CHAPTER 22 : Ares

22 3 0
                                        

"Kau menentang kakak tertuamu ini?!"

"Kau harus membunuh gadis itu, jika kau mau menjadi di akui oleh kaum dan kerajaan kita!"

"Bukankah aku sudah terlahir sebagai iblis murni? Lantas, mengapa aku harus membuktikannya lagi agar bisa di akui?"

Suara-suara itu saling bersahutan, memaki dirinya, merendahkan dirinya sedemikian rupa. Barrack berhati dingin saat berhadapan langsung dengan sosok tersebut. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi pada dirinya setelah membuat sosok ini marah.

Sosok itu tiba di puncak kemarahannya dan langsung melemparkan tubuh Barrack melewati gerbang yang menyajikan lubang hitam besar.

Lubang hitam besar yang akan mengantarkan Barrack ke titik paling bawah dari segala kehidupan.

Yaitu, bumi. Tempat kehidupan yang sebenarnya.

Begitu terasa... momen dimana ia melayang dan terhempas begitu jauh dari dunia asalnya. Dia terjatuh, terluka meskipun sebenarnya dia tidak dapat terluka semudah itu. Dan sebuah aroma yang begitu menenangkan menuntunnya kepada seorang gadis.

Jenna.

"BARRACK!"

Barrack tersentak kaget, kedua matanya terbuka lebar dan napasnya memburu. Jantungnya berdegup kencang tak karuan, ia refleks menggenggam lengan Natasha yang menggoyangkan kedua pundaknya demi mengembalikan kesadaran Barrack kembali. Usaha itupun tak sia-sia, karena Barrack mendapati Natasha, Danika, Hauser, dan bahkan Ares yang terlihat mengkhawatirkan dirinya. Keringat bercucuran membasahi pelipis Barrack, akibat ingatan yang memaksa masuk ke dalam pikirannya.

Sangat menyakitkan.

Begitu menyakitkan.

"Aku..." Barrack menggantungkan ucapannya sembari melonggarkan genggamannya pada lengan Natasha, "ingatanku. Aku tahu siapa yang telah membuatku tiba di dunia ini." Barrack beralih menatap Danika, "nama itu. Dia--"

"Kakakmu." Sambung Danika seolah tahu apa yang akan Barrack ucapkan.

Natasha berdecak dan terpejam sembari menghembuskan napas panjang, lalu menjauh dari Barrack. "Raja Iblis ada di sini, Barrack. Kalaupun benar, enam sosok yang dilihat oleh Danika tadi salah satunya bisa saja saudaramu yang lainnya."

"Siapa?"

"Cronisiant."

Barrack kembali teringat bahwa dia mendengar suara-suara yang saling bersahutan meskipun wajah mereka masih begitu samar dan sulit bagi Barrack mengenali mereka dengan baik. Namun, Barrack yakin suara yang saling bersahutan di dalam serpihan ingatannya yang muncul tadi adalah milik Cronisiant.

"Mereka benar-benar menginginkan dirimu," Danika berucap pelan dengan sorot mata menerawang. "Dan aku melihat gadismu, Barrack. Dia ada di sana, terperangkap, dan terluka."

Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Danika membuat hati Barrack seperti dipukul dengan palu berduri. Terasa sakit dan menyayat bertubi-tubi. Dia kembali mengingat ucapan dari serpihan ingatan yang muncul dalam kepalanya bahwa suara itu mengatakan kalau dirinya harus membunuh seorang gadis agar mendapatkan pengakuan dari kaumnya. Barrack mendadak frustasi, dia takut. Sangat takut, kalau ternyata gadis yang dimaksud adalah Jenna.

Sekarang semua sudah mulai jelas. Serpihan-serpihan puzzle dalam ingatannya yang hilang hampir menyatu kembali. Dia tinggal menyempurnakan ingatannya agar dapat mengetahui dengan jelas bagaimana wajah saudara-saudaranya yang telah membuatnya tiba di dunia makhluk fana. Dan tentang gadis itu, dia ingin memastikan bahwa alasannya menerima amarah adalah karena dia tidak mau melakukan perintah membunuh. Namun, apa alasannya? Mengapa dia harus membunuh?

Pure DevilTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang