PK : Part Twenty Six

9.4K 247 0
                                        

Malam telah tiba, Rhea sudah mandi begitu juga dengan Arsyah, keduanya sudah memakai piyamanya dan bersiap akan tidur.

Rhea bahkan sudah mengambil posisi di sisi kanan ranjang namun atensinya teralihkan ketika Arsyah yang hendak mengambil laptopnya.

"Tidur! Besok saja di kerjakannya," ujar Rhea sambil duduk di ranjang dan menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.

"Besok pagi ada meeting penting, saya harus mengecek beberapa email yang di kirim oleh sekretaris saya," jelas Arsyah.

"Tidak boleh! Tidak ada kerjaan di antara kita! Jika kamu ingin mengerjakan urusan kantor mu, keluarlah dari kamar, dan akan ku kunci pintunya agar kamu tidak bisa masuk!"

"Astaga, iya Rhea, saya akan menaruh laptop saya, ancaman mu kejam sekali," gerutu Arsyah meletakan kembali laptopnya di meja nakas.

"Sudah, kan?"

Rhea tertawa pelan lalu mengangguk merasa senang.

"Mas."

Arsyah menaikkan kedua alisnya bingung, "Silver," sahut Arsyah bingung.

"Apaan sih?!"

"Katanya emas?"

"Aku memanggil mu," ujar Rhea.

"Ah, maafkan saya, saya kira apa, soalnya Rhea biasa memanggil saya dengan Om," ucap Arsyah.

"Menyebalkan! Padahal minta sendiri di panggil Mas!"

"Iya maaf, ya. Lagian, saya bingung dengan mu, kenapa kamu selalu memanggil saya dengan Om padahal usia kita tidak beda jauh," ujar Arsyah.

Rhea sontak terkejut menatap Arsyah tidak percaya.

"Eh, sungguh?"

"Tentu saja, usia saya masih dua puluh empat tahun, kamu pikir berapa, hm?"

"Dua puluh empat? Astaga, aku kira sudah di atas tiga puluh," ujar Rhea.

"Sudah saya bilang saya tidak setua itu, Rhea."

"Makannya jangan terlalu monoton, itu memberikan kesan terlihat tua!"

Arsyah mengusak rambutnya dan sengaja mengedepankan poninya lalu melihat Rhea.

"Lalu bagaimana dengan begini?"

Rhea di buat melongo, bagaimana tidak? Arsyah benar-benar terlihat baby face jika  rambutnya begitu, dahi mulusnya tertutup rapat oleh rambut hitamnya, wibawanya memang masih menguar, namun kesan imut lebih dominan. Arsyah tersenyum pada Rhea hingga lesung pipinya terlihat jelas di kedua pipinya, membuat Rhea ikut tersenyum.

"Mas Tampan! Mulai sekarang biarkan rambut mu seperti itu ya?"

"Duh, tidak boleh, rambut saya harus tetap rapih ketika ke kantor," tolak Arsyah.

"Begitu juga rapih, kok!"

"Tidak boleh, sayang."

"Tapi aku ingin!"

"Baiklah, baiklah," pungkas Arsyah mengalah.

"Mas," panggil Rhea pelan.

"Kenapa?"

"Soal Prima ...."

"Kamu tidak perlu memikirkannya lagi, sekarang wanita saya adalah kamu, Saya sudah menyudahi dengan Prima, kamu benar, Prima hanya memanfaatkan saya saja, saya bodoh sekali," sela Arsyah.

"Aku bilang juga apa?"

"Iya sayang, maaf tidak mendengarkan mu," ujar Arsyah lalu merengkuh Rhea dalam dekapannya.

PERNIKAHAN KONTRAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang