"Bi, Lo ngapain sih nyusulin ke sini?"
Blaire langsung membalikkan badan, menghadap Ceysa yang sudah berada di tempatnya menunggu. Dia merasa beruntung karena sahabatnya itu belum pergi. Ditariknya Ceysa sedikit menjauh dari keramaian.
"Cey, Lo nggak harus pergi. Gue udah putus sama Jevan, jadi Lo nggak perlu ke mana-mana," ucap Blaire.
"Heh, apaan sih Lo?" Ceysa menatap Blaire bingung. "Jangan ngaco deh."
"Gue udah tau semuanya, Cey. Alasan Lo mau pergi, semuanya gue udah tau dari mereka."
Ceysa terhenyak.
"Kenapa sih Lo nggak jujur sama gue sejak awal kalau Lo suka sama Jevan? Gue bisa ngalah, Cey."
"Bi, kok Lo ngomong gini sih? Maksud Lo putus dari Jevan tuh apa? Karena gue?" Ceysa panik.
Blaire mengangguk.
"Gila ya!" Ceysa marah. "Jevan sayang sama Lo, Bi. Kenapa Lo malah ambil keputusan yang ngaco kayak gini?"
"Karena gue nggak mau persahabatan kita hancur, Cey."
"Astaga, Bi. Lo harusnya lebih mikirin perasaan Jevan, bukan gue. Jangan korbankan perasaan seseorang yang sayang sama Lo tulus, nanti Lo akan menyesal," bujuk Ceysa.
"Terus gimana dengan Lo sendiri? Lo juga berkorban di sini. Lo milih pergi karena mau tanggung sakitnya sendiri, kan? Terus Lo anggap apa gue dan persahabatan kita selama ini?" cecar Blaire.
"Bi, menurut Lo kenapa gue sampai pergi?" tanya Ceysa.
"Karena Lo nggak mau ada di antara gue dan Jevan, kan? Lo nggak mau hubungan kami berantakan kalau Lo nggak pergi," jawab Blaire.
"Lo salah," tegas Ceysa. "Gue memang sayang sama Jevan, tapi bukan berarti gue nggak akan bisa hilangin rasa itu. Makanya gue pergi biar hati gue bisa berubah."
"Kalau Lo sama Jevan, gue ikhlas kok, Cey. Gue beneran bisa relain dia demi Lo," lirih Blaire.
"Terus, Jevan bakalan jatuh cinta sama gue gitu? Dengan Lo ngerelain dia buat gue, terus hati Jevan pun akan ikut aturan Lo?" marah Ceysa. "Lo egois, Bi. Lo nggak mikirin perasaan dia sama sekali."
Jevan tiba-tiba muncul dan berkata, "Sejak kapan Bi pernah mikirin gue, Cey?" Terdengar sinis dan kecewa.
Blaire terdiam.
"Lo nggak usah pergi Cey, biar apa yang dia korbanin nggak sia-sia," minta Jevan. "Dia udah berkorban dengan kehilangan gue, jadi kasih apa yang dia mau."
Ceysa menggeleng.
"Please ..." mohon Jevan. "Jangan bikin gue makin merasa bersalah saat semuanya udah hancur, tapi dia tetap menatap gue seperti sampah."
Blaire terhenyak mendengar itu, tapi tetap tidak mengatakan apa-apa. Dia menunduk dalam ketika apa yang ingin hatinya katakan, terhalang oleh kerasnya kepala.
"Gue yang akan pergi," ucap Jevan setelahnya.
Blaire refleks mengangkat kepala dan menatap Jevan. Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi tetap tidak terucap.
"Kenapa jadi gini sih? Gue nggak mau masalahnya jadi sebesar ini." Ceysa menghela napas.
"Lo jangan salah paham. Masalah ini sebenernya cuma alasan biar gue bisa pergi. Kalian tau, kan, sejak dulu gue udah capek kerja di sana. Gue pengen cari suasana baru, dan mungkin ini saatnya dengan alasan yang tepat."
Ceysa menoleh Blaire.
Blaire sedang menatap Jevan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Jealousy
Roman d'amourWarning: Khusus 18+ bijaklah dalam memilih bacaan yang sesuai usia ya. Blaire dikhianati oleh kekasihnya, lalu menerima bantuan Jevan untuk balas dendam dengan cara yang berkelas. Tapi Blaire lupa kalau Jevan justru lebih brengsek. Ibaratnya, keluar...
