Petit ami, petite amie, et nouveau plan

3.7K 446 44
                                        

Petit ami, petite amie, et nouveau plan
boyfriend, girlfriend. and new plan

____________________



Di sore hari ini, ia berkunjung pada salah satu cafenya yang berkawasan di Jakarta Selatan. Selain butik dan bekerja sebagai designer, ia juga hidup dari uang hasil cafe & bakery nya. Bahkan, sebelum resmi menjadi seorang designer, kehidupan Gigi adalah bolak balik cafe. Walau semua kue kue disini adalah resep maminya, cafe ini dibangun atas nama namanya sendiri tanpa ada campur tangan maminya. Ia hanya sebatas izin untuk menggunakan resep maminya——toh, lagipula maminya senang membagikan resep itu pada Giselle——dan menjualnya dalam bentuk kue jadi seperti, kue tart, bolu, kue lapis, atau cupcake, juga beberapa jenis roti.

"Gi, kamu kapan mau milih milih design undangan sama Mark?" Gigi menghela napas panjangnya ketika entah berapa kali maminya mempertanyakan hal ini padanya. Ia tidak percaya, perjodohan yang mereka——keluarga keduanya——akan berjalan seserius ini. Kalau seperti ini, bagaimana caranya menghentikan atau bahkan mengulurnya?

"Mi, Gigi lagi di cafe nih. Lagi coba menu baru yang bakal dikeluarin" keluh Gigi sambil menjempit handphonenya pada daun telinga juga bahu kanan wanita itu.

"kan mami cuman nanya. semuanya udah siap, tinggal kalian aja nih, pakaiannya, undangannya, oh sama catering makanannya. kalau soal catering——" 

"iya Mih, nanti Gigi coba tanya Mark ya. Gigi habis ini mau ketemu dia, oke?" sela Gigi dengan tangan yang sibuk memotong menu kue terbaru di cafenya untuk ia cicipi.

"oh ya? baguslah? titip salam mamih ke dia ya hehehe. sesekali ajak makan dirumah gii" Gigi menghela napas panjangnya mendengar ucapan maminya. Huh, kayaknya memang sulit untuk menolak perjodohan ini.

"iya Mih, udah ya? Gigi tutup telponnya" setelah diiyakan oleh Yuri, Gigi pun menutup sambungan telpon itu dan kembali sibuk dengan dua menu cake yang akan diluncurkan besok oleh cafenya. 

Sebentar malam ia memang punya janji dengan Mark, tapi bukan janji yang seperti keluarga mereka inginkan atau bayangkan. Bukan janji untuk pergi menemui designer baju pernikahan atau janji untuk memilih design aula pernikahan mereka——oh Gigi lupa, ini sudah diselesaikan sama keluarga mereka. Kedua insan itu memiliki janji untuk membicarakan apa yang perlu keduanya ketahui dan pahami untuk acara perjodohan ini. Dan Gigi pastikan, ia akan langsung pulang dan tak ingin berlama lama dengan Mark, itu membuatnya tak nyaman. 

"hm, mungkin kita bisa pakai resep krim seperti biasanya untuk kue choco-oreo ini. lalu untuk kue yang ini udah enak kok, udah" komen Gigi pada chef juga baker yang menunggu reaksinya akan menu baru tersebut.


___________________


"Kak, where you gonna go?"  wanita paruh baya yang biasa Mark panggil dengan sebutan Mama itu memasuki kamar Mark. Pria yang sedang berdiri dihadapan lemarinya dengan tangan berkacak pinggang sontak menoleh melihat Yeaji disana.

"oh, mom. ummm, I have janji sama Gigi" ucap Mark lalu kembali menoleh pada lemarinya sambil menyisikan baju yang kemungkinan ia gunakan malam ini.

"owh, nice. mama baru mau bilang kalau kalian harus obrolin design undangan pernikahan secepat mungkin. Kalau kalian tidak bisa memilih, mungkin mama dan maminya Gigi bisa milih" jelas Yeira duduk di tepi tempat tidur anak bungsunya.

Gerakan tangan Mark berhenti ketika mendengar ucapan Yeira, ia tak menyangka akan sejauh ini. Terlebih lagi, mereka baru ketemu seminggu lalu, tapi design bahkan booking gedung juga gereja sudah selesai hari ini tanpa sepengetahuan keduanya——ia dan Gigi. "Setelah pilih undangan, baru deh kalian ke butik teman mami buat fitting gown" Mark membuang napas panjangnya mendengar itu. Dia benar benar harus membicarakan ini dengan Gigi, kalau tidak urusannya akan semakin panjang dan rumit. Akan lebih sulit untuk menghentikan semua ini. 

Second Date Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang