"Ihh, Daddy, liat! Ada mbek!" pekik Cleva sembari menunjuk kandang kambing yang baru saja mereka lewati.
Kini calon keluarga kecil itu sedang menaiki delman mengelilingi desa seperti yang telah dijanjikan Mira.
"Iya, Sayang." sahut Ibrahim lembut.
Mira tersenyum melihat sikap Ibrahim yang selalu lembut pada anaknya. Meskipun pria itu selalu dingin pada siapapun, tapi hanya pada anaknya ia bisa bersikap hangat dan manis kapanpun waktunya. Ibrahim benar-benar menggambarkan sosok suami idaman bagi Mira.
"Mira," panggil Ibrahim tiba-tiba.
"Kenapa, Pak?" tanya Mira.
"Tentang pernikahan kita, kamu mau tanggal berapa?"
Mira terdiam, ia sendiri tidak tahu.
"Tante Mila! Itu gunungnya besal banget!" seruan Cleva membuat Mira beralih.
Ia melihat arah yang Cleva tunjuk, gunung Merapi.
Delman yang mereka naiki terasa sangat dekat dengan gunung itu. Memang, rumah kedua orang tua Mira berada di bawah kaki gunung. Jadi wajar saja jika pemandangan Merapi dapat mereka lihat dengan jelas.
"Wah, iya besar banget!" balas Mira berseru balik.
"Gunung itu kalo meletus kelual apinya kan, Tante?" tanya Cleva sembari menatap Mira.
"Iya, betul. Cleva kok pinter banget sih?" Mira mencubit pipi Cleva gemas.
"Hihi iya, Miss-nya Cleva di sekolah dulu pelnah bikin gunung bohongan yang bisa kelual slimenya. Tapi kata Miss kalo gunung yang asli kelualnya bukan slime, tapi api." jawab Cleva dengan cerdiknya.
Mira mengangguk membenarkan, "Cleva mau naik ke atas gunung itu nggak?"
"Memang bisa, Tante?"
"Bisa dong, tapi nanti kalo Cleva udah gede."
"Kalo Cleva udah gede dan bisa ngelualin adek bayi kayak Tante?"
Mira terkejut mendengar pertanyaan Cleva, rupanya bocah ini masih saja mengingat perihal 'adek bayi'.
Sementara Ibrahim nampak menahan tawa melihat keduanya.
"Err... iya, Cleva." jawab Mira pada akhirnya.
"Hmm, Daddy sama Tante Mila kan sebental lagi mau nikah, nanti nggak usah punya adek bayi ya?" tutur Cleva mendadak murung.
"Lho, kenapa? Katanya Cleva mau punya adek bayi biar ada temen?" tanya Ibrahim.
"Aduh nggak usah hasut bapak lo deh, Clev!" batin Mira.
"Cleva takut nanti kalo ada adek bayi, Tante Mila jadi Mom-nya adek bayi bukan Mom-nya Cleva. Telus Daddy jadi Daddy-nya adek bayi juga, bukan Daddy-nya Cleva lagi." jelas Cleva sedih.
Mira melirik Ibrahim, dilihatnya pria itu juga menatapnya sembari menganggukkan dagunya sebagai tanda bahwa dirinya mempersilakan Mira untuk mengatakan sesuatu pada anaknya.
"Kok Cleva mikirnya gitu? Kan Tante Mira sama Daddy sayang banget sama Cleva." ujar Mira pada akhirnya.
Cleva menggeleng, "Pasti nanti nggak sayang Cleva lagi, kan ada adek bayi."
Anak manis itu melengkungkan bibir mungilnya ke bawah.
"Ya enggak dong, kita pasti tetep sayang kok sama Cleva. Kan Cleva anaknya Daddy." ujar Ibrahim lembut.
"Tapi Cleva bukan anaknya Tante Mila, nanti Cleva nggak boleh manggil tante Mila 'Mommy'." rengek Cleva.
"Siapa yang bilang gitu? Cleva juga anaknya Tante Mira kok, Cleva juga boleh manggil Tante Mira 'Mommy'. Iya kan, Daddy?" ucap Mira kembali menatap Ibrahim setelahnya.
"Iya, Mommy-nya adek bayi kan Mommy-nya Cleva juga. Daddy juga tetep Daddy-nya Cleva walaupun nanti ada adek bayi." sahut Ibrahim ikut menenangkan putrinya.
"Benelan?" Cleva menatap keduanya.
"Bener, Sayang." jawab Mira ditambah anggukan dari Ibrahim.
Wajah sedih Cleva kini berubah bahagia.
"Belalti Cleva sekalang boleh manggil tante Mila 'Mommy' nggak?" tanyanya semangat.
"Boleh banget dong!" seru Mira.
"Yeay! Oke, Mommy!"
Anak itu kemudian langsung memeluk Mira.
Ibrahim terkekeh bahagia, Mira selalu bisa membuat putrinya senang. Ia sendiri sepertinya belum pernah melihat Cleva sebahagia itu.
"Mira," panggil Ibrahim.
Mira yang sedang memeluk Cleva pun mendongak.
"Kenapa, Pak?"
"Kita menikah bulan depan."
***
SELAMAT SAHUR!
BTW MAAP DIKIT
BIAR GREGET AJA SIH SOALNYA HEHE
MAKASIH YAA
JANGAN MALU UNTUK TABURKAN BINTANG, MANIEZKU 🤗
See you di nikahannya Ibrahimira 👋🏼💜
KAMU SEDANG MEMBACA
Duren Mateng
Romansa"Saya perhatikan kalian sangat dekat, Cleva juga sepertinya menyukai kamu." "Ohiya, pak. Kita mah udah kaya bestie hehe." "Ekhem," dehem Ibrahim. "Kamu sayang sama Cleva?" Sambungnya. Mira mengerutkan keningnya, tentu saja ia sangat menyayangi gadis...
