15; Kesekian Kalinya

714 133 86
                                        

Ada yang minta double up, yauda deh aku kasih karena aku lagi pengen double up hehe💗

Ada yang minta double up, yauda deh aku kasih karena aku lagi pengen double up hehe💗

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sayang, jangan ngambek terus!"

Yara yang membelakangi Vino memutar bola mata, geli sekali kalau dipanggil sayang begitu, apalagi ini masih di kantor.

"Yara, jangan marah lama-lama!" Kata Vino lagi, mencoba meraih tangan Yara yang sedang sibuk memilah berkas.

Yara langsung memutar tubuhnya dan menatap Vino jengah, "Aku tidak akan marah kalau kau tak berulah!"

"Aku tak melakukan apapun, aku hanya membantu Cheryl malam itu!" Sergahnya, membela diri.

Ya ya ya, memang Vino selalu seperti itu, tak pernah merasa bersalah setelah meninggalkan Yara sendirian demi gadis lain. Rasanya sampai sudah muak.

Semalam ketika mereka sedang kencan, Vino lagi-lagi meninggalkan Yara di tengah-tengah kencan setelah mendapat telepon dari Cheryl, kali ini alasannya Cheryl butuh bantuan untuk pergi ke rumah sakit, hendak melakukan check up katanya.

"Ingin kubelikan apa agar tak marah lagi padaku?" Tanya Vino lagi, duduk di meja kerja Yara agar bisa menatap wajah sang pacar yang tampak kesal.

"Aku tak mau apapun."

"Kalau mie pedas bagaimana? Kulihat sedang ada promo beli satu gratis satu," Tawar Vino, membuat Yara melirik singkat pada pria itu dan detik itu Vino tahu bahwa Yara tertarik.

Yara menelan ludahnya, sudah 2 minggu lebih sejak ia pergi bersama Niko dan Jeka, sejak hari itu juga ia telah menahan keinginannya untuk beli mie pedas.

"Mau, ya?" Tawar Vino sekali lagi, meraih tangan Yara lagi.

Yara mengangguk malu, membuat Vino tersenyum lebar dan melarikan tangannya untuk mengusap rambut Yara, "Begitu, dong! Jangan suka ngambek, nanti cepat tua."

Yara mendengus, kalau tidak ditinggalkan juga Yara tak akan mengambek.

"Sudah selesai belum dengan berkasnya?" Tanya pria itu yang diangguki oleh Yara.

Jam pulang memang sudah lewat sejak 20 menit yang lalu tapi Yara masih harus menetap di kantor karena ada sebuah pekerjaan yang harus ia kerjakan, kebetulan sekali Vino juga belum pulang, jadi pria itu menghampirinya dan membujuknya. Untung saja keadaan kantor sudah sepi, hanya ada Yara seorang diri di kantor divisi-nya.

"Yuk!" Kata Vino, meraih jemari Yara untuk digenggamnya dan keduanya melangkah keluar dari ruangan kerja Yara untuk menarik elevator.

"Oh, sedang hujan!" Kata Yara ketika mereka sudah berada di mobil dan keluar dari basement gedung kantor.

"Ini sudah hampir akhir tahun, musim hujan telah tiba, jadi sering hujan akhir-akhir ini!" Kata Vino yang disetujui Yara dalam hati.

Yara memang sedikit tak menyukai hujan, apalagi ketika ia harus pergi keluar rumah, jalanan akan jadi basah dan lembab, itu kenapa Yara tak suka musim hujan. Yara juga tak suka musim panas, udaranya panas sekali sampai membuat setiap manusia berkeringat. Bisa tidak sih dunia ini mendung saja tanpa hujan atau tanpa panas?

✓ Mi CasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang