PK : Part Fifteen

8.9K 247 0
                                        

"Pernikahan kontrak?"

"Kamu tahu sendiri, saya tidak pernah menyukai mu, saya juga tidak merasa tertarik dengan mu, dan pastinya kamu juga merasakan hal yang sama seperti saya. Maka dari itu saya memutuskan untuk mengusulkan hal ini, jika dalam enam bulan kedepan kamu tidak bisa mengandung, maka kita akan bercerai, saya hanya menginginkan seorang putra untuk meneruskan perusahaan saya, jika kamu setuju silahkan tanda tangani," ujar Arsyah tanpa menatap Rhea yang kini sudah menangis di sisinya.

"Kedua orang tua ku tidak pernah mengajarkan ku untuk menjadi durhaka pada suami, tapi maaf, kali ini aku akan menjadi durhaka," gumam Rhea dengan nada bergetar. Hal itu membuat bingung Arsyah.

Kini Arsyah menatap Rhea bingung, bahkan kerutan dalam terlihat jelas di dahinya.

"Pria bodoh sialan! Pikiran mu kemana, huh? Kita bahkan pisah ranjang dan kamu seenak hati meminta seorang putra dari ku? Jika iya aku bakal mengandung nanti, dan kamu malah meminta putra ku dan memisahkan ku dengan putra ku sendiri? Sekeras apa sih hati mu? Sebodoh apa diri mu? Mengaku presdir tapi tidak bisa berpikir panjang," ujar Rhea marah.

"Jaga bicara mu," ujar Arsyah menutup laptopnya dan menaruhnya di meja nakas.

"Bodo amat, biar beres sekalian. Aku lebih baik mati ketimbang pisah dengan anak ku kelak, seorang ibu mana yang mau pisah dengan anaknya?"

"Saya bilang jaga bicara mu, Rheazura," ujar Arsyah lagi dengan nada yang lebih dingin.

"Jika memang kamu tidak menerima perjodohan ini, seharusnya kamu menolak dari awal! Aku akan mendukung. Selama ini sikap lembut mu itu berarti apa? Membuat ku semakin jatuh dan membiarkan ku begitu saja? Kamu pria brengsek yang tidak pernah aku temui sebelumnya!"

"Rheazura!" teriak Arsyah seketika bangkit dari duduknya, nafasnya naik turun, rahangnya mengatup keras, kini Arsyah benar-benar marah. Kilatan amarahnya telihat jelas di kedua bola matanya. Rhea juga bahkan terkejut karena bentakan Arsyah.

"Beruntung saya masih mau menerima mu di rumah saya, masih menganggap mu istri saya, masih bisa menjaga.mu layaknya wanita saya, masih mau memenuhi kebutuhan mu, masih mau bertanggung jawab akan diri mu, masih membolehkan mu untuk menikmati fasilitas di mansion ini, dan ini balasan atas kebaikan saya?"

"Perlu aku ingatkan, aku bertemu dengan mu itu sekitar dua minggu yang lalu, aku tidak meminta mu memperlakukan ku dengan baik, aku juga tidak meminta mu untuk menerima ku, aku tidak meminta mu memenuhi segala kebutuhan ku, aku tinggal di mansion ini juga baru tiga hari terakhir, dan kamu sudah meminta balasan?"

Rhea seketika merogoh saku piyamanya dan melempar black card milik Arsyah di depan dadanya.

"Ambil milik mu, aku tidak butuh! Urus sendiri keuangan mu, aku tidak mau membantu untuk mengurusnya! Dan sekali lagi, malam ini aku akan keluar dari rumah mu ini, hiduplah dengan tenang!" ujar Rhea, Rhea menarik map perjanjian itu dan segera menandatanganinya.

"Aku menyetujui perjanjian kontrak itu, karena sudah pasti aku tidak akan mengandung penerus mu itu! Lagian, aku juga bisa meminta cerai pada mu besok atau pun minggu depan! Tidak perlu dengan perjanjian menjijikan seperti itu!" ujar Rhea lalu keluar dari kamar Arsyah.

***

Rhea memasuki kamarnya sambil menangis hebat, dirinya mulai menaruh koper di atas ranjang lalu membukanya, Rhea membuka lemari bajunya dan mengambil baju-bajunya dan di masukan ke koper.

Setelah selesai Rhea mengganti piyamanya, lalu keluar dari mansion itu.

Rhea terdiam ketika berada di dalam taksi, pikirannya sangat rancu, tangisannya sudah berhenti, namun setetes demi setetes air matanya turun, buru-buru Rhea mengusapnya kasar dengan punggung tangannya.

Bahkan sampai Rhea keluar pun, Arsyah tidak perduli sama sekali, memang benar Arsyah tidak memiliki perasaan apa pun, atau pun belas kasih apa pun dengan Rhea.

Taksi itu menurunkan Rhea tepat di depan rumah Rhea, Rhea menatap rumah dengan  nuansa cat hijau itu, seketika dirinya tersadar akan sesuatu, dengan buru-buru Rhea menjauhi rumahnya dan segera menghubungi temannya.

"Halo, Dil, malam ini boleh tidak aku menginap di rumah mu dulu?"

"Memangnya kenapa?"

"Hanya ingin saja, boleh ya?"

"Iya baiklah."

"Hm, bisa tidak kamu menjemput ku, hehe. Soalnya malam-malam begini susah sekali mencari taksi."

"Iya baiklah, I akan segera ke mansion you itu."

"Tidak tidak, kamu ke rumah ku saja, aku ada di sekitaran rumah ku soalnya."

"Baiklah tunggu di situ sebentar."

"Terima kasih, kamu memang yang terbaik!"

Pip!

Rhea menghela napasnya pelan, di detik berikutnya ponsel Rhea berdering, Rhea melihat nama tertera di layar ponselnya lalu mencibir pelan.

Rhea mengabaikan panggilan itu dan pandangannya masih menatap jalanan sepi menunggu sang teman datang.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan Rhea, Rhea mengenali mobil ini, pastinya Dila, teman baiknya.

"Masuklah," ujar Dila dan di angguki oleh Rhea.

"Tolong bukakan bagasi mu dulu, aku hendak memasukkan koper ku," pinta Rhea dan di angguki oleh Dila.

Rhea memasukan kopernya dan menutupnya lagi, namun Dila malah menyerukan namanya begitu nyaring.

Seketika Rhea sedikit berlari dan langsung masuk ke mobil Dila.

"Ada apa, Dil?" tanya Rhea dengan nada khawatir.

"Y-you bawa koper?"

"I-iya, memang aneh ya?"

"You kabur?"

"Tidak, astaga. Aku hanya ingin menginap di rumah teman ku yang baik ini, besoknya aku akan pulang ke rumah Bunda ku, tenang saja."

"Bukan begitu, I tidak keberatan atas kehadiran you entah seberapa lama di rumah I, I penasaran sama you, jujur, sebenarnya apa sih yang you sembunyikan?" tanya Dila serius.

"Aku sedang tidak menyembunyikan apa pun, ayo jalankan mobilnya, kita pulang," ujar Rhea.

"You pasti bertengkar hebat dengan your husband, iya kan? Ngaku? Masalahnya apa sih?"

"Aku baik-baik saja dengan Arsyah, sungguh Dila."

"I tahu you sedang berbohong, katakan dengan sejujurnya Rheazura!" desak Dila.

"Iya, hubungan ku sedang tidak baik, kamu puas?"

"Itu yang ingin I dengar dari mulut you, masalahnya apa, hm?"

"Nanti di rumah aku akan bercerita, jalankan mobilnya, aku tidak mau orang tua ku menemukan ku di sini," titah Rhea.

"Huft! Baiklah."

***

"Ini kopi mu," ujar Cia sambil menaruh secangkir kopi hitam di meja.

"Setelah kontrak kerja sama kita dengan perusahaan milik Arsyah, perusahaan kita jauh lebih baik, saham juga meningkat, aku akan sangat berterima kasih pada Pak Bima," ujar Nino sambil meletakkan koran lalu meminum kopinya.

"Sepertinya Rhea juga sudah bisa menerima Arsyah sebagai suaminya," sahut Cia sambil fokus mencuci piring.

Setelah pulang dari mansion anaknya, Cia dan Nino bersantai di ruang makan.

"Jadi ingat ketika aku meminta mu dulu kepada kedua orang tua mu," goda Nino sambil tertawa pelan.

"Aku mengingatnya, di mana kamu yang di hukum push up oleh Ayah karena telat mengantar ku pulang ke rumah," ujar Cia.

"Kamu benar, saat itu aku mulai berpikir untuk menguatkan mental dan fisik ku, karena mendapatkan mu, aku harus seperti pendidikan militer," kelakar Nino lalu disambut gelak tawa oleh Cia.















Tbc

PERNIKAHAN KONTRAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang