Satu hari pasca insiden Ralin, membuat Ravellio harus ekstra dalam mengawasi sang adik. Setelah diberitahu oleh Jevian tentang itu, Ravellio panik bukan kepalang, skenario buruk tiba-tiba datang bersemayam di otaknya. Namun setelah diyakinkan Jevian bahwa Ralin sudah baik-baik aja, laki-laki itu merasa lega.
Seperti sekarang, laki-laki itu bahkan belum bersiap untuk pergi ke kantornya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ia masih risau, karena sang adik sedang berada di kamar bersama psikiater yang dulu menanganinya. Ia bahkan tidak akan pergi sebelum mendengarkan kondisi sang adik, langsung dari sang dokter.
Setelah setengah jam berlalu, sang dokter pun keluar. Membuat Ravellio yang duduk mengemper persis di depan kamar Ralin, sukses berdiri,
"Dok, gimana? She's okay?" tanya Ravellio
"Okay kok, dari hasilnya tadi traumanya gak separah dulu. Lebih ke shock" jawab dokter perempuan dengan name tag Kalila itu
"Makasih ya dok"
"Sama-sama, tetep di awasi nya Ralin nya. Kalo ada apa-apa hubungi saya aja" pesan sang dokter
"Iya dok, siapp" ucap Ravellio, dan tak lama setelah itu sang dokter pamit undur diri.
Sepeninggal sang dokter, laki-laki itu langsung masuk ke kamar adiknya. Dilihatnya sang adik yang memang sepertinya sudah baik-baik saja. Membuat dirinya lega, benar-benar lega,
"Kok belum berangkat? Mana masih koloran" ucap Ralin
"Iyaa nanti" jawabnya sambil mendudukkan dirinya di kasur Ralin
"Kakak nanti sore ada ketemu sama salah satu klien, sama Jevian dulu gapapa ya?" ucap Ravellio
"Aneh, diem lo kak. Gue gak papa" jawab Ralin yang agak shock karena sang kakak yang mendadak berubah menjadi 'soft' padanya
"Yee, dibilangin. Nanti sama Jevian dulu gak papa kan? Iyalah gak papa banget malah, ya kan?"
"Streees, tanya sendiri jawab sendiri" komentar Ralin, lalu tak lama setelah itu Ravellio meninggalkan gadis itu sendirian tanpa sepatah katapun. Membuat Ralin keheranan.
Tiga puluh menit kemudian, laki-laki sulung Pramudyta itu masuk lagi ke kamar Ralin. Tentu dengan penampilan yang berbeda dengan tadi. Ia kini sudah rapi mengenakan setelan jas warna abu-abu lengkap dengan dasinya. Tak lupa dengan aroma parfum yang menyeruak masuk dalam penciuman Ralin.
"Nahhh gini, tadi aja kaya gembel lo" komentar Ralin
"Ssstt, nanti siang kalo pengen apa-apa bilang sama gue" ucap Ravellio
"Lo mau beliin?"
"Paling nyuruh sopir kalo ga Juan sih" jawab enteng laki-laki itu
"Yeee, serius. Jangan bolehin Jevian pergi dari sini pokoknya"
"Lo kenapa dah kak?"
"Jevian udah gue kasih mandat buat jagain lo, sampe gue pulang"
"Anjirrrr, jangan bilang lo pulang malem??!" selidik Ralin
"Gakk, jam empat. Paling lama jam enam. Gue berangkat dulu, kayaknya Jevian bentar lagi sampe deh" pamit laki-laki itu sambil melihat jam tangannya
"Yaa hati-hati" ucap Ralin.
Sepeninggal kakaknya, Ralin hanya berguling kesana kemari di kasurnya. Ia bahkan mengganti channel televisi nya secara berulang-ulang, berusaha mencari tontonan yang menurutnya menarik. Namun naas, tak ada acara televisi yang ia menurutnya menyenangkan. Lantas ia langsung mengganti saluran televisinya menjadi sebuah channel langganan berbayar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unconditionally | Lee Jeno
Fanfiction"As long as it's with you.. I will love you unconditionally"
