37 | MABUK

6K 728 27
                                    

Keesokan harinya Citra pamit untuk pulang, meski acara liburan tersebut belum selesai dan Alaia merengek melarangnya untuk pulang. Dengan alasan ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Padahal, ia hanya ingin sendiri.

Pagi-pagi bangun agar menghindari Rafan. Ia yang ingin berkendara sendiri harus mengalah saat Arga memaksa mengantarnya pulang. Meski berusaha keras melarang Arga, tapi pria itu tetap ngotot dan beralasan ingin meminjam mobilnya.

Akhirnya Citra mengalah. Sisa perjalanan pulang ke rumahnya diisi keheningan. Beberapa kali menangkap gelagat Arga yang ingin membuka suara, tapi pria itu terlihat ragu. Sudah pasti Arga ingin membahas tentang Rafan. Mungkin pria itu sudah tau. Tentunya bukan dari Nora, tapi Rafan sendiri.

"Thank's Ga. Sebelum pulang ke Jakarta, kamu mampir ke rumah, ya?" ujar Citra setelah Arga menurunkan kopernya dari mobil. Keduanya berdiri berhadapan.

Arga mengangguk, ia menyerahkan koper Citra. Keduanya bertatapan. Arga menghela nafas pelan. "Kamu sama Rafan ada masalah apa?"

"Gak usah basa basi. Pasti Rafan udah ngasih tau kamu, kan?" ujar Citra diiringi helaan nafas kasar.

Arga menggaruk kepalanya lalu mengangguk. "Kamu kenapa nolak? Aku kira hubungan kalian dalam beberapa bulan ini sangat baik."

"Kita cuma temen." Citra melengos, enggan menatap Arga.

"Tapi Rafan cinta sama kamu, Cit."

"Aku gak percaya cinta! I hate love and I will never try to commit again!" ujar Citra tegas.

Arga menunduk. "Sorry."

Dan Citra tersentak lalu menggeleng. "No, it's not your fault."

"Terus kenapa? Jangan nyiksa diri kamu dong." Arga kembali menatap Citra yang diam. "Perasaanmu ke Rafan gimana?" Dan Citra semakin diam. Lalu membuang muka.

"Kamu tau Ga, Rafan itu seperti apa. Dia pemain, gak pernah serius, gak pernah berkomitmen, terus tiba-tiba ngajak aku nikah seakan-akan pernikahan itu kayak main-main. Apalagi kita baru dekat dan saling mengenal beberapa bulan ini."

"Kamu cuma ragu, bukan gak percaya lagi apa itu cinta dan membenci perasaan itu. Dan kamu takut untuk merasakannya lagi," ujar Arga pelan. Arga mengulurkan kedua tangannya dan memegang lengan Citra hingga wanita itu kembali menatapnya. "Apa yang kamu raguin? Apa yang kamu takutin? Kisah cintamu yang bakal kayak dulu lagi?" Menatap teduh wanita tersebut. Arga tau, yang membuat Citra seperti ini, dirinya juga. Maka, Arga akan membantu Rafan untuk meyakinkan Citra karena ia tau jika Citra pun memiliki perasaan yang sama terhadap Rafan. Tidak mungkin Citra dengan mudah membiarkan Rafan berada di sisinya selama beberapa bulan ini jika wanita itu tidak memiliki perasaan terhadap Rafan.

Hanya saja Citra berusaha menepisnya karena ragu dan juga takut. Takut jika apa yang terjadi di masa lalu kembali menimpanya.

"Buang semua pikiran negatifmu itu. Gak melulu kamu bakal tersakiti karena cinta. Dan apa yang bikin ragu kamu pada Rafan? Karena selama ini dia gak pernah serius dengan perempuan? Takut kalau dia juga gak serius sama kamu? Apa kamu lupa siapa yang selalu menemani kamu beberapa bulan ini? Yang bikin kamu nyaman? Yang bikin kamu ketawa? Terus apa kamu lupa waktu gedungmu kebakaran dan kamu masuk rumah sakit, Rafan kecelakaan karena terlalu khawatir sama kamu? Secinta itu dia sama kamu. Dia khawatir banget sampai gak peduli dengan keselamatan dirinya."

Arga menurunkan tangannya, ia menghela nafas kasar karena Citra hanya diam. Tangannya kepala terulur untuk menepuk puncak kepala Citra. "Pikirin baik-baik ya. Tanya hati kamu juga, bukan cuma pikiran kamu."

•••

Citra mengukir senyum pada Kellen yang mengangkat satu alisnya, tidak lupa tersenyum juga. Seperti tau apa yang akan Citra pesan, pria itu langsung membuatnya. Satu gelas martini.

I HATE LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang