la vérité non dite
the truth untold
________________
Mark menarik kopernya melewati kumpulan orang di bandara Internasional John F. Kennedy atau biasa disingkat jadi JFK. Bandara yang terdapat di New York City. Oh, hell yes, he really went to america. That wasn't a joke. Dia berangkat subuh tadi, ketika satu rumah terlelap, dirinya dijemput Johnny ke Soetta. Walau dalam perjalanan ke Soetta dia dimarahi dan dimaki Johnny karena kelakuan dan keputusannya, pria itu sama sekali tidak peduli. Egonya benar benar menang kali ini.
Saat keluar dari pintu kedatangan, mata Mark sibuk mencari orang yang menjemputnya. Terlihat dari tempatnya berdiri, seseorang melambaikan tangan dengan senyum diwajah. Itu Tendra, salah satu sahabat dekatnya di NYC sekaligus ilustrator yang juga berkarya dibawah publisher yang sama dengan nya. "how are you, bro?" sapa Tendra ketika dia dan Mark melakukan high five.
"good, you?" tanya Mark yang kini berjalan sejajar dengan Tendra menuju area parkir.
"not that good tho. ada pesanan ilustrasi yang gue lakuin belakangan ini" jelas Tendra.
Mark pun hanya mengangguk sambil melihat sekeliling, dua bulan meninggalkan New York ternyata tak ada yang berubah. Para new yorkers masih sibuk dan masih menjadi workaholic dengan gelas gelas starbuck di tangan. Tak lupa telpon yang dijepit antara bahu dan telinga. Setelah memasukkan koper Mark ke bagasi, kedua pria itu pun mulai menelusuri New York dengan mobil merah Ten.
"padahal udah gue bilang, lo ga perlu datang. Ini tuh ga penting penting banget buat lo hadiri in person" jelas Tendra. Konteks? Ini membicarakan tentang perilisan novel baru Mark dengan judul snowy winter. Novel yang akan dirilis 3 hari lagi.
"publisher bisa ngelakuin via zoom" sesal Tendra lagi sambil sesekali mencuri curi pandang pada Mark yang kini memposisikan kursinya sedikit terlentang. Perbedaan 12 jam antara NYC dan Jakarta, membuat pria itu seperti hidup dua kali dalam sehari. Pergi pagi dari Indonesia, sampainya pun masih pagi di New York.
"I'm missing New York" sanggah Mark dengan mata terpejam.
"ga mungkin, rindu Herin ya?"
Mark menghembuskan nafas panjangnya mendengar nama perempuan keluar dari mulut Ten. "hm, kind of" jawabnya asal.
"if so, why you not just go straight to London? Why you stop in New York first?" demi Tuhan, bisa ga mulut sahabat disampingnya ini ditutup pakai lakban hitam dulu. Mark pusing.
"gue kesini utamain kerja dulu, Ten. Ketemu Herinnya bisa akhiran"
"kalau seminggunya penuh sama jadwal perilisan buku lo, gimana?" tanya Ten lagi, Heran, otak Ten tuh ada aja yang mau dia tau. Segala jenis pertanyaan bisa muncul diotaknya dan dengan mudah dia lisankan.
"yaudah, penerbangan gue yang seminggu diganti tanggal aja. Tambahin 3 hari" jawab Mark asal. Lagipula pulang ke Indonesia pun tidak ada gunanya. Gigi mana akan peduli dengan kepergian dan juga kedatangannya nanti. Yang penting perasaan itu hilang kan?
"and then——"
"bro, shut the fuck up. Gue jetlag banget." Potong Mark sebelum Tendra semakin banyak bertanya. Tapi, jujur dia benar benar jetlag. 20 Jam dipesawat, walau hanya duduk, nonton, mengetik, dan makan, tetap saja menghabiskan tenaga pria itu.
"btw, nomor indo lo hidup ga?" sahut Tendra tiba tiba.
"kenapa emangnya?"
"ga takut dicariin?" tanya Tendra lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Date
Hayran KurguKetika Mark dan Gigi terjebak karena perjodohan keluarga, tapi masing-masing dari mereka memiliki kekasih. Lantas, bagaimana caranya agar mereka bisa bertahan dengan pasangan mereka masing-masing ditengah keterpaksaan yang keluarga mereka lakukan? "...
