7

457 55 4
                                    

    

         Setalah selesai dengan drama yang di lihat oleh Taeyong, akhirnya sekarang dia bisa duduk di ruang tamu, dia menyenderkan kepalanya ke badan sofa. Cukup melelahkan perjalanan mereka walaupun membutuhkan dua jam lebih tapi Taeyong juga lelah pada hatinya yang masih belum stabil.

"Sepertinya aku harus cepat mencari pengganti, persetan jika nanti aku mendapat duda itu tidak masalah. "

"Ini teh mu. "

Taeyong duduk dengan benar lalu mengangguk "terima kasih eum siapa tadi Joni?."

Plak!!

Taeyong mengelus belakang kepalanya yang terasa sakit, Taeyong menatap Ten sebagai pelaku pemukulan nya.

"Kau suka sekali memukulku. " Keluh Taeyong, dia terus saja mengelus belakang kepalanya.

"Aku kesal padamu, nama kekasihku bagus kau ubah menjadi jelek seperti itu. " Ten sedang berbaring di sofa, sofa nya sangat luas hingga bisa membuatnya berbaring "nama dia Johnny bukan Joni. "

Taeyong ingin membalas ucapan Ten sebelum dia melihat uluran tangan di depannya ini, Taeyong juga menyambut uluran tangan tersebut.

"Perkenalkan namaku Seo Johnny kekasih Ten. "

Taeyong mengangguk, tentu saja dia tau apalagi di kuatkan dengan bukti yang sangat sangat panas.

"Aku Lee Taeyong, teman Ten. "

Johnny tersenyum, dia tau karena sebelumnya Ten sudah memberitahunya tentang Taeyong ini apalagi tentang masalahnya yang baru di alami.

"Kau bisa tidur di kamar samping kamarku, kamarnya berada di lantai dua dengan cat putih. "

"Apa aku tidur dengan Ten? "

"Tentu tidak, Ten akan tidur denganku, aku merindukannya. "

Taeyong tersenyum lemah, dia bukan tidak suka mereka berdua apalagi dia sampai menyukai si Johnny itu tidak akan pernah terjadi. Hanya saja apa yang akan terjadi nanti malam? Waktu tadi saja mereka berbuat mesum apalagi nanti malam dan berada di kamar, dia hanya mau tidur tenang tanpa di ganggu suara aneh sekalipun.

"Semoga kamarnya kedap suara dan aku bisa tidur dengan nyenyak. " Gumam Taeyong sambil memejamkan mata.

Sialnya Taeyong lupa bahwa pendengaran Ten sangat bagus, jadi gumaman tadi pun ia mendengarnya.

Ten tersenyum miring dia mulai mendudukkan dirinya lebih dekat ke arah Johnny, dia bahkan menumpukan tangannya pada bahu Johnny. Sebenarnya perbuatan Ten membuatnya terkejut, dengan tiba tiba mendekatinya lalu menaruh kepalanya di atas bahu, tapi setelah melihat kedipan mata yang di berikan oleh Ten, Johnny mulai paham. Kekasihnya mau menjahili temannya itu, sudah tidak di ragukan lagi kalau kekasihnya memang usil.

"Kau membeli apa yang aku suruh kan sayang? "

Johnnya mengangguk, tangannya juga mulai mengelus rambut Ten yang sangat halus itu "iya, aku sudah membelinya untuk persiapan nanti malam. "

Ten bertepuk tangan heboh "bagus, dengan banyak rasa kan? Aku ingin mencoba semuanya. "

Taeyong yang awal mula sibuk dengan ponselnya setelah mendengar perkataan Ten dia mulai mengerutkan keningnya, itu cukup mengganggu pikirannya. Taeyong tak se polos itu kawan, dia sudah tau hal yang begitu hanya saja menunggu waktu prakteknya saja. Taeyong tidak mengacuhkan pembicaraan mereka, dia bahkan hanya cuek saja dan terus bermain ular tangga di ponselnya. Lee Taeyong dan keunikannya.

"Tentu, aku sudah membeli dengan variasi rasa. Bukan hanya kau yang tak sabar menanti nanti malam tapi aku juga. "

Tangan Ten terulur untuk mengelus wajah Johnny "aku akan melayani mu dengan senang hati. "

The First Lie Of Happiness [Kaiyong] √Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang