24 | Balikan?

281 15 0
                                        

Senyum-senyum sendiri, itulah yang dilihat oleh Raya selaku Mamahnya Rui. Ibu dari satu anak itu terus saja memerhatikan anaknya yang sedari tadi tidak berhenti menampilkan senyumannya sambil menatap foto seorang gadis cantik yang ia temui di pesta kembalinya Rui Orlando.

"Adek... Cinta tak selamanya indah, Dek," sahut Raya yang geleng-geleng kepala melihat anak semata wayang nya tersebut.

"Iihh, Mama," rengek Rui, dengan bibir manyun.

"Kamu tuh yah, bucin banget, ntar kalo Ciya nya pergi gak kebayang deh, kamu kayak mana," tutur Raya masih menatap anaknya itu.

"Ciya gak boleh pergi! Rui gak akan bolehin!" jawab Rui dengan tatapan keramat.

"Yah, kalo dianya mau pergi, kamu bisa apa?" tanya Raya tidak mau kalah.

"Hem, Rui tahan biar dia stay sama Rui," jawab Rui sedikit songong.

Raya kembali geleng-geleng kepala, ini lah sifat anaknya yang sangat sulit untuk dikendalikan. Dimana jika ia sudah menyukai sesuatu yang sudah menjadi miliknya, maka ia tidak akan melepaskannya dengan mudah. Catat! Rui tidak akan dengan mudah merelakan pencapaian.

"Keras kepala, kayak Papahmu," ucap Raya melenggang pergi meninggalkan Rui di taman belakang sendirian.

Rui, anak laki-laki itu kembali melihat hpnya yang terdapat foto Ciya, lalu memeluk bahkan menciumnya sesekali. Ia jadi merindukan pelukan hangat gadis tersebut. Jika dihitung sudah dia kali Ciya memeluk Radit, pada saat kematian Ibu Dania dan saat ia sudah selesai live.

"Yaampun berasa mimpi bisa milikin dia," tutur Rui mengelus-elus foto Ciya.

"Kalo ini mimpi, maka biarkanlah aku tidur untuk selama-lamanya," gumam Rui, benar-benar terdengar sangat tulus

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kalo ini mimpi, maka biarkanlah aku tidur untuk selama-lamanya," gumam Rui, benar-benar terdengar sangat tulus.

"Uuhh, Cowoknya bucin abess, ceweknya masih gamon! PECAH...!"

"Kangen ayang, wkwkw," tutur Rui tidak bisa menahan senyum karna memanggil Ciya dengan sebutan ayang.

Saat ini Rui tidak bisa mengirim pesan atau menelpon Ciya, karna biasanya jam-jam segini, Ciya masih sibuk. Sibuk nonton drama. Rui paham betul bagaimana Ciya tidak ingin diganggu. Masalah ia pernah terus-terusan mengirimkan pesan pada saat Ciya menonton drama dan berakhir di maki-maki.

Anak itu kembali tersenyum, mengingat momen-momen singkat yang di buatnya dengan Ciya. Memang singkat, tsoi baginya kisah singkat itu memiliki kenangan yang berharga dalam hidup seorang Rui, sungguh anak tersebut benar-benar dibutakan oleh cinta.

***

"Mau ngomong apa?" tanya Ciya setelah mengabiskan mie ayam, kesukaanya, dengan sedikit sinis.

"Kangen."

Satu kata yang terucap daei bibir Rional, membuat Ciya diam seketika. Ciya bisa menatap rentina mata Rional dengan sangat jelas, sama sekali tidak ada tanda-tanda kebohongan disana. Apa ini? Jantung Ciya berdetak tidak karuan, lebih kencang dari pada lari 1 km.

Tapi dengan kelem, Ciya masih menampilkan wajah dinginnya, ia tidak ingin terlihat mengharapkan laki-laki di depannya ini, walaupun kenyataanya memang IYA.

"Terus?" tanya Ciya dengan wajah sok dinginnya, padalah dalam hatinya jedag-jedug. Rional benar-benar memiliki pesona yang tidak dimiliki oleh Rui.

"Aku juga kangen kamu, pake banget!" tutur Ciya dalam hatinya.

"Gak papa, kangen aja kita udah berbulan-bulan bareng, bahkan nyaris tahunan, kamu gak kangen?" tanya Rional dengan tatapan yang mungkin dapat membunuh Ciya saat itu juga.

"KANGEN BANGET GILA!"

"B aja sih," jawab Ciya sambil mengaduk-aduk jus alpukatnya.

"Ooh, iya, 'kan udah ada Rui," ucap Rional dengan tatapan yang sedikit sedih.

Ciya sedikit kaget dengan ucapan Rional. Kaget sekalian kesal, karna tanpa ia ketahui, Ciya sama sekali tidak mencintai Rui, bahkan masih gamon akut denganya. Andai saja Rional tau, tapi Ciya juga tidak ingin Rional tau tentang kegamonannya itu.

"Ada, gak ada mya Rui, itu gak ngaruh, gue tetep suka sama lo, andai lo tau itu!"

"Lo juga udah ada Ayu," ucap Ciya, "bahkan sempet ngerasain," sambung Ciya dalam hatinya. Ia harus pura-pura tidak tau.

"Ayu gak sebaik lo, dia cerewet, suka ngatur, orangnya ribet plus matre," jelas Rional terkesan menjelek-jelekan Ayu.

"Tapi lo suka, 'kan yang kayak gitu?" tanya Ciya masih dengan wajah dinginnya.

"Jujur gue gak suka sama dia, gue cuman nyaman sama lo."

"Gak suka kok bisa pacaran?" tanya Ciya lagi dengan tatapan sedikit tajam.

Disini posisinya seperti, Ciya sedang meminta penjelasan.

"Dia yang deketin duluan, gue agak gak tega," jelas Rional yang Ciya tau ia berbohong.

"Bacot! Lo sama dia karna dapet jatah, 'kan, Sialan!"

"Gue dulu, juga deketin lo duluan, jadi lo nerima gue karna kasihan?" Ciya lagi dan lagi menjebak Rional dengan pertanyaan yang sulit dijawab dan jika Rional bisa menjawab sudah pasti itu sebuah kebohongan.

"Gak gitu, Ci."

"Gak gitu, gimana? Lo aja gak publish gue!"

"Gue gak publish lo itu karna gue gak mau lo jadi tontonan temen-temen gue," jelas Rional bersikeras agar Ciya percaya.

"Terus?"

"Lo harus percaya, Ci...."

"Iya, terus lo mau apa!?" tanya Ciya sedikit nyolot.

"Satu, yang harus lo percaya, Ci, gue Beneran sayang sama lo," ungkap Rional.

Deg!
Apa ini? Perasaan apa ini? Kenapa Ciya sedikit salting mendengarnya?

"Kalo lo sayang, lo gak mungkin ngehina gue depan publik, bahkan Bully gue sama Rui! Gue masih inget bener, Nel,  kayak mana lo ngehina gue karna keluarga gue miskin! Lo pikir gue gak sakit hati!?" sentak Ciya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Ci, maaf Ci, gue gak bermaksud," ucap Rional dengan wajah sedih. Entah itu dibuat-buat atau memang sungguhan.

"Kurang sabar apa lagi gue sama lo, Nel? Lo jarang punya waktu, gue maklumin, lo gak publish hubungan, gue ngertiin, lo bales chet singkat bahkan gak ngabarin gue sabar, TAPI APA, LO LEBIH MILIH SAMA LONTE, di kelas lo itu!?" sergah Ciya, yang akhirnya lega bisa mengeluarkan unek-uneknya.

"Ci...," lirih Rional tidak bisa berkata-kata lagi.

"Lo sebenernya anggap gue apa sih!? Satu sampai lima bulan pertama, iya, lo jadiin gue ratu, tapi apa setelah hampir satu tahun, lo anggap gue ada aja, enggak!"

Kini air mata gadis itu tidak terbendung lagi, cairan benimg dari matanya lolos begitu saja. Tolong jangan beri tau Rui, jika gadisnya sedang menangis, aku takut, dunia tidak akan baik-baik saja, setelah itu.

Rional bergerak menghapus air mata Ciya. Walaupun tanganya sudah di tepis oleh Ciya, tapi Rional tetap bersikeras untuk menghapus air mata yang tidak seharusnya kekuar itu.

"Jangan nangis, Ci," pinta Rional, sembari menghapus air mata Ciya.

"Lo Ngelarang gue nangis, tanpa tau lo, yang bikin gue nangis."

____

Nasib Rui gimana yahh? 😃

Mas R Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang