Bagian 29

2.2K 168 20
                                        

Vote dan komentarnya jangan lupa, ya, Kakakk....

-----

Michael mengetuk pintu kamar tamu yang biasa ditempati Mayang sambil memanggil si penghuni kamar.

"Mic, Mama kan udan nggak tinggal di sini lagi." Indra mengingatkan.

Aktivitas dua pria beda generasi itu pun tak luput dari pantauan Intan. Meski Mayang tidak di sini, tetap saja kiblat kasih sayang Mic tidak akan berubah ke arahnya.

Intan mendekati mereka.

"Sayang, kan ada Mama di sini. Kenapa nyarinya Mama Mayang?" tanya Intan.

"Mic lupa," jawabnya polos.

"Memangnya kamu mau apa, nyari Mama Mayang? Kan Mama juga bisa bantuin kamu."

"Mic mau tumis buncis buatan Mama Mayang. Memangnya Mama bisa masak buncis?"

Badan Intan bergetar. Bukan hanya karena ia tidak bisa memasak, tapi juga heran. Sejak kapan Mic menyukai buncis? Seingatnya, anak itu sangat benci dengan sayur yang menyerupai ulat pisang tersebut.

Indra memegang pundak istrinya, berusaha menenangkan. Namun, tangan itu dilepas paksa oleh Intan.

"Apa, Mas? Mau bilang kalau kamu juga ingin minum teh manis yang sebelumnya Mas benci?"

"Apa sih, kamu, Intan?"

"Ternyata beberapa bulan tanpa aku, semuanya udah berubah, ya!"

Indra membuang napas kasar. Tak habis pikir dengan pemikiran perempuan dewasa yang selama ini ia banggakan di depan Mayang.

"Terserah kamu saja." Indra berlalu meninggalkan anak dan istrinya.

"Papaaa ...."

Bahkan panggilan dari Mic pun ia abaikan.

"Ayo, Mic. Kita sarapan."

"Mic nggak lapar." Anak itu pun pergi meninggalkan mamanya yang mematung sendirian.

Dada Intan perih. Raganya ada di sini, di tengah-tengah keluarga kecilnya. Namun, jiwanya telah kehilangan peran. Semua sudah tergantikan oleh istri siri dari suaminya.

***

Tiga hari berlalu, mereka masih tidak saling sapa. Indra yang melambung dengan egonya, dan Intan yang masih merasa kehadirannya tak lagi sepenting dulu.

"Mau sampai kapan kamu diam seperti ini?"

"Mau sampai kapan peranku digantikan oleh Mayang?"

"Peran apa? Michael dekat dengan Mayang itu alami, tidak ada yang memaksa mereka."

"Dan peranku sebagai istri?"

"Kamu tetap istriku, Intan. Mayang adalah orang baru. Aku lebih mengenalmu daripada Mayang. Kamu tahu sendiri bagaimana aku bisa menikah dengan dia."

Intan melihat mata Indra. Pandangan mata itu begitu kuat. Ia bisa merasakan tidak ada yang berubah dari sosok Indra.

"Maafin aku." Mereka berpelukan layaknya suami istri yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.

***

Mayang menatap ponselnya. Entah sudah berapa kali keluar masuk di chat room Indra.

Bukannya ini sudah hari ke tiga? Kenapa Mas Indra nggak ke sini?

"Bu Mayang, saya menemukan ini di lemari dapur. Ini dibuang atau disimpan, Bu?" tanya Risa, ART yang dipekerjakan Indra untuk membantu Mayang.

"Simpan saja. Nanti kalau Bapak ke sini biar sekalian dibawa."

Hanya Istri SiriCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang