Khusus sore ini, Raline yang berada di balik kemudi. Ia tengah menjalankan kendaraannya menuju suatu tempat. Di sampingnya, Langga duduk nyaman walaupun kedua pusat penglihatannya di tutup rapat dengan kain panjang.
"Sebenarnya kita mau ke mana?"
Ini sudah ke tiga kalinya Langga bertanya dan Raline sama sekali tak berniat memberi penjelasan. Pasalnya, jika suaminya itu tahu tujuan mereka, namanya bukan lagi kejutan.
"Ada deh ...." Raline berkonsenterasi penuh pada jalanan tanpa perlu takut kalau Langga akan mengintip dengan menyibak sedikit penutup matanya. Saat masih di rumah, ia telah mewanti-wanti, Langga tak diizinkan untuk membukanya di tengah perjalanan. Raline yakin, calon ayah dari anaknya itu takkan berani melanggar perintahnya.
"Hari ini bakalan jadi hari ulang tahun paling berkesan di hidup lo, gue jamin!"
Keyakinan penuh bahwa kejutannya kali ini akan sangat disukai oleh sang suami, ada dalam dada Raline. Ia lalu senyum-senyum sendiri, membayangkan Langga memeluknya dengan binar bahagia. Sekali-kali ia juga ingin mewujudkan impian laki-laki berhidung mancung itu.
"Sampai ...," kata Raline ceria ketika sedang mencari tempat kosong untuk parkir mobilnya. Selepas mesin mobil dimatikan, ia lekas turun lanjut membantu Langga keluar dari kendaraan roda empatnya.
"Pelan-pelan, ada lima anak tangga." Setia memegangi lengan sang suami, Raline menghitung setiap mereka menapaki anak tangga di depan tempat itu. Hingga selesai hitungan ke lima, ia lantas melewati pintu utama yang terbuka lebar terus berbelok ke kiri. Di ruangan kecil itu, Raline mulai membuka tiap kancing kemeja Langga.
"Baju saya dibuka?" Senyum lebar Langga mengiringi pertanyaan yang terucap dari mulutnya. Ah, ia mulai bisa menghayalkan kejutan apa yang kiranya akan dirinya peroleh.
Apa Raline sudah diperbolehkan untuk bercinta? Lalu sekarang mereka ada di sebuah kamar hotel yang romantis?
Sepertinya begitu karena jari-jari lentik Raline terasa sedang membuka celana jeansnya. Jantung Langga berdebar-debar, sungguh ia menjadi tak sabar.
Tapi kenapa—
"Dipakai lagi bajunya?" Langga mulai bingung. Setelah dilepaskan kenapa malah dipakaikan lagi? Untuk apa?
"Bukan dipake lagi, tapi ganti baju," sahut Raline sembari mengarahkan kaki-kaki suaminya untuk mengenakan celana pendek. Dan sebagai sentuhan terakhir, ia memasangkan sebuah rompi dan dasi.
Khayalan Langga buyar. Ia tak lagi bisa menebak apa yang akan didapatkannya sebagai kejutan ulang tahun.
"Sempurna ...." Raline berdecak kagum akan hasil karyanya mendadani sang suami. Langga yang ada di hadapannya sekarang tampak ... lucu dan menggemaskan. "Ayo, keluar ...," ajaknya yang kembali memapah putra Brahma ke sebuah ruangan. Tanpa laki-laki itu ketahui, dalam ruangan yang besar itu, sudah banyak manusia yang memadati. Termasuk, keluarga inti dari keduanya. Namun orang-orang di sana, diam seribu bahasa, jadi tempat itu terasa sunyi sepi.
Raline berhenti berjalan saat mereka sampai di ujung ruangan yang dipenuhi hiasan dan balon-balon, di samping meja yang berisi kue ulang tahun tiga tingkat.
"Udah siap liat kejutannya?" bisik Raline yang dari tadi tak melunturkan senyumannya.
Langga mengangguk penuh antusiasme. Ia pun ingin segera tahu ....
"Satu ... dua ... tiga." Tepat setelah hitungan Raline selesai, ibu hamil itu melepas ikatan kain di belakang kepala suaminya, membuat mata Langga mengerjap lambat sebelum mulai menatap ke depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ILUSI (Tamat)
RomansaBagaimana mungkin Raline akan baik-baik saja, jika tepat setelah pesta pernikahannya berakhir, dia mengetahui fakta bahwa sang suami ternyata mencintai sahabatnya sendiri. Part masih lengkap.
