7; Masih ada Rasa?

739 134 44
                                        

Rabu malam, ketika Jeka Arche baru saja sampai rumah untuk mengistirahatkan dirinya yang terlampau lelah setelah bekerja seharian, Jeka tiba-tiba mendapatkan pesan dari group chat khusus pria golongannya bahwa mereka sedang berkumpul di bar milik ...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rabu malam, ketika Jeka Arche baru saja sampai rumah untuk mengistirahatkan dirinya yang terlampau lelah setelah bekerja seharian, Jeka tiba-tiba mendapatkan pesan dari group chat khusus pria golongannya bahwa mereka sedang berkumpul di bar milik Sean dan meminta Jeka untuk bergabung.

Jeka menimang, awalnya ia pikir ia mau menolak saja karena ia lelah bukan main hari ini, tapi kalau dipikir-pikir, kapan lagi bisa berkumpul kala para sahabatnya itu telah sibuk dengan dunia dewasa mereka masing-masing?

Apalagi ini pertama kalinya mereka berkumpul setelah Jeka kembali dari Amsterdam, akan jadi pertemuan kedua kalau Jeka turut berkumpul setelah pertemuan di acara Raka kala itu.

Setelah menimang dengan banyak pertimbangan, Jeka akhirnya memutuskan untuk ikut menimbrung, membersihkan dirinya sendiri dulu yang lengket dan gerah sepulang dari kantor sebelum memasang pakaian casual pada tubuhnya.

Letak bar Sean yang memang sedikit jauh dari rumahnya cukup memakan waktu bagi Jeka mengendarai Maserati hitamnya ke bangunan mini yang kini sudah dikenal banyak orang itu, ketika ia sampai, semua kawannya telah sampai disana menyambut Jeka dengan salaman yang mereka ulurkan satu per satu pada Jeka.

"Akhirnya formasi kita lengkap juga!" Seru Kevin.

"Kau rindu berkumpul dengan kita, tidak?" Tanya Haru, menyenggol tubuh Jeka yang duduk di sebelahnya.

Jeka mengangguk dengan senyuman, "Rindu sekali, bukannya aku sudah pernah bilang beberapa kali lewat chat kalau aku iri tiap kali melihat kalian bisa berkumpul bersama sedangkan aku sendirian di Amsterdam?"

Kelima pria yang satunya tak lagi lajang itu tertawa. Masih ingat kalau mereka tak pernah lost contact dengan Jeka bahkan sejak hari pertama Jeka tak lagi di Indonesia. Mereka selalu bertukar kabar melalui group chat khusus pria yang mereka buat untuk saling mengirim dan bertanya kabar satu sama lain. Mereka juga sering mengirimkan foto kebersamaan mereka kalau sedang berkumpul, mengirimkannya di group chat dan membiarkan Jeka tahu kalau mereka sedang menikmati waktu bersama tanpa melupakan eksistensi Jeka yang sedang berjuang mendapatkan gelar di negara kincir angin itu.

"Bukankah ini sudah saatnya kita melayangkan banyak pertanyaan yang selama ini terkumpul di kepala kita pada Jeka?" Tanya Raka, menatap temannya satu per satu.

Pasalnya mereka ini sebenarnya punya banyak sekali pertanyaan tentang keputusan Jeka yang mantap kuliah di Amsterdam, padahal tadinya pria itu tertarik pada sebuah universitas ternama di Indonesia sebelum akhirnya pindah haluan ke Amsterdam.

"Benar, kenapa kau tiba-tiba pergi ke Amsterdam? Itu mendadak sekali, kami semua sampai terkejut mendengarnya," Tanya Sean, menuang liquid berwarna keemasan pada gelas sloki milik Jeka.

Jeka mengulas senyum, "Hanya ingin. Aku hanya ingin punya pengalaman baru!"

"Lalu kenapa lama sekali? Bukannya normal orang kuliah 3 hingga 4 tahun? Kau 7 tahun hampir 8, loh! Kau ambil S2?" Tanya Raka.

✓ Mi CasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang