Bab 37. Wanita Spesial

21.6K 1.5K 215
                                        

Hari ini Blaire rasanya sangat malas membuka toko, sebab Monic sedang sakit. Akibat tidak bisa tidur semalam, kepalanya kini sakit. Untungnya dari pagi belum ada pesanan bunga yang datang, sehingga dia masih bisa santai dan hanya duduk-duduk saja.

Ting!

Lonceng di atas pintu berbunyi, Blaire langsung menegakkan tubuh. "Halo, selamat datang di ..." sapaannya terhenti kala melihat sosok Jevan yang masuk.

Pria itu juga sepertinya kaget, namun langsung bisa menetralkan ekspresi wajah. "Gue kebetulan lewat sini dan lihat ada toko bunga," ujarnya sambil mendekat.

Gue?

Telinga Blaire rasanya asing dengan sapaan itu. Jevan sangat santai, tidak terlihat canggung sama sekali seakan hubungan mereka baik-baik saja. Ya, baik-baik saja yang berarti tidak ada apa-apa.

"Mau bunga yang seperti apa?" tanya Blaire berusaha profesional, walau hatinya menjerit-jerit ingin menangis.

Jevan mengedarkan pandangan melihat-lihat bunga yang ada di sana. "Kira-kira bunga yang cocok untuk wanita spesial yang sedang berulang tahun apa ya?" tanyanya yang kini sudah menatap Blaire kembali.

Wanita spesial.

"Mawar?" Blaire menunjuk contoh bunga mawar di sebelah kanan Jevan. Ada berbagai jenis dan warna.

Jevan menggeleng. "Dia nggak begitu suka mawar," beritahunya.

Dia.

"Gimana dengan chrysanthemum?" Blaire berjalan ke arah bunga Krisan warna merah yang terlihat cantik dan segar. "Bunga ini melambangkan cinta dan gairah."

"Boleh." Jevan mengangguk dengan mata berbinar. "Sekalian dibuatkan kartu ucapan bisa?"

"Bisa." Blaire mengambilkan kertas dan pulpen, lalu menyodorkannya pada Jevan.

Deg!

Jantung Blaire berdetak cepat ketika tanpa sengaja jari mereka bersentuhan. Tapi sepertinya hanya Blaire yang merasakan itu, karena Jevan benar-benar terlalu tenang.

Jevan sedang menuliskan sesuatu di atas kertas itu, wajahnya serius. Dia kemudian memberikan kertas itu pada Blaire. "Itu sekalian alamatnya. Kira-kira sebelum jam makan siang, bisa?" tanyanya.

Blaire membaca semua tulisan tangan Jevan itu. Bukan alamatnya yang jadi fokus matanya kini, tapi sebuah ucapan ... for the one and only in my life, I love you.

"Bisa?" ulang Jevan lagi.

Blaire mengangguk, matanya masih terfokus pada kertas itu. "Namanya nggak dikasih?" tanyanya.

"Gue pikir Lo masih inget nama gue," kekeh Jevan.

Lucu! "Maksud gue ... pemilik bunga ini," ucapnya dengan sesak yang tak terkira.

"Oh, nggak perlu." Jevan tersenyum.

"Oke." Blaire mengangguk.

"Jadi, berapa?" Jevan mengeluarkan dompetnya.

"Semuanya jadi sembilan ratu tujuh puluh lima," jawab Blaire. Andai ini bukan untuk wanita spesial yang Jevan maksud, mungkin dia akan memberikannya secara gratis.

Sebuah kartu hitam Jevan sodorkan pada Blaire. Wanita itu tanpa ragu mengambilnya. Sementara menunggu Jevan kembali melihat-lihat bunga di sana. "Sendirian aja?" tanyanya.

"Hari ini iya, pegawai gue lagi sakit," jawab Blaire.

Jevan mengangguk-angguk, terlihat sekali pertanyaan tadi hanya basa-basi.

Blaire sengaja berlama-lama di Kasir, berharap Jevan menciptakan obrolan lain untuk mereka. Namun lima belas menit berlalu pun, Jevan tetap diam saja. Malah kini pria itu sibuk dengan ponselnya. Dia pun memberikan kartu debit itu pada pemiliknya.

Sweet JealousyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang