanya nanar menatap benda itu.

"Katanya itu tadinya mau dikasih pas ke rumah orang tua Lo, tapi karena nggak jadi dia minta gue yang kasih ke Lo." Ceysa menghela napas. "Katanya juga terserah mau Lo apain, asal jangan dibuang soalnya mahal."

"Kenapa nggak dia kasih sendiri ke gue?" tanya Blaire penuh air mata.

Ceysa mengangkat bahu.

"Udah yok pulang," ajak Allura.

Blaire pasrah. Dia tahu mereka semua marah padanya. Dia pun sadar sudah berlaku tidak adil pada Jevan. Bahkan di detik terakhir kepergian pria itu, Blaire masih keras kepala. Sekarang untuk apa menyesal? Jevan sudah terbang ke Paris, mengejar mimpinya yang ingin menjadi seorang fotografer profesional.

Sepanjang perjalanan pulang, Blaire terus menatap cincin sederhana yang dilapisi berlian kecil itu. Momen yang paling dia tunggu tidak terjadi sesuai dengan rencananya. Entah kapan sang pemilik cincin ini akan pulang. Atau ... Dia tidak akan pernah pulang lagi?

"Harusnya yang Lo biarin pergi itu gue, Bi. Mungkin semuanya bakalan baik-baik aja," ujar Ceysa masih sangat menyesal dengan keputusan Blaire terakhir kali.

"Harusnya gue nggak nyalahin Jevan," isak Allura.

Onyx menghela napas. "Jadi cowok tuh nggak enaknya, kalau udah pergi baru deh cewek-cewek ngaku salah. Nyebelin banget," keluhnya.

Blaire membayangkan seperti apa kekecewaan Jevan padanya saat ini. Pria itu pasti akan sangat bersyukur suatu saat nanti, karena kehilangan wanita yang tidak berharga ini.

"Gue mau resign dari kerjaan," ujar Blaire tiba-tiba.

Semua lantas menoleh dengan kaget.

"Kerja di sana cuma akan ngingetin gue sama Jevan. Mending gue kejar mimpi gue sendiri, sama kayak yang selalu dia bilang," ujar Blaire lagi.

Ceysa memegang tangan Blaire, "Gue dukung apapun keputusan Lo, asal jangan tinggalin kita semua."

Allura mengangguk.

"Gila ya, pada akhirnya emang cuma gue yang nggak akan punya pilihan hidup," keluh Onyx.

Blaire menangis dengan keras, hatinya benar-benar merasa sakit. Dia tidak yakin bisa melewati semua ini dengan mudah, karena Jevan sudah membawa sebagian semangat hidupnya ke Negara yang jauh. Tempat yang rasanya mustahil untuk dia datangi, untuk sekadar meminta maaf.

***

Menurut kalian nih Blaire salah gak sih?

Atau Jevan?

Atau Ceysa?

Masih sabar nungguin next episode?

Readers lama Momi pasti tau banget nih kalau Momi bukan tipe yang suka bertele-tele.

Kalian bakalan suka deh pokoknya dengan next part, hihihi.

Tapi spam komennya harus sampe 500 dulu (HARUS)

Sweet JealousyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang