Bagian 28

2.3K 161 20
                                        

"Aku tidak pernah mendidikmu menjadi lelaki egois. Pikirkan nasib mereka juga. Kalau kamu tidak bisa memikirkan perasaan Intan dan Mayang, setidaknya lakukan itu untuk janin yang ada di kandungan Intan dan Mayang."

"A-Apa?"

Enam pasang mata di depan William sontak terbelalak, tidak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki tua ini.

"Kamu hamil, Mayang?"

Mayang kebingungan, tidak tahu harus jujur atau terus menutupi kehamilannya.

"Maksud Papa, nanti kalau Mayang hamil."

Mayang dan Intan membuang napas lega, sedangkan tampak sekali kekecewaan di raut Indra. Mayang melihat itu, ada sedikit rasa haru. Ternyata suaminya juga menginginkan kehamilannya.

"Saya tidak bisa menuntut perceraian, setidaknya kabulkan keinginan saya untuk pergi dari rumah ini. Saya paham ketulusan Bu Intan, tapi saya tidak bisa membiarkan sesama perempuan merasa sakit karena saya, disadari atau tidak."

"Aku sudah menganggapmu sebagai adikku."

"Dan tidak semua adik kakak harus satu rumah, Kak Intan." Mayang kembali menyematkan panggilan kakak pada Intan.

"Kamu tidak membenciku, kan, May?"

"Tidak, Kak. Mungkin hubungan kita akan jauh lebih membaik dengan tidak setiap hari bertemu."

"Sering-seringlah main ke sini."

***

Semalam suntuk Indra memikirkan ini dan mungkin inilah yang terbaik. Indra mengizinkan Mayang untuk memisahkan diri.

Mayang kembali ke kontrakannya. Sebenarnya Indra ingin menempatkan Mayang di rumah Indra yang lain, tapi Mayang menolak. Ia lebih nyaman dengan yang sudah ada.

"Ma, Mic boleh tidur sini dan ikut Mama Mayang?"

Mayang tidak menjawab. Bukan melarang Mic, tapi yang lebih berhak menjawab adalah Intan, ibu kandungnya.

"Sayang, kamu boleh tiap hari main ke sini. Tapi kalau kamu tidur sini, nanti Mama kesepian, dong," jawab Intan.

Meski merajuk, anak itu pun menurut. Mereka semua duduk di satu sofa panjang sambil menonton televisi.

Indra menggenggam mantap jemari Mayang, seakan tidak ingin berpisah. Padahal setiap saat pun ia bisa datang ke rumah ini.

Intan melirik genggaman tangan itu. Ia tersenyum meski hatinya sedikit teriris. Betapapun ia berusaha menyadarkan diri jika Indra bukan lagi miliknya seutuhnya, tetap saja ia seperti tidak rela.

Memang sangat wajar untuk sakit hati. Tapi ia berusaha tidak memilih itu. Baginya, ia sangat berutang budi pada adik madunya ini.

"Mas Indra tinggal sama mayang hari apa aja?" tanya Intan.

"Kalian saja yang menentukan."

"Bagaimana, May?"

"Terserah Kak Intan saja. Aku orang baru, Kak. nggak mau ngatur-ngatur," jawab Mayang.

Jika boleh menjawab, Mayang ingin terus bersama Indra. Ia ingin memiliki Indra seutuhnya. Tapi lagi-lagi, kenyataan menamparnya. Ia hanya istri ke dua, dan hanya istri siri.

"Ya sudah. Tidak usah berpatokan hari. Dua hari di sini, dua hari di sana."

Indra menjatuhkan putusan dan iikuti anggukan oleh kedua istrinya.

"Oh, iya. Aku nggak mau kamu di sini sendirian."

"Maksudnya?"

"Nanti aku mempekerjakan ART untuk temenin kamu di sini."

Hanya Istri SiriCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang