ILUSI - 7

90K 7.2K 357
                                        




Suara debur ombak dan angin sepoi-sepoi, menemani Raline beserta rombongan kerjanya menyantap makan malam. Di gubuk dengan bilik bambu yang terletak di bibir pantai tersebut, ia ditemani sang manajer dan pasangan muda yang bekerja dengannya, tengah bersiap melahap aneka olahan seafood.

Raline urung langsung pulang begitu dress yang dikenakannya sewaktu syuting, telah berganti dengan hot pants dipadukan dengan kaus polos kebesaran berwarna putih. Alasannya karena lambungnya terasa perih. Jadi ... ia putuskan untuk mengisi perutnya lebih dulu agar tak bermasalah dalam perjalanan nanti. Raline memang melewatkan makan siangnya tadi. Kekesalan pada Langga, menguapkan selera makannya entah ke mana.

"Wah ... enak, nih!" Mata Indah berbinar. Seafood merupakan salah satu makanan favoritnya. Apalagi udang yang disiram saus asam manis.

"Selamat menikmati hidangan dari restoran kami ...." Pelayan berseragam rapi itu kemudian meninggalkan gubuk dengan senyuman.

Di tempat makan itu hanya diisi oleh mereka berempat, kru yang lain, menempati gubuk yang paling ujung.

Indah lekas mengisi piringnya sendiri dengan nasi lalu menyendok lebih dari setengah porsi udang asam manis untuk lauknya. Ia sudah tak sabar ingin mencicipi. Sendok yang sudah diisinya penuh, nyaris memasuki mulutnya saat sebaris sindiran terdengar pelan.

"Liat makanan enak, langsung lupa lu kalo punya suami?"

Cengiran lebar, Indah sematkan di bibirnya. "Ya, kagaklah, masa iya gua lupain lu cuman gara-gara udang." Ia kemudian meneruskan gerakan tangan kanannya yang sempat terjeda.

Dul berdecak, tapi tak berani keras-keras sebab ada Raline diantara mereka. "Elah malah lanjut makan. Itu piring gua masih kosong. Mana bakti lu sebagai istri?"

"Oh, iya ... lupa gua, Ay ...."

Piring milik sang suami, lantas Indah isi dengan tiga centong nasi, dua sendok tumis kangkong, dan setengah badan ikan gurami bakar. "Selamat menikmati, Ay ...," ucapnya menirukan pelayan restoran usai meletakkan tempat makan itu di hadapan Dul.

Sepasang suami istri itu memulai kegiatan makannya dengan tenang, begitu pula yang dilakukan oleh Alvi. Nasi dilengkapi dengan lauk pauknya berangsur masuk melewati kerongkongan.

Berbeda dengan mereka bertiga, piring Raline masih kosong melompong.

"You tak suka dengan makanannya?" tanya Alvi yang sadar kalau artis kesayangannya belum menyentuh apa-apa. "Mau akika cariin makanan lain?"

Alvi sudah menandaskan makanannya dalam waktu yang relative singkat. Diet menjadi alasan laki-laki itu untuk makan hanya beberapa suap.

"You mau makan apose?"

"Makan ini aja!" Raline lantas mengambil nasi dan ikan bakar. Ia mengunyah kudapannya malas-malasan. Sepertinya perih di lambung tetap tak mampu membangkitkan nafsu makannya yang tengah berada di level terrendah.

Di suapan kedua, pembawa awan kelabu yang memayungi hatinya, tiba-tiba datang dan langsung duduk di sampingnya. Raline kontan mendengkus keras.

"Liat deh, Ay ... si Tante langsung lirik-lirik manjah begono, tuh?!" bisik Indah. Perempuan muda itu menutupi sebelah wajahnya dengan telapak tangan kiri supaya gerakan bibirnya tak terbaca oleh tiga orang yang berada di seberang meja. "Bener pan dugaan gua."

Tak menimpali, Dul malah merubah titik fokusnya menjadi ke depan. Lalu ia lihat, beberapa kali Alvi mengedipkan mata, tapi bukan pada Langga, melainkan padanya. Selanjutnya isyarat untuk pergi dari tempat itu, dikeluarkan oleh kepala sang manajer.

ILUSI (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang