Bab 5 | Menyebalkan

73 7 9
                                        

Tidak selamanya apa yang kita pandang adalah kebenaran. Bisa jadi itu hanyalah sebuah sampul yang suatu hari nanti bisa saja terbuka dan menampakkan isi dari segalanya.

-Menyapa Rindu-


Rindu tidak bisa menikmati waktu tidur siangnya sebentar. Bagaimana bisa, Bundanya yang tadi pagi hanya diam dan tidak mau berbicara dengannya saat ini begitu rusuh membangunkan paksa dirinya.

Padahal ia sudah begitu letih dengan aktivitas sekolah yang tadi sempat lari-lari kesana kemari ketika jam pembelajaran olahraga. Meksipun begitu, Rindu merasa terhibur dengan apa yang tadi ia lakukan untuk guru kesayangannya, guru yang selalu membuat gara-gara dengan dirinya. Ia merasa bahagia telah membalas dendam kepada Melvin.

"Bangun gadis cantik, sebentar lagi calon kamu bakalan ke sini buat melamar." Mendengar pernyataan dari Nada membuat Rindu yang masih bermalas-malasan memeluk gulung spontan melebarkan mata. Baru tadi pagi ia menyetujui pernikahan ini kepada Candra, tapi secepat ini keluarga pelamar akan datang. Rindu benar-benar tidak diijinkan untuk bernapas lega sedetik pun.

"Kok cepet banget sih Bun? Baru aja tadi pagi Rindu setuju, kok sekarang mau melamar aja." Rindu membalikkan badannya dari tengkurap sembari memanyunkan bibir tidak terima.

"Bunda dan tante Annisa udah gak sabar, jadi tante Annisa langsung buru-buru kesini biar kamu gak berubah pikiran." Bunda duduk di tepi ranjang lalu mengusap lembut rambut Rindu, "terimakasih udah mau mengabulkan permintaan Bunda, Bunda janji setelah ini, Bunda gak bakalan paksain kamu lagi. Kalo Bunda ingkar janji, kamu bisa masukin Bunda ke penjara."

Rindu melirik Nada, ia menyadari jika memang ada perubahan dalam diri Bundanya. Mungkin Rindu terlalu memikirkan masalahnya sendiri, hingga tidak sadar jika Nada sedang sakit. Bundanya benar-benar hebat dalam menyembunyikan sebuah kesedihan.

"Bunda sakit? Bunda terlihat kurus." Rindu memegang kedua tangan Nada.

"Bunda kurus ya? Berarti diet Bunda berhasil," Nada mencondongkan wajahnya ingin membisikkan sesuatu kepada Rindu, "Ayah kamu suka yang kurus-kurus."

Rindu tersenyum kaku melihat bagaimana raut wajah Bundanya yang terlihat begitu bahagia. Rasanya Rindu ingin memeluk Nada, ia ingin menangis saat ini.

"Udah sana mandi! Jangan lupa salat ashar terus pakai baju yang udah Bunda beliin." Nada meraih bingkisan yang berada di nakas lalu memberikannya kepada Rindu.

"Tapi Rindu masih ngantuk." Rindu mengusap matanya bermaksud menghapus air mata yang akan keluar sebelum Nada mengetahuinya. Ia sudah berjanji kepada Candra akan merahasiakan bahwa ia sudah mengetahui kebenaran bahwa Bundanya sakit. 

"Apa harus Bunda mandiin kamu di sini?" Nada beranjak dari duduknya lalu menarik kedua tangan putrinya agar segera menuruti perintahnya.

"Iya, Rindu mandi!" Rindu menarik napasnya panjang. Sebelum pergi ke kamar mandi, ia memeluk sekilas Nada, "jangan diet terus, nanti kayak lidi berjalan."

"Dasar anak nakal." Nada tersenyum gemas melihat tingkah laku yang diperbuat oleh Rindu.

***

Hari ini Rindu ingin membenturkan kepalanya sendiri. Tubuhnya yang sudah berbalut gamis berwarna biru mendadak lemas, mungkin jika Rindu dalam posisi berdiri ia akan terjatuh pingsan setelah melihat siapa orang yang nantinya akan tinggal satu atap dengannya.

Bahkan kedua matanya hanya bisa berkedip tidak percaya, mencoba menyangkal jika pria yang akan menikah dengannya bukan Melvin.

Ya, lelaki yang saat ini berada di samping Tante Annisa adalah guru kimia-nya yang menyebalkan, membosankan, menjengkelkan dan memuakkan. Rasanya Rindu ingin memukul wajah kaku itu dengan vas bunga yang berada di meja depannya.

"Bagaimana Rindu?" Rindu mengalihkan perhatian kepada Om Denis - Papa Melvin, "kamu mau kan menikah dengan Melvin?"

"Bagaimana apanya?" Wajah Rindu berubah jengkel menatap tajam ke arah Melvin yang meksipun mengenakan baju batik, tetap terlihat membosankan, "dia saja tidak bisa senyum! Bagaimana nanti bisa buat aku bahagia?"

"Yah, aku mau menikah! Tapi jangan sama dia! Dia itu udah banyak nyiksa aku di sekolah! Ayah mau putri satu-satunya mengalami KDRT nantinya? Lagian, umur kita jauh berbeda!" Rindu mencoba membujuk Candra yang berada di samping kanannya.

"Dia itu bukan lelaki idaman Yah! Pokoknya jangan nikah sama dia! Ayah dan Bunda menikahkan aku sama Duda gak apa-apa, tapi yang terpenting jangan sama dia! Dia itu robot! Aku gak akan pernah bisa bahagia sama dia!" Rindu menarik napasnya mencoba mengumpulkan tenaga, "lihat wajahnya! Wajahnya itu kaku! Urat senyumnya udah ke putus! Bagaimana bisa dia membahagiakan Rindu coba! Kalo senyum aja gak bisa dia!"

Gadis berjilbab itu sudah memutuskan tidak akan pernah menikah dengan seseorang seperti Melvin yang memilih kepribadian membosankan, menjengkelkan dan selalu disiplin. Bagaimana nanti jika Rindu menikah dengan dia, Rindu pasti sudah mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga tidak kurang satu Minggu ia satu atap dengan Melvin.

Rindu tidak bisa membayangkan bagaimana hari-harinya terus menatap wajah membosankan. Mungkin jika ia menikah, maka semua nasib buruk datang mengantri untuk dirinya. Tidak ada masa depan cerah yang bisa ia bayangkan jika dirinya  menikah dengan guru kimia-nya yang belum jadi suami, sudah membuat ia menderita dengan semua tugas.

Rindu terlonjak kaget ketika tiba-tiba Candra menepuk telapak tangannya. Ia membulatkan mata, menyadari jika semua itu hanyalah khayalannya.

"Tante Annisa nunggu jawaban kamu, bilang iya, supaya Bunda bahagia." Rindu menarik napas lalu menatap sekilas Nada yang terlihat bahagia akan pertemuan ini.

"Iya, Rindu mau." Rindu mengangguk sembari terus menunduk tanpa mau menatap wajah-wajah bahagia, apalagi Nada yang langsung memeluknya erat setelah ia memberikan jawaban.

"Ya sudah, sebaiknya kita makan-makan dulu aja buat merayakan persatuan ini." Dengan wajah yang tidak luntur dari senyuman, Nada beranjak berdiri.

Rindu yang melihat kebahagiaan tersirat jelas di wajah Bundanya hanya bisa tersenyum kaku. Ia akan melakukan apapun agar Nada bisa tersenyum seperti saat ini, ia berjanji akan terus berusaha membuat Bundanya bahagia.

"Terimakasih Putri manis, meksipun ini berat untuk kamu, tapi kamu dapat melakukannya." Rindu membalikkan badan menatap Candra yang belum beranjak berdiri, "Ayah yakin jika keputusan kamu ini tidak akan pernah merugikan kamu, Melvin adalah pria yang baik. Meksipun ia terlihat membosankan, tapi aslinya tidak." Rindu mengalihkan pandang menatap guru kimia-nya yang sudah berdiri, bagaimana bisa Candra begitu yakin jika Melvin tidak membosankan. Melihatnya saat ini saja, Rindu ingin menguap lebar.

"Ayo kita susul Bunda." Candra memegang tangan Rindu sembari ia berdiri.

Tidak ada pilihan selain menurut, Rindu sebenarnya tidak berselera makan meksipun beberapa menit lalu perutnya lapar. Ia sudah muak menatap wajah Melvin, terlebih sekarang ia harus makan malam satu meja dengan pria menyebalkan sekaligus menjengkelkan. Ia heran, kenapa bisa laki-laki itu tidak menolak akan perjodohan ini. Jelas-jelas mereka saling bertolak belakang, tapi kenapa Melvin tidak menunjukan reaksi menolak atau semacamnya, kenapa wajahnya terus datar seperti tidak ada kehidupan. Bahkan tadi, Rindu merasa aneh ketika Melvin tersenyum simpul kepada kedua orang tuanya. Senyumannya buruk melebihi wajah kakunya.

🏫

Menyapa Rindu Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang