Bagian 3

3.4K 192 7
                                        

Ada yang nungguin cerita ini, nggak? Jangan lupa jejak vote dan komentarnya.

======

"Apa Anda mau menikah dengan menantu saya?"

Kalimat dari nenek Mic terus terngiang di pikirannya. Ia bisa memaklumi permintaan konyol anak didiknya tersebut.

Mayang paham jika Michael sesungguhnya sangat mendambakan perhatian dan kasih sayang dari keluarganya. Jadi sangat wajar jika tiba-tiba Mic meminta Mayang menikah dengan papanya.

Lha ini? Ini orang dewasa! Ibu dari Intan, istrinya Indra. Seorang ibu yang bagaimana sampai bisa melamar seseorang untuk menantunya? Bagaimana mungkin ini terjadi.

Tak dipungkiri jika diam-diam mayang pun menaruh kagum pada sosok papanya Michael. Kalau saja dia haus kekuasaan dan mau bersikap egois, tentu tidak susah untuk meng-iya-kan permintaan Michael dan Lastri.

"Jangan lakukan itu, Mayang. Kalau kamu sampai menikah dengan Indra, bagaimana dengan Intan. Kamu perempuan. Tidak selayaknya perempuan baik-baik bisa merusak kebahagiaan perempuan lainnya."

"Sudah, Mayang! Terima saja. Toh Intan sudah meninggal, kan? Kamu tidak merusak kebahagiaan siapapun. Justru kamu akan membawa kebahagiaan bagi Michael dan keluarganya."

Kepala Mayang makin pusing. Penyakit Skizofrenia yang sudah lama tidak mengganggunya kini seperti ingin menyapanya kembali.

Suara-suara dewi batin Mayang saling bersahutan, membuat denyutan di kepalanya semakin menjadi.

"Aaaarkkhh ... DIAM!!! Aku tidak butuh pendapat kalian."

Seketika suara-suara tak jelas itupun menghilang. Haruskah ia selalu membentak terlebih dahulu agar mereka tidak terus-terusan berdebat di otak Mayang?

Setelah mendamaikan pikirannya, Mayang pun mencoba mengistirahatkan diri. Terjaga tengah malam sangat tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raganya.

***

Lastri menata beberapa hidangan makanan yang baru saja ia masak. Kemarin setelah menjemput Michael dari sekolah, ia tidak menemukan Indra di rumah.

"Ratri, Indra belum pulang?" tanya Lastri pada ART Indra.

"Belum, Bu."

"Padahal ini sudah mau maghrib, lho."

Ratri hanya tersenyum dengan kepala masih menunduk.

"Biasanya Indra pulang jam berapa?"

"Paling cepat jam sembilan, Bu," jawab Ratri.

Lastri mengembuskan napas gusar. Tidak habis pikir dengan menantunya itu. Jika kebiasaan Indra seperti ini, apa kabar dengan cucu kesayangannya?

"Pantas saja Mic ingin punya mama baru," gumam Lastri yang masih bisa didengar oleh Ratri.

"Apa, Bu? Den Michael pengen punya mama baru?" ucap Ratri yang pipinya sudah merah merona.

Lastri memandang Ratri dengan tatapan tidak suka. "Bukan kamu!"

Karena Lastri tidak tega meninggalkan cucunya sendiri di rumah -meski sudah ada Ratri-, ia pun memutuskan untuk bermalam menemani Michael.

"Mama masak banyak sekali. Padahal yang makan cuma kita," ucap Indra yang baru saja masuk dapur untuk mengambil air minum.

"Siapa bilang cuma kita?"

"Lha terus?"

"Michael semalam bilang kalau mau membawakan makanan untuk calon mamanya."

Uhuk!

Hanya Istri SiriCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang