PK : Part Thirty Five

6.8K 194 2
                                        

Brak!

"Bu Presdir!"

Rhea terkejut ketika Ryu membuka paksa pintu ruangannya. Dan matanya semakin membola ketika mendengar penuturan dari Ryu.

Dap! Dap! Dap!

Rhea berlari menyusuri koridor rumah sakit, bulir air mata bahkan tidak luput di kedua pipinya.

Tangisan pilu juga terdengar jelas keluar dari bibirnya.

"Ibu!" panggil Rhea ketiak menemukan sang Ibu mertua yang berdiri di depan ugd di mana sang suami tengah bertaruh nyawa.

"Ibu Hiks! Apa yang terjadi?"

"Rhea sayang," sahut Regina memeluk sang menantu dan menangis tersedu-sedu.

Beberapa saat kemudian lampu ruang operasi sudah mati, menandakan operasi telah selesai di lakukan, para petugas juga telah keluar, dengan segera Rhea berlari ke arah dokter.

"Dok, bagaimana keadaan s-suami saya?"

"Pasien banyak sekali kehilangan darah, jadi kami melakukan tranfusi darah, juga type darah pasien masih tersedia di rumah sakit ini. Luka di kepalanya lumayan serius karena benturan keras pada kepala mobil dan tubuhnya juga ada beberapa memar, mungkin karena benturan kuat dengan aspal. Kami sudah mencoba yang terbaik, namun mohon maaf, saat ini, pasien dinyatakan koma."

"A-apa? K-koma?" Rhea teramat terkejut hingga air mata kembali keluar dari celah mata indahnya.

"Dokter, pasti salah, coba periksa ulang, Dok! Suami saya tidak mungkin Koma!"

"Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik untuk pasien, kerabat bisa menjenguknya ketika pasien sudah kami pindahkan ke ruang rawat, kalau begitu, saya permisi."

"Ibu hiks!"

***

Seminggu kemudian ....

Rhea menatap pria yang masih terbaring di ranjang pesakitannya, Rhea menatap pria itu kosong, kapan mata yang dulunya selalu menatapnya tajam itu akan membuka matanya?

Rhea sudah sangat lelah menunggu, bahkan kantornya kini sedang bermasalah karena Rhea yang selalu meninggalkan meeting penting demi menjaga Arsyah. Saham kantor menurun drastis, tapi yang ada di pikiran Rhea hanya, Arsyah, Arsyah, dan Arsyah.

Rhea juga sudah mengetahui latar belakang, Arsyah tertabrak sebuah Bus seminggu yang lalu.

Seminggu setelah kejadian gugatan perceraian dari Rhea, Arsyah juga menjadi gila kerja, dirinya juga menjadi emosional, pegawai membuat kesalahan sedikit langsung di pecat.

Waktu itu sempat ada seorang pegawai yang mendapat tugas untuk membuat secangkir teh untuk Arsyah, karena orang yang biasa membuat tengah mengambil cuti karena hamil tua. Pegawai itu yang tidak tahu selera takaran gula Arsyah, memasukan gulanya terlalu banyak dan membuat tehnya menjadi sangat manis, namun hanya karena masalah sepele itu, Arsyah memecat pegawai itu saat itu juga.

Saat di hari kejadian, Arsyah tengah menemui seorang kolega di sebuah Cafe, namun konsentrasinya membuyar di kala pikirannya menjadi teringat akan Azzam, putranya.

Arsyah juga sempat di tegur karena fokusnya yang teralihkan, saat itu Arsyah langsung meminta maaf.

Beberapa saat kemudian, Arsyah melihat seorang anak laki-laki yang hendak menyebrang di jalan, Arsyah dapat mengetahuinya karena kaca di Cafe itu yang tembus pandang.

Arsyah menjadi semakin mengingat anaknya, Arsyah benar-benar merindukannya. Karena selama seminggu ini, dirinya belum bertemu dengan putranya.

"Maaf, Saya keluar sebentar."

Arsyah berniat keluar untuk menemui anak itu, namun matanya membola ketika melihat anak itu berlari di saat sebuah bus hendak melintas.

"Hei!"

Bruk!

Brugh!

