; losing her

8.5K 1K 143
                                        

|gue gabisa banyak chatting sama lo, im sorry
|gimana-gimana lo mantan gue and it feels so wrong to keep in touch with you, apalagi gue mau nikah
|i hope you understand

Menghindari konflik berkelanjutan yang bisa merusak keharmonisan hubungannya dengan sang tunangan, Gellar memilih begini aja.

"Udah, nih," lapornya ke cewek dengan selimut menutupi tubuh telanjangnya. "Woh, langsung dibales, Ta!"

"Liat kamu bilang gimana."

Sebenernya, Tita gak ada nyuruh Gellar sama sekali buat ngelakuin ini. Tita juga tahu diri banget kalau Danila masih jadi temennya di kantor, mereka sempet jadi temen curhat, jadi buat nyuruh Gellar ngelakuin hal jahat begini, dia juga gak tega—dikit.

Tapi di luar itu, dia jelas seneng karena tunangannya punya inisiatif ngelakuin ini. Well, this is the best solution, isn't it?

Usai membaca isi pesan di ponsel Gellar, Tita mengembalikannya pada sang pemilik.

"Kok bisa jam segini langsung diread?"

"Ya enggak tahu, Ta. Kok tanya saya?" jawab Gellar sambil menaruh hape di nakas. "Dah. Bobo, yuk."

••

"Kaos kakiku yang kemarin baru beli mana, ya?"

Tita yang lagi ngelipet selimut sempat berhenti bergerak demi mengingat-ingat. "Kan kemarin kamu pakai? Kamu taruh mana?"

"Bukan yang kemarin aku pakai. Yang baru."

"Coba cari dulu di tempat kaos kaki. Kebiasaan nanya mulu."

"Gak ada. Kamu gak lihat, nih, aku lagi ngobok-ngobok laci?"

Usai Tita merapikan ranjang, dia menghampiri Gellar dan mendengus karena bahkan sebelum dia sampai di samping laki-laki itu, dia udah kelihatan kaos kaki yang dicari Gellar ada dimana.

"Yang itu, kan, Ge?" telunjuknya mengarah ke tempat laci yang terbuka. "Astaga, dari sini aja kelihatan."

"Mana?"

Tita menarik kaos kaki yang dia maksud. "Ini, kan?!"

"Lah, iya. Kok aku dari tadi gak kelihatan, sih, Ta? Sumpah, deh, aku udah nyisir satu-satu gak nemu!"

Tita cuman memutar bola matanya dan melangkah keluar dari kamar.

Melihat anak mereka berjalan dengan sedikit tidak seimbang, matanya yang sipit, pipinya yang gembul, dan rambut yang dikuncir dua dan memakai jepit berbentuk donat sedang melangkah terburu-buru ke arah mereka, membuat Tita segera berlutut di atas lantai dan membuka kedua tangan lebar-lebar.

"Aduh, aduh. Yang baru bisa jalan, sekarang udah mau lari-lari aja maunya," komentar Tita sambil menciumi pipi kanan-kiri puterinya. "Cica mau kemana kok cantik banget?"

"Beyi ekim!"

"Beli es krim?" Tita geleng-geleng kepala dengan telunjuk bergerak ke kanan-kiri di depan wajah. "No, no. Gak boleh es krim. Kan kemarin udah?"

"No no ekim?"

Tita mengangguk. "No no es krim."

"Mana anak Papa yang paling cantik sedunia?" Gellar menurunkan tubuh dan mengambil alih Cica dari pelukan Tita. "Ah, wangi bangeeeet," ujarnya sambil mengendus pipi Cica. "Udah siap jalan-jalan?"

kiss me more.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang