; isn't it obvious?

11.7K 1.4K 159
                                        

Gellar menghela nafas menatap Tita yang wajahnya makin bete sejak menerima chat dari Sadam yang bilang kalau cowok itu pulang duluan. Tita punya feeling kayaknya Sadam itu emang sengaja ninggalin dia sama Gellar, mengingat Sadam emang ambil posisi di garda paling depan yang selalu bilang ke Tita buat berdamai dengan masa lalu.

"Ta, at least kalau lo gak mau balik sama Gellar, kalian harus baikan. Gak baik marahan sama orang lama-lama," gitu yang diucapin Sadam dulu, tapi gak pernah benar-benar didengarkan oleh Tita.

Sekarang, setelah dua orang tersebut menghabiskan makanan yang dipesan, walau tidak semuanya habis, tentu aja Gellar gak menyia-nyiakan kesempatan dengan menawarkan tumpangan pada Tita untuk pulang bersama.

Sayangnya ditolak mentah-mentah.

Tita dan gengsinya.

Padahal Gellar tadi udah yakin banget karena dia mampu ngelihat Tita yang mulai luluh pas dia meyakinkan Tita kalau mereka berdua bisa memperbaiki kerusakan di antara mereka secara perlahan, berdua lagi, memulai dari awal.

Kini mereka berdua udah di luar kafe. Parkiran yang padat dan beberapa orang yang berdatangan membuat Gellar harus menyeret Tita ke tembok di samping kafe agar tak bertabrakan dengan yang lain. Cowok itu mengangkat satu kaki untuk menapak di dinding belakangnya. Punggungnya bersandar disana, mengamati Tita yang berdiri dengan gelisah entah apa maunya.

Gellar menjepit batang rokok yang udah dia keluarkan dari dalam kotak kemasan. Kepalanya merunduk kecil sambil mendekatkan ujungnya ke pemantik yang dinyalakan.

Sembari mengantongi kembali korek apinya, dia menghisap dalam, menghembuskan asap ke arah berlawanan dengan posisi berdiri Tita.

"Terus aja, Ta. Terusin keras kepalanya," komentar Gellar membuat Tita memicingkan mata ke arah dia. "Lo tahu gimana gue bisa lebih keras kepala kalau udah pengin sesuatu."

"And what does that mean?"

Gellar mengedikkan bahu. Dia berjalan melewati Tita begitu saja sambil berkata, "masuk mobil sekarang."

"Nyuruh?!"

"Masuk atau gue gendong paksa. Cuman itu pilihannya."

Gellar paham kunci ngadepin keras kepalanya Tita. Dia hanya harus harus sedikit lebih keras tapi tetap tenang seolah gak terganggu dengan sikap cewek itu. Biar Tita makin panas dan mencak-mencak sendiri.

Jadi ketika dia udah masuk mobil dan memasang sabuk pengaman, dia terkekeh geli mendapati Tita berdecak sebal sebelum akhirnya berbalik dan mendekat ke mobilnya. Cewek itu mengetuk kaca gak sabaran sambil berteriak. "Bukain!"

Gellar dengan senang hati menekan tombol untuk membuka kunci.

Tita masuk dengan muka tertekuk tapi makin dia begitu, makin Gellar gemas bukan main. Dia cuman bisa mengusap rambut perempuan itu sekilas sambil terkekeh. Mau nyium juga takut digampar.

"Jangan ngamuk-ngamuk mulu. Gak capek apa lo?"

Tita gak mendengarkan juga gak merespon. Dia cuman diem aja sambil menarik sabuk pengaman untuk dipakai.

"Pulang kemana?"

"Menurut lo?"

Gellar menelengkan kepala, pura-pura gak tahu. "Ke apart gue?"

"Haha, talk to my ass."

"Ugh, i'd love to, Ta. I'd love to talk with your ass."

Tita memutar bola mata.

**

"Lo sengaja."

Adalah kalimat pertama yang keluar dari Tita setelah mereka diem-dieman lama banget. Gellar jadi menoleh sekilas sebelum mengganti persneling.

"Hm?"

"Lo sengaja cari jalan paling jauh. Lo udah muterin ini dua kali."

Gellar nyengir walau gak menatap Tita. "Lo tahu?"

"Gue mau pulang."

"Emangnya lo kira ini bukan jalan pulang?"

"Ge," Tita menoleh, menatap tajam. "Gue gak mood bercanda, lo tahu."

Barulah cowok itu akhirnya mingkem rapat. Dia gak berkata apapun sampai kemudian setirnya belok ke kanan. Jalanan mulai sepi disini. Gellar akhirnya menepikan mobil, berhenti tepat di pinggir jalan.

"Ayo selesaiin ini."

"Ge."

"Ta," Gellar mau jambak rambut aja rasanya saking frustasi karena sikap Tita yang pasang dinding tinggi banget, gak mau diajak mengobrol, dan tetap keras kepala begini. "Lemme know, lo sebenernya mau kayak gimana? Jujur, jangan ditutup-tutupin. Lo bukan anak kecil, kan, Ta? Jadi straight to the point."

Gak puas karena Tita bahkan tidak meliriknya, dia menarik tangan Tita, mau gak mau membuat dia menoleh.

"Liat ke sini. Gue ngomong serius. Semuanya harus clear sebelum gue pulangin lo."

"Lo mau tahu apa yang sebenernya gue mau?"

Gellar mengangguk. Memang itu dari tadi yang dia inginkan.

"So listen it carefully," ekspresi perempuan itu mengencang, tegang, dan terlalu serius. Matanya menyorot tajam. "From the deepest of my heart, i want you. I want us. Isn't it obvious? Bisa-bisanya lo masih nanya apa gue masih sayang sama lo, apa gue bahagia pas kita pisah, apa gue gak pengin kita balik. Damn, Ge, lo jelas tahu jawabannya."

Cowok itu meneguk ludah. Melihat Tita di hadapannya dengan mata mulai basah dan suaranya yang tercekat membuat dia tidak bisa mengontrol detak jantungnya. Berapa lama mereka berdua menahan sakit sendirian karena berpikir apa yang mereka putuskan kemarin adalah jalan terbaik yang bisa dipilih? Berapa lama keduanya saling mencoba menahan diri untuk tidak meneriakkan perasaan hampa yang sebenarnya?

"I still love you, if that's the word you really want to hear. I love you."

Satu tetes air mata berhasil meluncur, Tita menggigit lidahnya tidak ingin kelepasan menangis. Dia mencintai Gellar sebesar itu, merindukan Gellar sebanyak itu.

"Jangan nangis. Please," suara Gellar yang tumbang akhirnya ikut keluar. Dia menggeleng sambil mengangkat tangan untuk mengusap sudut mata Tita yang basah. "Gue minta maaf. Kita jadi begini karena gue. Lo gak seharusnya nangis."

Dahi mereka hampir bersatu karena jarak yang hendak habis ketika air mata Tita semakin turun dengan deras walau perempuan itu sama sekali tak bersuara.

"Let's end the game here, Ta. Gak perlu saling nyiksa diri sendiri dengan nyari orang lain, kita tahu kita gak bisa. Ayo balik sama gue, kita ulang dari awal, ngebenerin yang rusak pelan-pelan. Ya, Sayang?"

Tita menganggukkan kepala berkali-kali.

kiss me more.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang