23. KEMBALILAH

36 4 0
                                    

HAI, SELAMAT PAGI!

JANGAN LUPA VOTE DAN COMENT!

HAPPY READING!

“lo nggak usah sok-sokan jadi pahlawan.” ucap El sambil mengupas apel untuk ia makan.

“tapi kata mama, kita harus membantu orang yang membutuhkan.”

“ck! Pernah gue bilang sama lo kalau gue butuh pertolongan?” tanya El kesal.

“kakak, maaf ya tadi dipukul sama kak Aksa.” ucap Aleena merasa bersalah jika melihat ujung bibir El yang berdarah kering yang belum terobati.

“itu enggak di obatin kak?” tanya Aleena melihat ujung bibir El.

“nggak.” jawabnya padat dan jelas.

“kalo infeksi?”

“bukan urusan lo.”

Tadi sewaktu Aksa diberitahu pihak sekolah jika Aleena masuk rumah sakit, Aksa bergegas pergi meninggalkan kampusnya yang sebentar lagi memulai materi. Namun, setibanya di rumah sakit ia melihat seorang laki-laki yang dengan tenangnya duduk sambil memejamkan matanya dan bersender di bahu bangku besi.

Aksa dengan kesal memukul El, karena ia tiba-tiba emosi ketika melihat laki-laki itu.

“hm. Kakak lo gila.” ucap El tidak peduli, ia memilih makan Apel sambil menyilangkan kedua kakinya di meja.

“kakak pulang aja, kakak pasti capek.” El melirik jam dinding yang berada di tembok putih.

Ia tidak menggerakkan tubuhnya, karena ia malas bergerak untuk keluar dari rumah sakit. Entah apa yang membuatnya malas, seperti ada tarikan untuk menunggu gadis lemah di depannya.

“gue mau tanggung jawab.” ucap El dengan wajah datar.

Drrtt... Drrtt..

Aleena menoleh ketika mendengar suara getaran handphone dinakas.

Ia meraih handphone itu dan menekan tombol hijau, terlihat ketiga gadis cantik dengan berbeda karakter itu menatapnya.

“lo nggak apa-apa 'kan?”

“gimana keadaan lo, Al?”

“berisik.”

Terdengar beberapa ucapan dari ketiga teman Aleena.

“aku baik-baik aja,”

“lo disana sendirian?” tanya Ghadia.

“enggak, disini ada kak El sama beberapa bodyguard.” jawab Aleena sembari menoleh pada El yang sekarang merebahkan diri di sofa.

“kakak kelas gila, besok gue jamin tu orang nggka bakal selamat.” umpat Cahaya ketika mengingat penjelasan Aleena.

Tadi mereka bertiga sempat menjenguk Aleena setelah pulang sekolah dan Aleena juga kebetulan sudah sadar, ia menjawab setiap pertanyaan dari teman-temannya dengan polos.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Aleena merasakan bagaimana dibully seperti yang pernah ia lihat di film-film.

Dan untuk bodyguard, Aksa yang memintanya karena khawatir El akan melukai Aleena, walau Aleena telah menjelaskan semua itu bukan salah El.

Aksa dan kedua orang tuanya terpaksa pulang karena ia tidak ingin merepotkan mereka, ia juga sempat melarang para bodyguard berjaga namun Aksa memaksanya. Untuk El, ia juga sudah menyuruhnya pulang sejak tadi. Namun laki-laki itu tetap tidak mau karena alasan yang sama yaitu bertanggung jawab.

                            _________

“sedang apa kamu disini?” tanya seorang pria paruh baya kepada pemuda didepannya.

“bukan urusan anda.” jawabnya ketus.

Pria paruh baya itu tampak menghela nafas dengan kasar karena putranya ini masih benci kepadanya.

“baiklah, jika kamu tidak ingin memberitahu.” ucapnya pasrah.

Pemuda itu pun tampak acuh tak acuh, lalu ia meninggalkan pria paruh baya itu yang tengah bersama dengan beberapa bodyguard.

“El!” El berhenti melangkah ketika Damar memanggilnya.

Tadi sewaktu El tengah menikmati seputung rokok di taman rumah sakit tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh bahunya, ia merasa kesal ketika tahu ternyata itu papanya yang menyebalkan.

El yang ingin merilekskan fikiran pun terganggu karena kehadiran orang yang tidak ingin ia temui.

Ia tidak berbalik, ia berdiri dengan tegap tanpa menatap papanya yang tengah memanggilnya.

“kembalilah, sekarang aku sudah tidak bersama dengan Emilia, kau tahu itu.” ucap Damar memelas.

“untuk apa?” tanya El dingin.

“aku sangat merindukan putra kecilku.”

“tidak perlu memohon tuan Damar Nugroho yang terhormat.” ucap El mengejek.

“aku tidak percaya kepada siapapun sekarang.”

“demi mamamu, El.”

“cih, anda bahkan ingin menikah lagi dan sekarang anda bilang saya harus kembali demi mama saya.” ucap El berbalik badan hingga menatap benci kepada papanya.

“jangan paksa saya, alangkah lebih baiknya anda menyuruh mantan kekasih anda itu untuk tidak mengganggu saya lagi.” ucapnya penuh penekanan kemudian pergi tidak peduli perasaan Damar apakah terluka atau tidak.

“maaf.” ucap Damar lirih sambil menatap sendu punggung sang putra.

“saya ingin tahu, siapakah orang yang ditemui oleh El.” ucap Damar dengan wajah datar kepada beberapa bodyguardnya.

                           __________

“kakak dari mana?” tanya Aleena dalam keadaan terduduk di bed hospital.

“bukan urusan lo.” ucap El ketus.

“lo kenapa bangun?” tanya El dengan wajah datar.

“tadi aku kebangun, terus lihat disofa enggak ada kakak. jadi aku khawatir kalau kakak tiba-tiba dipukul sama kak Aksa.”

“lo tahu sekarang jam berapa?” Aleena melirik jam dinding yang berada di ruangan serba putih ini.

“22.30,” ucap Aleena.

“siapa yang bakal jenguk pukul 22.30?” Aleena bingung dengan pertanyaan El, lalu ia mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.

“setan yang jenguk.” ucap El kesal lalu merebahkan diri di sofa.

“setan?” beo Aleena lirih, ia tidak mengerti apa itu setan. Tapi biarlah mungkin itu teman El. Pikir Aleena konyol.

Kamis, 28 April 2022

TERIMA KASIH UNTUK YANG UDAH BACA!

SEMOGA KALIAN SEHAT SELALU.

ALEENATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang