Erlangga mengusap dagunya selama duduk di apartemen sambil menikmati segelas espresso dan roti bakar selai kacang yang dibuatnya sendiri. Ia masih belum melupakan bagaimana pemotretan tiga hari lalu yang berjalan lancar, namun terasa kosong.
Pria itu juga masih mengingat sifat pasif Akira setelah insiden sepatu. Setidaknya dalam komunikasi melalui pesan untuk berdiskusi tentang busana yang akan dipakainya.
"Oh, kau bangun cukup cepat."
Suara Antony membuyarkan lamunan Erlangga.
"Aku merasa lapar dan membuat ini. Kau mau?" Erlangga mengangkat gelas kopinya.
"Tidak, aku sudah sarapan di rumah tadi," jawab Antony mengambil kursi di hadapan sang aktor. "Oh ya, aku juga ingin memberitahumu untuk ke salah satu butik. Di sana Akira akan datang untuk memilihkan pakaian yang akan kau gunakan hari ini untuk bertemu produser dan penulis naskah."
Antony telah mengatur jadwal pertemuan Erlangga dengan pihak yang akan memproduseri film bergenre drama yang dipilih oleh Erlangga.
Alis sang aktor terangkat. "Kenapa tidak langsung ke sini? Apakah ... Akira masih marah dengan kejadian kemarin?" Ia tidak lupa menceritakan kepada Antony tentang apa latar belakang insiden sepatu tersebut. Antony telah menyarankannya untuk meminta maaf kepada Akira, namun ia selalu kehilangan timing-nya. Apalagi baru hari ini ia akan kembali bertemu wanita itu.
"Kurasa tidak. Hanya saja memang Akira lebih pendiam. Mungkin ada masalah lain juga."
Balasan Antony membuat Erlangga mulai berpikir. Pria itu menerka-nerka mungkin tentang masalah Akira dan ayahnya tentang pengelolaan restoran.
"Tetap saja. Minta saja Akira datang ke sini dan membawa beberapa pilihan pakaiannya," ucap Erlangga memikirkan sebuah rencana.
Antony melotot. "Itu akan merepotkan Akira. Apa kau benar-benar ingin menyesali insiden sepatu atau malah menjahilinya?" Ia tidak kenal satu dua hari dengan Erlangga. Sangat mengenal sifat adik Nevan tersebut yang kadang menyebalkan dan keras kepalanya.
"Percayakan saja padaku. Lalu kau bukannya memilih jadwal lain?"
Antony mengerti maksud Erlangga. Dengan kata lain, pria itu ingin ditinggal hanya berdua dengan Akira.
"Aku harus bicara dengan salah satu brand minuman yang ingin kau jadi brand ambassador mereka," balas Antony menghela napas. "Lalu aku akan singgah ke butik agar mereka mengirim pakaiannya, sehingga Akira bisa langsung datang ke sini."
Senyum langsung tersungging pada bibir Erlangga. "Antony, kau memang yang terbaik."
Melihat senyuman Erlangga tersebut, malah membuat Antony merinding. Ia bahkan telah bangkit untuk bersiap pergi.
"Kau sudah mau pergi?" tanya Erlangga mengerjapkan matanya sekali.
"Itu agar kau punya lebih banyak waktu untuk memilih pakaiannya. Bukankah jadwal pertemuanmu nanti siang?"
Balasan Antony membuat Erlangga tersenyum miring. Padahal pria itu tahu maksud dirinya yang sebenarnya. Bukan tentang pemilihan pakaian, tetapi memberi waktu dan kesempatan.
♡♡♡
Maaf Akira, tapi Erlangga meminta agar kau memilihkan outfit-nya di apartemen saja. Katanya dia sedikit pusing untuk bisa pergi keluar. Aku sudah mengirim pilihan pakaiannya.
Dahi Akira mengernyit mengingat telepon dari Antony. Ia sudah dalam perjalanan menuju apartemen menuju apartemen Erlangga, sesuai permintaan pria itu.
"Aku harus menahannya. Ini hanya pekerjaan sementara," gumam Akira mencoba mengendalikan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Janji Erlangga
Romance[SPIN OFF CERITA SANDIWARA SONYA] Erlangga Abimanyu, aktor asal Indonesia yang sukses meniti karier di Hollywood. Namun lima tahun kemudian memutuskan kembali ke negara asalnya sesuai janjinya kepada seorang wanita. Janji yang ingin ditepatinya, tet...