Setelah mendorong anak itu, tubuh Arsyah terbentur lalu terpental sangat jauh hingga mendarat dengan kasar di aspal. Kepalanya mengeluarkan banyak sekali darah, kedua matanya sudah menutup sempurna. Kejadian ini juga menyita perhatian banyak orang sehingga membuat mereka berkumpul dan segera membantu Arsyah untuk dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Diva yang kebetulan ada di sana dan  pertama kali mendekati Arsyah yang bersimbah darah lalu segera meminta warga sekitar untuk membantunya mengangkat ke mobilnya.

Rhea menghela napasnya sejenak, Rhea menggenggam tangan dingin yang bebas selang infus itu, menggenggamnya erat.

"Aku merindukan mu, bangun lah, ku mohon bangun, maafkan aku, hiks!"

***

Satu bulan kemudian ....

"Senang berbisnis dengan anda, Mr. Jio," ujar Rhea sambil berjabat tangan.

Rhea kini sudah bisa mengembalikan kejayaan kantornya, semua investor juga kembali berinvestasi pada perusahaanya, kemajuan perusahaannya sangat pesat hingga menciptakan banyak sekali pencapaian baru.

Perusahaan Arsyah juga Rhea yang menghandle, di bantu dengan Raya, sang sekretaris Arsyah, sebelumnya Raya sudah meminta maap pada Rhea tentang kejadian saat di Cafe. Dan Rhea juga tidak mempermasalahkannya, Rhea juga sudah memberitahu pihak pengadilan jika Rhea mencabut tuntutan cerainya, dan memilih tetap bersama di sisi Arsyah.

Perusahaan Arsyah juga nampak baik-baik saja, karena bantuan dari sang Ibu mertua, dan Ayah mertua yang selalu memberikan Rhea masukan.

Rhea membereskan perlengkapannya ketika acara meetingnya sudah selesai.

"Setelah ini, jadwal saya kosong, anda bisa kembali ke kantor untuk mengurus yang lainnya, saya akan ke rumah sakit dahulu," ujar Rhea dan di angguki oleh Daffa.

Dan disinilah Rhea berada, di sebuah kamar yang terdapat seorang pria yang tentunya masih setia menutup matanya.

"Apa mimpi mu begitu indah sehingga enggan untuk bangun?" gumam Rhea pelan.

"Aku sudah berjanji untuk tidak menangis saat melihat mu, tapi maaf kali ini aku akan melanggar janji ku, aku tidak bisa terus-terusan menunggu begini, bangunlah kumohon, hiks!"

"Azzam merindukan mu, putra mu sudah sangat pintar, bangun lah."

"Aku merindukan suara berat mu itu, aku merindukan dekapan hangat mu, maaf karena aku egois, tidak mendengarkan penjelasan mu lebih dulu, seharusnya kamu bilang jika waktu itu kamu mendadak pergi dinas, dan baru pulang saat aku menemui hujan-hujanan di sebuah Cafe," timpal Rhea sambil mengusap pipinya kasar.

"Bunda baru kali ini mengatakan jika aku anak yang pintar, biasanya dia selalu berkata buruk mengenai ku, tapi kali ini dia berbeda karena aku yang mengurus dua perusahaan besar sekaligus dan keduanya berkembang dengan sangat baik," ucap Rhea sambil menarik kursi dan duduk sambil menggenggam tangan itu.

"Kemarin Azzam kembali menanyai keberadaan mu, aku kembali berbohong padanya jika kamu tengah dinas ke luar negeri. Katakan, apa aku telah melakukan hal yang benar? Aku tidak mau jika Azzam tau Ayahnya tengah terbaring di rumah sakit, dan enggan membuka matanya, aku tidak mau melihat Azzam menjadi sedih nantinya."

"Seminggu lagi, Azzam akan berulang tahun yang ke lima, apa kamu tidak mau menemaninya tiup lilin?"

"Azzam pernah bilang pada ku jika dia tidak menginginkan kado apa pun, dia hanya menginginkan kehadiran mu di hari ulang tahunnya dan meminta kamu membawanya ke pusat wahana bermain, dia ingin bersenang-senang dengan Ayahnya."

Rhea tersenyum sendu, kelopak matanya kembali membendung air mata.

"Mas bangun! Hiks!"












Tbc

PERNIKAHAN KONTRAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang