Citra melenguh pelan, menggeliat kemudian membuka matanya. Pandangannya menangkap tirai berwarna burgundy dan tentu saja ia tidak perlu bertanya dua kali di mana sekarang berada.
Tentunya ia berada di dalam kamarnya, dengan posisi tubuhnya tengkurap yang ditutupi selimut tebal.
Merasakan bukan hanya dirinya di atas kasur king size tersebut, ia menolehkan kepalanya ke sisi lain hingga menemukan Rafan yang bertelanjang dada, bersandar di kepala ranjang sedang fokus pada layar ponselnya.
Pria itu menyadari jika ditatap hingga membalas tatapannya kemudian tersenyum manis. "Pagi cantik!"
Citra segera membuang pandangannya, kembali memposisikan kepalanya ke arah jendela. Merasa malu.
Malu karena kejadian semalam.
Memang, ini bukan kali pertama dirinya dan Rafan menghabiskan malam yang panjang, tapi ini kali pertama ia melakukan hal tersebut di rumahnya ini. Dan sekali lagi, ini kali petamanya melakukan 'hal itu' beberapa kali dengan pria yang sama.
Citra bagaikan wanita yang kurang belaian tadi malam, dan itulah yang membuatnya malu hingga menarik selimut untuk menutupi kepalanya, tidak merubah posisinya sama sekali.
"Hei." Suara rendah Rafan terdengar, pria itu menurunkan selimut hingga pinggangnya. Sudah pasti punggung telanjangnya terlihat.
Rafan beringsut mendekat hingga merasakan kulit tubuh Rafan yang terasa dingin, akibat terkena pendingin ruangan.
Posisi Rafan miring ke arah Citra, jari-jarinya menari-nari di atas permukaan punggung Citra. Ia menunuk hingga bibirnya mengecup tengkuk lalu pundak Citra.
"Rafan, ..." tegur Citra pelan karena tingkah pria itu yang sepertinya ingin menyulutkan gairah.
"Yes Babe." Rafan tidak mengacuhkan teguran Citra, ia bahkan menjilat punggung Citra membuat wanita itu menggeliat geli.
"Rafan stop!" pekik Citra tertahan saat Rafan semakin menurunkan selimut lalu meremas bokongnya, atau lebih tepatnya mencengkeramnya.
"Oh udah berani manggil aku 'Rafan'? Semalam kamu masih panggil aku 'Kaysan'." Rafan tertawa pelan seraya menghentikan aksinya, ia kini terlentang seraya menopang kepalanya menggunakan lengannya yang terlipat.
Citra beringsut duduk, tidak peduli jika ia telanjang dan buah dadanya terpampang polos.
Toh mereka telah melihat tubuh telanjang satu sama lain.
"So cute," ujar Rafan gemas dan kurang ajar menjulurkan tangan kanannya untuk mencubit puncak buah dada Citra.
"Kaysan!" Citra memukul Rafan menggunakan bantal, pria itu tertawa lalu bangun dan segera menghentikannya. Mengunci kedua tangannya dan menjatuhkan tubuhnya hingga Citra terlentang. Posisi Rafan menindih Citra.
"Babe, kamu harus konsisten dong kalau mau manggil aku, 'Rafan' or 'Kaysan' dan aku akan konsisten manggil kamu 'Citra'."
"Oke Rafan," ujar Citra malas, ia berusaha bangun dan melepaskan pegangan Rafan di pergelangan tangannya, tapi pria itu mengunci pergerakannya. "Rafan," desisnya kesal.
Rafan tersenyum geli, lalu menunduk kemudian mempertemukan bibir mereka.
Citra pun terbuai. Rasa kesalnya menguap. Bahkan saat Rafan melepaskan kuncian di pergelangan tangannya, kedua lengannya mulai terulur ke atas untuk melingkar di leher Rafan. Tangannya dengan lembut mengusap lembut rambut Rafan.
Ciuman pria itu turun hingga ke lehernya, tidak protes saat Rafan membuat tanda di sana karena semalam pria itu sudah melakukannya, percuma saja melarangnya. Lalu Rafan semakin turun hingga ke dadanya. Menikmati buah dada yang berukuran besar tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
I HATE LOVE
ChickLit|OHMYSERIES-4| Dua kali jatuh cinta Dua kali patah hati Tidak perlu menjelaskan alasannya kenapa ia membenci perasaan yang disebut 'cinta'... ▪︎May, Copyright ©2022 NanasManis
