36; Namanya Abel

649 118 30
                                        

guyssss ga mungkin aku bikin Yara meninggal, aku pengen bikin cerita ini sampe Jeka Yara tua huhuhu (╥﹏╥)

tidak ada sad ending karena aku benci sad ending😠
hehe

enjoy guys! 💗

Hal yang pertama kali Yara lihat ketika membuka mata adalah langit-langit ruangan yang begitu putih, pikirannya masih belum tersambung dengan tubuh sepertinya, ia juga belum sadar sepenuhnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hal yang pertama kali Yara lihat ketika membuka mata adalah langit-langit ruangan yang begitu putih, pikirannya masih belum tersambung dengan tubuh sepertinya, ia juga belum sadar sepenuhnya. Tak ada suara apapun di ruangan ini selain dentingan jam dinding, membuat Yara merasa asing ketika membuka mata. Ia tak mati, 'kan? Kalau ia mati bagaimana? Jeka bagaimana? Anaknya bagaimana?

Setelah itu Yara ingat kalau ia sudah melahirkan, perutnya telah rata, dan memori suara tangisan, wajah, dan tubuh mungil anaknya memasuki kepala. Ia ingat jelas kalau ia sempat melihat anaknya menangis di gendongan dokter sebelum ia memejamkan mata dan tak ingat apapun setelah itu.

"Yara!"

Merasa namanya dipanggil, Yara menoleh pada sumber suara, lebih tepatnya ke arah pintu ruangan ini. Ia mendapati Callia sedang melangkah cepat ke arahnya dengan sebuah keranjang berisikan buah-buahan.

"Kau sudah sadar, nak?" Tanya Callia dengan antusias, setelah meletakkan tas serta keranjang berisikan buah di atas nakas rumah sakit.

Yara mengangguk, "Anak Yara bagaimana, bunda? Dia dimana?"

Callia mengusap kepala Yara dengan senyuman lebar disertai rasa haru, senang sekali karena akhirnya Yara sadar setelah 11 jam pingsan, "Dia aman di ruang bayi. Karena ruang bayi sedang dibuka untuk umum, papa dan Jeka sedang melihat anak kalian! Dia lucu dan cantik sekali, perpaduan wajah Jeka dan kamu."

Yara mengulas senyuman, tak terlalu ingat bagaimana rupa putrinya karena terakhir ia melihat pun, putrinya masih dibalut dengan banyak darah, "Yara kenapa pingsan?"

"Kau pendarahan hebat, tapi untung saja dokter segera menangani dan memberi donor darah," Jawab Callia, duduk di salah satu single chair yang ada di sebelah ranjang rumah sakit.

"Yara bingung kenapa Yara sudah melahirkan, padahal menurut jadwal dan prediksi dokter masih 15 hari lagi."

"Itu 'kan hanya prediksi, nak! Kita tak bisa sepenuhnya percaya pada dokter karena semuanya tergantung Tuhan dan juga kondisi kandunganmu. Itulah kenapa sebaiknya sudah siap siaga sejak lama walau telah dijadwalkan. Duh, untung saja kau dibawa oleh Parman dan Agus kemari dengan cepat, air ketuban dan darah sudah mengalir banyak hingga membuatmu mengalami pendarahan!"

Yara mengangguk, "Yara bersyukur mereka datang di waktu yang tepat. Saat itu Yara sudah tak kuat untuk teriak karena rasanya sakit sekali!"

"Lalu bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah merasa baikan? Pusing?" Tanya Callia mengecek tubuh Yara dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Yara menggeleng, "Yara baik-baik saja, kok!"

Callia menghela napas lega, "Syukurlah! Kami semua khawatir bukan main karena kau tiba-tiba menutup mata setelah melahirkan, untung saja dokter bisa menyelamatkanmu. Kau sudah pingsan sejak 11 jam yang lalu, ini sudah sore lagi."

✓ Mi CasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang