PK : Part Twenty Four

9.1K 293 0
                                        

Rhea membuka matanya perlahan, dan mengerjapkannnya beberapa kali.

Rhea menghela napasnya dan mengusak wajahnya kasar, Rhea baru merasakan tangan kanannya berat Rhea melirik ke kanan dan terdapat sang suami yang tengah tertidur sambil duduk dan menggenggam tangannya. Pasti posisinya tidak nyaman sama sekali.

Rhea melihat ke jendela kamarnya dan matahari sudah menyinari, Rhea melirik ke jam di atas meja nakas menunjukan pukul delapan pagi. Astaga! Arsyah telat!

Rhea dengan segera bangkit dan mencoba membangunkan Arsyah, Rhea mengusap rambut lembut Arsyah pelan.

"Hey, bangunlah, apa kamu tidak pergi ke kantor?" tanya Rhea.

Hal itu seketika membuat Arsyah terbangun dan melihat Rhea yang sudah terbangun, Arsyah langsung saja berdiri dan memeluk wanitanya itu.

"Kamu sudah bangun? Katakan, apa ada yang sakit?" tanya Arsyah cemas.

"Tidak, aku baik-baik saja."

"Baik-baik saja bagaimana? Kamu semalam limbung di hadapan saya, untung saja posisi kita dekat dan saya mampu menangkap mu. Saya kalut sekali, saya langsung saja menghubungi dokter keluarga saya, saya sempat di marahi gara-gara memanggilnya di malam hari, tapi untunglah dia mengatakan jika kamu baik-baik saja," ujar Arsyah seketika membuat Rhea tertawa pelan.

"Maaf karena merepotkan mu."

"Sama sekali tidak, dan jangan katakan hal itu," ujar Arsyah sambil menjauhkan dirinya dan menatap Rhea.

"Apa wajah mu sudah di obati? Mari aku obati, Kamu tidak ke kantor?"

"Saya sudah di obati Ibu, Bagaimana saya bisa ke kantor dan dengan tenang kerja di sana, sedangkan istri saya di sini sedang sakit."

Hati Rhea menghangat ketika Arsyah benar-benar bisa menerima kehadirannya.

"Aku sudah baik-baik saja sekarang, kamu tidak perlu cemas."

"Saya bisa mengambil libur kapan pun saya mau, Rhea, saya bosnya," kelakar Arsyah.

"Kamu tidak boleh seperti itu, bukan kah Arsyah suami Rheazura ini selalu bekerja secara profesional?"

"Baiklah, saya akan mandi sekarang dan pergi ke kantor."

"Tapi sudah telat."

"Tidak ada yang berani menahan saya untuk masuk, Rhea."

"Terserah saja lah."

Beberapa saat kemudian, Rhea sudah berpakaian, dan kini Arsyah yang sedang mandi, Rhea tengah duduk di depan meja riasnya sedang bersolek.

Sebelumnya Rhea sudah meletakan setelan jas maroon untuk Arsyah di atas ranjang.

Tidak menunggu lama, Arsyah keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.

Rhea menyadari Arsyah sedang menatapnya, terlihat jelas dari pantulan cermin.

"Aku akan pergi dengan teman ku, nanti suratnya letakkan saja di ranjang, akan aku tanda tangani sesuai dengan permintaan mu, tadi saat kamu mandi aku sudah menyiapkan sarapan di bawah, nanti di makan, jas mu juga sudah aku ambilkan," ujar Rhea sambil fokus memakai eyeliner di kelopak matanya.

"Aku tidak bisa menahan mu untuk terus bersama ku, kamu berhak untuk bebas dengan Prima," timpal Rhea seketika menunduk dan meremat stik eyeliner di genggamannya.

Rhea bangkit dari duduknya, dan berbalik matanya melihat Arsyah yang masih menatapnya datar.

Rhea tersenyum simpul dan mendekati ranjang untuk mengambil tas jinjing dan ponsel pintarnya.

PERNIKAHAN KONTRAKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang