Bab 16. Balikan yuk!

23.1K 1.7K 589
                                        

Makasih buat yang udah spam di bab sebelumnya ya, kalian keren ♥️

Mau double update? Spam lagi atuh sampai 500 🔥

Serahhh spam apa aja asal jangan salty 😏

Selamat malam mingguan dengan Jevan, hati-hati diabetes 🤭

Tolong tandain typo ya, biar nanti Momi bisa revisi 🙏

***

Drrtttt.

Jevan mengambil ponselnya dari saku celana yang tersampir di sandaran sofa. Dia kembali duduk di tepi kasur sembari menggeser layar, membuka chat yang masuk.

Ceysa: Je, Lo gak pulang malam ini?

Jevan: Iya. Gue pulang besok pagi.

Ceysa: Sepi gak ada lo.

Ceysa: Gak ada temen berantem, hihi.

Ceysa: Cepet pulang ya, Je.

Jevan lama menatap layar ponselnya, membaca ulang chat itu. Dia merasa Ceysa sedikit aneh belakangan ini. Sebagai pria dewasa, bukannya Jevan tidak tahu apa yang kini wanita itu rasakan.

Pintu kamar mandi terbuka, Blaire keluar dari dalamnya dengan rambut setengah basah dan hanya memakai bathrobe. "Je, hape gue bunyi nggak?" tanyanya. Dia duduk di depan cermin meja rias, menyalakan hair dryer dan mengeringkan rambut.

"Nggak kayaknya." Jevan berdiri dan menaruh ponselnya ke atas meja. Dia lalu mendekati Blaire, berdiri di belakang wanita itu. "Sini biar aku bantu," ujarnya sembari mengambil alih alat pengering rambut itu.

Blaire mengerutkan kening.

"Kenapa?" tanya Jevan ketika Blaire menatapnya dengan ekspresi heran.

"Aku kamu udah nggak berlaku kali di sini," ledek Blaire. "Nggak ada yang perlu kita peranin lagi, its over."

"Enakan aku kamu nggak sih?" tanya Jevan serius.

"Terlalu sweet buat hubungan kita." Blaire mencebik.

"Bukannya emang hubungan kita itu sweet, ya?"

Blaire menatap Jevan lekat. Entah apa mau Jevan sebenarnya, dia bingung. Pria itu tidak tampak ingin serius, tapi terkesan ingin memilikinya. "Sumpah, sebenernya mau Lo apa sih, Je? Nggak jelas."

Jevan mematikan hair dryer, rambut Blaire sudah cukup lembab dan dia suka seperti ini. "Aku mau kamu," jawab Jevan sembari menaruh kedua tangan di tepi meja rias, mengunci tubuh Blaire. Dagunya dia taruh di atas kepala wanita itu.

"Mau apa nih maksudnya?" Blaire ingin diperjelas.

"Balikan yuk!" perjelas Jevan.

Blaire menatap Jevan lebih lekat lewat pantulan cermin itu. Sepertinya pria itu serius, karena tidak sedang tertawa atau memasang ekspresi lucu.

"Sini deh." Jevan mengajak Blaire ke sofa agar lebih nyaman ngobrolnya. Dia pangku wanita itu, berhadapan.

Blaire mulai deg-degan. Sejak dulu Jevan memang sangat suka posisi ini kalau sedang ingin ngobrol dari hati ke hati. Masalahnya, sejak dulu pun dia tidak pernah kuat bertatapan dari jarak sedekat ini, apalagi Jevan punya mata yang benar-benar menghipnotis lawannya.

"Dulu aku salah banget pas terima aja kamu putusin. Aku sama sekali nggak berusaha buat ubah keputusan kamu. Harusnya aku nggak kayak gitu, kan? Aku bego banget," sesal Jevan.

Sweet JealousyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang