di chapter ini mungkin ada jawaban atas pertanyaan kalian dari cerita Yara, disimak dengan baik ya! <3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jeka, aku pergi dulu! Mas Raka sudah datang!"
Yara berlalu pergi begitu saja keluar dari rumah setelah mendengar suara klakson mobil dari depan, tak mempedulikan sang suami yang masih berada di dapur untuk mencuci piring, bahkan wanita itu tak mau repot-repot pamitan dengan baik pada Jeka karena sudah tak sabar ingin pergi dengan Raka.
Inilah permintaan bayinya yang lain setelah memancing di kolam ikan Alan dan membeli kuda, yaitu pergi jalan-jalan seharian bersama Raka.
"Mas Raka!" Serunya ketika membuka pintu mobil, masuk ke dalam dengan senyum lebar bak orang gila.
Raka yang melihat Yara begitu jadi tersenyum sendiri sampai lesung pipinya terlihat, tak aneh sebenarnya melihat bagaimana ramahnya seorang Yara, tapi kalau dengan senyum lebar begini jadi membuat Raka agak canggung, "Kau sungguh ingin pergi denganku?"
Yara mengangguk, memasang seatbelt-nya sembari Raka mulai melajukan mobilnya perlahan meninggalkan area rumah Jeka. Tanpa keduanya sadari, ada Jeka yang baru saja tiba di teras dengan tangan penuh sabun dan apron yang terpasang di tubuhnya. Jeka berteriak, namun mobil itu terus melaju semakin jauh, meninggalkan Jeka yang berdecak dengan perasaan dongkol. Yara dan calon anaknya memang sangat menggoda iman dan kewarasannya, bagaimana bisa Yara pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan baik? Apalagi perginya bersama lelaki lain pula!
"Mbak Acha dan Tiara di rumah orang tua mbak Acha ya, mas?" Tanya Yara.
Raka mengangguk, "Kok tahu?"
"Iya, Yara semalam juga menghubungi mbak Acha! Katanya tidak apa-apa, kebetulan mbak Acha sedang di rumah orang tua, begitu katanya!"
"Ah, begitu! Aku memang sengaja tidak ikut ke rumah mertua karena masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan dan berniat menyusul hari ini, tapi kau minta jalan-jalan denganku," Jawab Raka.
Yara hanya terkekeh, "Maaf, ya? Soalnya rasa ingin pergi dengan mas Raka tak bisa ditahan."
"Aku bisa mengerti itu, aku juga pernah mengurus istri yang sedang hamil dan permintaannya memang selalu aneh-aneh, jadi aku bisa mengerti itu! Kasihan juga kalau aku menolak, nanti kau dan Jeka punya anak ileran," Katanya dengan tawa di akhir kalimat.
Yara mencibir, "Ish, mas Raka! Eh, tapi nanti anak kita bisa jadi bestie, ya?"
"Tentu saja! Apalagi anakmu juga perempuan dan jarak mereka tak terlalu jauh, hanya beda-- 1 tahun?"
Yara mengangguk, "1 tahun lebih sedikit."
"Sudah cari nama untuk bayi kalian?" Tanya Raka, menoleh sekilas pada Yara.
"Sudah, tapi masih belum menemukan yang tepat. Giliran aku suka, Jeka tak suka. Giliran Jeka suka, aku tak suka. Jadi pusing!"
Raka tertawa, sudah sampai sering sekali ia diberi cerita oleh Jeka tentang Yara yang mendadak jadi menyebalkan ketika hamil. Bahkan sahabatnya itu cerita kalau ia dan Yara jadi lebih sering bertengkar dan adu mulut, berakhir dengan Yara yang menangis dan Jeka yang mengalah untuk minta maaf padahal sebenarnya Jeka tak salah. Raka beruntung saja kalau istrinya dulu makin menempel dan manja padanya ketika hamil, tak bisa bayangkan kalau jadi Jeka, mungkin Raka bisa menyambangi psikolog berulang kali karena stress.