je m'inquiète pour toi
Care about you
_______________
"Ini udah semua urusannya?" tanya Jaem melihat sekeliling ruangan rawat inap VIP yang di booking Mark untuk Gigi.
"iya, thank you bro" ucap Mark mengajak Jaem si dokter anak itu untuk ber-high five.
Namun, ajakan Mark ditolak oleh pria berkemeja biru muda garis garis tersebut. "ogah, ntar kalau dilihat sama pasien, aura keren gue berkurang sergah Jaem.
Mendengar itu Mark terkekeh, ia kembali mengucapkan terima kasih pada sahabatnya yang sudah membantunya. Lalu menepuk pelan bahu Jaem. Mungkin kalau bukan karena Jaem, Mark sudah sepanik paniknya panik di rumah tadi. Untung saja, kepribadian Jaem itu sabaran, ya cocoklah untuk modelan dokter anak yang harus menghadapi berbagai jenis kelakuan anak kecil.
"Gi, sehat sehat ya" seru Jaem pada Gigi yang kini berbaring sambil memerhatikan kedua sahabat itu.
Gigi hanya mengangguk pelan, kepalanya masih agak pusing, jadi cukup sulit untuk digerakkan.
"gue balik ya, mumpung lagi break maghrib, makanya punya waktu kesini. Bye," ujar Jaem keluar dari ruang rawat inap Gigi.
Mark membalikkan tubuhnya untuk melihat keadaan Gigi. Sekarang, tugasnya hanya menjaga Gigi dan memastikan wanita itu makan juga istirahat secara teratur.
"Pemandangannya cantik" Puji Gigi melihat langit Jakarta kala itu.
"hm," Mark setuju, ia sendiri terpukau dengan apa yang ditampilkan dari jendela dipojok ruangan. Mark kira Jakarta hanya dipenuhi dengan debu, asap asap kendaraan, dan bau tak sedap dari sungai sungai kotor. Ternyata ada indahnya juga, walau harus dilihat dari tempat yang tinggi.
"Gi" panggil Mark meraih satu koper kecil yang tadi diantarkan Mbak Ani pada mereka.
"kenapa?"
"ganti baju ya, terus makan, abis itu istirahat" ucap Mark memerhatikan manik mata sayu Gigi yang menoleh padanya
Gigi menggigit bibir bawahnya ragu mendengar tawaran Mark. Dia kan tidak bisa ganti baju sendirian, tangannya diinfus. "nanti aku bantu" lanjut Mark seakan bisa membaca apa yang ada di otak Gigi.
"kalau ga mau, aku bisa panggil su——"
"iya, mau. Bantuin ya" sela Gigi pada perkataan Mark. Mendengar jawaban Gigi, Mark tekekeh melihat wajah wanita itu yang gemas serta sedikit memerah.
Tangan Mark pun menarik tirai yang ada di sekitar ranjang agar bisa menutupi ranjang Gigi, lalu mengambil handuk kecil, tisu basah, wewangian Gigi, serta satu pasang piyama dari dalam koper yang diatur Mbak Ani. Setelah barang barang Gigi siap, Mark membantu Gigi untuk merubah posisinya menjadi duduk.
"Is it okay to touch your body?" Tanya Mark mencoba meyakinkan Gigi.
"it's okay Mark" jawab Gigi cepat. Lagipula sejujurnya dia juga sudah gerah dengan piyama ini karena keringat terus mengalir karena panas tubuhnya.
"Maaf ya, kalau aku bau" keluh Gigi ketika Mark mengikat pelan rambut Gigi agar bisa lebih bebas membersihkan setiap sisi tubuh Gigi yang tertutupi rambut panjangnya.
"Ngomong apa sih, gak bau kok" jawab Mark lalu membantu Gigi melepaskan piyama coklat tersebut dari tubuhnya. Setelah bagian atas Gigi sudah tak menggunakan seutas kain pun, Mark mulai membasuh tubuh mungil tersebut dengan handuk kecil yang sempat dibasahi air hangat.
Mark tak meninggalkan satu sisi pun, dia benar benar membersihkan tubuh wanita itu. "Mark, maaf ya kalau baunya ga enak" keluh Gigi lagi.
"Gi, ga ada baunya sama sekali. Lagipula ya, enak ga enak, bakal tetap aku bersihin" timpal Mark lalu menggosok pelan bagian pinggang ke punggung Gigi. Setelah itu berpindah ke bagian depan tubuh Gigi. Oh, dia tidak punya maksud lain pada tubuh wanitanya, tidak seperti yang kalian pikirkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Date
FanfictionKetika Mark dan Gigi terjebak karena perjodohan keluarga, tapi masing-masing dari mereka memiliki kekasih. Lantas, bagaimana caranya agar mereka bisa bertahan dengan pasangan mereka masing-masing ditengah keterpaksaan yang keluarga mereka lakukan? "...
