38 | MEMOHON...

7.3K 776 35
                                        

"Pagi Bu Kenisha!"

Langkah Citra berhenti sejenak menatap Gaia yang tersenyum cerah menatapnya.

"Gretha mana?"

"Ada di lantai bawah, Bu. Lagi beli kopi."

"Ya udah. Nanti kalau dia dateng, kalian berdua masuk ke ruangan gue." Gaia mengangguk paham tanpa melunturkan senyumnya.

Tidak berapa lama setelah Citra masuk, Gretha telah kembali membuat Gaia memekik tertahan.

"Bu Kenisha sudah datang Kak!"

"Oh ya?" Gretha ikut heboh, menaruh kopi di mejanya. "Terus gimana? Dia keliatan happy, gak?"

Gaia mengerutkan keningnya mencoba mengingat ekspresi bosnya tadi. "Kayak biasanya sih." Lalu ia kembali tersenyum. "Kita beneran dapet tas kan, Kak? Walaupun bekas, gak pa-pa. Yang penting asli."

Gretha menyengir kaku, dari jawaban Gaia tentang bos mereka, sepertinya rencana mereka berdua gagal.

Berawal dari mengantar Citra pulang ke rumah, wanita itu yang meracau dan menangis menyebut-nyebut nama Rafan, memaki pria itu yang membuat mereka berdua menduga jika dua pasang anak manusia itu sedang bertengkar--karena mereka mengira keduanya pacaran. Akhirnya Gretha pun mengirim pesan pada Rafan, bahkan mengirim video Citra melalui direct message instagram dan tidak berapa lama pria itu tiba di rumah dengan ekspresi cemas luar biasa yang membuat dugaan mereka semakin kuat jika dua orang itu pacaran.

Dari sana ia mengatakan pada Gaia jika Citra pasti menghadiakan mereka sebuah tas. Meski tidak baru, tapi koleksi tas branded Citra sangat ori dan bersetifikat. Membuat wanita muda itu sangat bersemangat menyuruhnya agar memberitahu Rafan.

Keduanya masuk. Gaia yang tersenyum manis sementara Gretha tersenyum kaku. Sepuluh tahun bekerja dengan Citra, tentunya Gretha tau sikap, kebiasaan bahkan suasana hati bosnya itu meski dilihat lewat ekspresi.

"Pagi Bu Kenisha," sapa Gretha.

Citra menatap dua sekretarisnya secara bergantian, Gaia yang seperti biasa dialiri semangat pagi sementara Gretha yang terlihat ketar ketir. Ia bersidekap dan tatapannya fokus ke Gretha.

"Lo udah gak mau kerja, Tha?"

"Eh gak Bu. Saya masih mau kerja!" jawab Gretha langsung dan panik.

Citra menghela nafas pelan. "Terus kenapa lo hubungin Rafan nyuruh dia ke rumah gue?" ujar Citra kesal. Apalagi mengingat kejadian pagi tadi, ia yang baru sadar setelah demamnya turun. Merasa malu karena merengek manja pada Rafan, bahkan memeluk pria itu ketika tidur. 

"Soalnya ... Bu Kenisha waktu mabuk nyari-nyari Chef Kaysan," jelas Gretha dan menyengir saat melihat mata Citra yang melotot.

"Bener Bu," sahut Gaia memhenarkan kemudian memperlihatkan video pada Citra.

Citra melongo menatap videonya yang meringkuk, menangis dan mencari Rafan. Kemudian mendongak menatap dua sekretarisnya.

"Terus video ini kalian kirim ke Rafan?!" tanyanya memekik.

Gretha menggeleng, tapi Gaia mengangguk. Tentu saja Citra lebih percaya Gaia daripada Gretha.

Citra mengerang frustasi, habis sudah harga dirinya. Ia sangat malu. Pantas saja Rafan hanya senyum-senyum tidak jelas saat ia mengusir pria itu dan tak kunjung pergi, bahkan mengantarnya ke kantor.

"Sana kalian keluar." Citra memijat kepalanya dan mengibaskan tangannya yang lain menyuruh dua sekretarisnya itu keluar.

"Kita gak dapat ta,  Bu?" celetukan Gaia membuat Gretha melotot dan Citra memusatkan tatapan pada wanita muda itu.

I HATE LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang