29 | MENAMPIK TUDUHAN

5.9K 764 24
                                        

Rafan memasuki area kantin rumah sakit, tatapannya mencari sosok yang menunggunya dan menemukannya duduk di bangku pojok agak jauh dari kerumunan orang-orang yang makan di sana.

Sebelum menghampiri pria itu, ia ke arah vending machine untuk membeli kopi kaleng kemudian melangkah hingga kini berada di hadapan pria itu yang melamun dengan tatapan tertuju pada cangkir di hadapannya.

Rafan menarik kursi hingga pria itu tersentak. Terbuyar dari lamunannya dan kini tatapan mereka bertemu. Rafan yang tatapannya datar sementara Faras terlihat sedih.

"Citra gimana?" tanya Faras. Beberapa menit yang lalu pria di hadapannya tersebut menyuruhnya keluar dari ruangan Citra. Ia pun keluar dan berdiri di depan pintu yang tertutup. Mendengarkan Citra yang menangis dan mengadu pada Rafan. Tidak berapa lama dokter serta suster datang sehingga ia menghindar dari pintu. Kini duduk di kursi besi.

Rafan keluar dari ruangan tersebut membuatnya berdiri. Hendak menanyakan keadaan Citra, tapi ia didahului bicara, Rafan menyuruhnya untuk menunggu di kantin karena pria itu ingin bicara empat mata.

"Citra sudah ditangani. Sekarang dia tidur."

Faras mengangguk pelan. Hendak bicara lagi, tapi ponselnya berdering. Segera ia merogoh saku celananya kemudian menjawab panggilan tersebut. "Iya Nak."

Rafan mengamati Faras yang suaranya begitu lembut menyahut. "Kamu langsung order aja. Papa lagi di luar." Faras kembali diam mendengarkan suara di seberang sana. "Papa ada urusan sebentar. Setelah makan, kamu langsung tidur, ya?"

Setelah itu Faras menaruh ponselnya di atas meja. Ia kembali menatap Rafan. "Apa yang dituduhkan Citra, itu semua gak bener," ujar Faras.

Ekspresi Rafan masih sama. "Gak ada maling yang ngaku."

Faras menghela nafas kasar, kemudian menyandarkan punggung, menatap lurus Rafan. "Saya gak mungkin lukain orang yang saya sayang."

"Terus kenapa kamu ada di sini?"

"Mau jenguk Citra." Faras menyadari ekspresi tak percaya Rafan, ia pun menambahkan, "Saya menginap di Lilium Hotel's, jadi saya tau kejadian yang terjadi sore tadi."

"Kamu ngapain di Bali?"

"Saya ajak anak saya liburan."

Rafan pun diam, mengamati Faras yang berusaha meyakinkannya. "Kata Citra, kamu mau cekik lehernya."

"Itu gak bener. Saya cuma mau pindahkan helai rambutnya."

•••

Erik menghela nafas kasar melihat kondisi adiknya. Meski tak parah seperti saat kecelakaan mobil, tapi tetap saja nyawa Citra hampir melayang. Keduanya tangannya terkepal kuat. Rasanya ingin menghajar habis-habisan orang yang membuat adiknya seperti ini. Apakah orang itu tak puas dengan mengirim teror pada Citra?

Apa karena Citra terlihat tidak peduli dengan teror tersebut makanya orang itu langsung mengancam nyawa Citra?

Kedua mata Citra terbuka dan menatap Erik yang mengulas senyum tipis. "Mas kapan datang?" Erik membantu Citra yang ingin duduk, ia pun duduk di kursi yang di sediakan.

"Tadi pagi baru sampai Bali, dan di sini baru aja sampai."

Citra meliarkan pandangannya, tau apa yang Citra cari, Erik pun bicara lagi. "Rafan keluar beli makanan."

Citra hanya mengangguk, minta untuk diambilkan air dan Erik langsung memberikannya.

"Papi dan Mami?" tanya Citra usai minum.

"Kamu tenang aja. Mas larang mereka ke sini dan nyuruh mereka gak usah khawatir. Kamu baik-baik aja, kan?"

Citra mengangguk pelan. Ia mengulas senyum kecil. Rasanya agak menggelikan dengan sikap Erik yang begitu perhatian padanya dan tatapan lembut kakaknya itu. Karena selama ini Erik selalu menjahilinya meski mereka telah berusia dewasa dan Erik yang telah memiliki anak.

I HATE LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang