Citra berdiri saat melihat Papi yang telah bersiap-siap untuk pergi. Langkah Papi berhenti dan mengernyit menatapnya, mengamati dirinya yang sama rapinya dengan Papi.
"Kamu mau ke mana? Bukannya kamu pulangnya besok?" tanya Papi. Citra menghampiri Papi dan memeluk lengannya.
"Aku mau ikut Papi." ujar Citra serius.
Papi menghela nafas pelan kemudian melepaskan pelukan tangan Citra dari lengannya. "Nak, kamu gak usah ikut."
"Tapi, Pi ..."
"Erik dan sepupumu yang lain juga gak datang. Pertemuan ini hanya ada Papi dan para ommu."
Citra pun mengangguk mengerti. Tidak akan memaksa Papi agar ia ikut dalam pertemuan keluarga. Pertemuan yang diadakan karena keputusan sepihak Om Wirya yang ingin memasukkan Faras dalam Janitra Group lagi. Yang mana tentunya Papi serta dua omnya yang lain, yang tau apa yang terjadi menentang hal tersebut. Meski pihak luar mengetahui jika Faras keluar sendiri, tentunya keluarga utama anggota Janitra tidak akan membeberkan apa yang sebenarnya terjadi.
Dalam pertemuan empat bersaudara tersebut, tidak ada yang berada di pihak Bahuwirya, tapi tetap saja tidak ada yang berhasil menyudutkan Bahuwirya karena posisinya yang menggantikan Bayanaka, apalagi dia yang paling tertua.
Meski ketiga adiknya menentang keputusannya, dengan alasan semua ini karena keputusan ayah mereka, tetap saja Bahuwirya bersikeras.
"Sebenarnya apa yang membuat Mas Wirya melakukan ini?" tanya Biantara untuk kesekian kalinya. Menanyakan alasan Bahuwirya yang ingin memasukkan Faras kembali ke dalam anggota Janitra. Apalagi ia tau watak kakaknya itu yang mirip dengan sang ayah, tentunya keputusan Bahuwirya yang tiba-tiba tentunya menimbulkan tanda tanya. Bahuwirya yang dikenal keras apalagi terhadap sang anak, tiba-tiba seperti ini seakan-akan begitu membela anaknya yang sudah jelas salah sehingga dikeluarkan dari Janitra.
"Faras anakku, Tara ...."
"Kalau Mas Wirya khawatir, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Mas, kan ada Hansa, dia sangat potensial bisa dijadikan pemimpin Janitra Group," sela Byakta tenang, tapi terselip nada harapan. Usia mereka tak lagi muda, apalagi Bahuwirya, tentunya sekarang harusnya memikirkan tentang pengganti kepemimpinan Janitra Group, apalagi posisi Bahurwirya saat ini tidak memiliki calon untuk menggantikkannya meski memiliki dua putra. Faras yang sudah lama didepak dan Patra yang masih mendekam di penjara. Meski tersisa beberapa bulan Patra bebas, tentunya pria itu tak akan mendapatkan posisi di Janitra Group.
Mendengar ucapan Byakta membuat Bahurwirya mendengus pelan.
"Lho harusnya yang lebih potensial Erik, Mas," sahut Badhrika. Alih-alih mempromosikan anaknya, ia menyebut Erik. Karena Badhrika tidak seperti Byakta yang begitu iri karena kepimpinan Janitra tak jatuh padanya. Badhrika tak memikirkan kekuasan, yang penting ia hidup tenang dan senang bersama istrinya tercinta. Warisan yang diberikan Bayanaka tentunya ia syukuri, apalagi sekarang Sauki mendapat posisi meski tidak setinggi sepupunya yang lain.
Byakta mendelik tajam pada Badhrika yang hanya tersenyum tipis.
"Byakta, Badhrika, biarin Mas bicara empat mata dengan Mas Wirya," sahutan Biantara yang begitu dingin membat Byakta mau tak mau keluar dari ruangan tersebut, sementara Badhrika tentunya dengan senang hati keluar. Lebih baik ia pulang ke rumah dan menghabiskan waktunya bersama Sunny, merencanakan liburan bersama.
Sepeninggalan dua adiknya, Biantara dan Bahuwirya saling tatap dengan pandangan dingin. Sama halnya dengan Badhrika, Biantara juga tak terlalu memikirkan kekuasaan.
Alasannya menentang keputusan Bahuwirya semua ini karena Bayanaka yang berpesan padanya sebelum ayahnya itu meninggal. Jika, ia tak boleh melunak meski Bahuwirya yang berkuasa. Jika ia harus menentang jika Bahuwirya seenaknya menjadi pemimpin Janitra Group. Karena meski Bahuwirya yang memimpin, tapi dia maupun saudara lainnya masih memiliki hak agar Bahuwirya tak semena-mena. Dan karena ia yang paling tua di antara Byakta dan Badhrika, apalagi tau jika Byakta lebih mementingkan egonya, sebaliknya Badhrika yang masa bodoh, maka Biantara yang turun tangan.
"Kamu bisa masukin Citra ke Janitra Group lagi," ujar Bahuwirya.
Biantara memiringkan kepalanya lalu tersenyum sinis. "Putriku tidak dikeluarin dari Janitra. Dia masih menyandang nama Janitra di belakang namanya. Walaupun dia tidak mendapatkan warisan dari Bapak."
"Ya kalau begitu, sebagian aset properti Janitra serahkan ke Citra. Kalau kamu tidak merasa adil karena Mas yang menginginkan Faras kembali bergabung di Janitra Group."
Biantara menggeleng tegas, menatap lurus Bahuwirya. "Tidak usah Mas. Bapak sudah mengatakan, kalau Citra tidak akan mendapat warisan. Saya menghormati Bapak, walaupun Bapak sudah tidak ada. Jadi, saya tidak akan melanggar apa yang pernah Bapak perintahkan!"
Mata Bahuwirya memicing jelas tersinggung dengan perkataan adiknya itu, tapi ia hanya mampu mendengus sinis.
"Kamu tidak bisa melakukan apapun, Tara. Mas yang memimpin sekarang. Kalau kamu khawatir, Faras yang akan menggantikan Mas, kamu tenang saja. Karena tentunya kamu tidak lupa kan apa yang pernah saya bilang, kalau Faras hanya bekerja di Janitra Group dan menyandang nama Janitra lagi ..."
"Bisa saja lima tahun ke depan, perkataan Mas berubah lagi!" sela Biantara. "Saya tau kata-kata Mas Wirya ini hanya penenang. Saya bukannya iri kalau Mas akan menjadikan Faras pengganti Mas. Tapi, ini amanat Bapak. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya menghormati Bapak!"
"Tara!!" bentak Bahuwirya, kenapa adiknya itu sangat keras kepala.
Biantara berdiri menatap tajam Bahuwirya yang masih duduk, sama dengan dirinya membalas tatapannya tak kalah tajam.
"Tarik keputusan Mas Wirya yang ingin membuat Faras kembali menjadi anggota Janitra. Atau kalau Mas tetap memaksa, saya tidak akan segan-segan memberontak. Kepimpinan Mas bisa saja saya ambil alih."
Tawa sinis Bahuwirya terlepas, ia bersandar menatap sinis Biantara. Ia pikir hanya adiknya, Byakta yang memiliki ambisi untuk menggulingkannya, ternyata Biantara yang selama ini bersikap acuh tak acuh, memiliki ambisi itu juga. "Kamu bisa apa, Tara. Jangan berani menganacam Mas."
"Saya bisa melukai anak, Mas," ujar Biantara yang pelan, tapi cukup tajam.
Bahuwirya tertawa, seakan ancaman Biantara hanya lelucoan.
"Anak Mas yang tinggal di Limerick." Biantara menyeringai licik apalagi saat melihat tubuh Bahuwirya menegang.
"Kamu, ..." desis Bahuwirya menatap marah Biantara yang tersenyum sinis.
"Seperti yang saya katakan sebelumnya, tarik keputusan Mas atau Mas akan tau apa yang terjadi." Setelah mengatakan itu Biantara keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Bahuwirya yang mengerang marah.
Kedua tangan Bahuwirya terkepal kuat, matanya memicing marah. Ia meraih cangkir lalu melemparnya hingga pecahannya berserakan di lantai.
Dadanya kembang kempis karena amarah yang menguasainya.
Kini tatapannya berkilat bengis. Segera merencanakan sesuatu.
Sebelum Biantara bertindak, ia yang akan bertindak lebih dulu.
Biantara mengancamnya menggunakan putrinya, ia pun bisa melakukan hal itu juga.
______________________
May 30 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
I HATE LOVE
ChickLit|OHMYSERIES-4| Dua kali jatuh cinta Dua kali patah hati Tidak perlu menjelaskan alasannya kenapa ia membenci perasaan yang disebut 'cinta'... ▪︎May, Copyright ©2022 NanasManis
